gam 10PENGALAMAN adalah guru paling berharga. Itu pula yang dirasakan para mantan pengguna narkoba dan pengidap ODHA (sebutan untuk pengidap HIV/AIDS. Agar tidak terjadi pada orang lain, mereka mengampanyekan gerakan antinarkoba dan pemenuhan hak rehabilitasi sosial bagi para korban napza.

Kampanye di sekitar monumen Bambu Runcing kemarin diikuti anggota kelompok Jaringan Korban Napza Jatim dan Persaudaraan Korban Napza Indonesia dari Surabaya , Sidoarjo, Pasuruan, Banyuwangi, Madiun, dan Malang . Mereka membagikan selebaran yang berisi tuntutan rehabilitasi dan penolakan diskriminasi terhadap para mantan pengguna narkoba.

"Banyak pengguna narkoba yang lebih tepat disebut korban. Yang semacam itu seharusnya direhabilitasi hingga sembuh, bukan ditangkap dan dipenjara," kata Hari Cahyono, mantan pengguna narkoba.

Dia menambahkan, sistem hukum yang berlaku di negara ini justru sangat tidak adil bagi korban narkoba. Penangkapan oleh polisi terkadang tidak menyembuhkan, malah memperparah kondisi sebelumnya. Sebab, korban yang ditangkap ditahan di tempat yang sama dengan para pengedar.

"Kalau pengedar memang harus dihukum berat. Tapi kalau pengguna yang sebenarnya adalah korban, harus diperlakukan berbeda," katanya.

Oleh karena itu, Hari meminta para penegak keadilan bersikap jeli dalam menentukan apakah tersangka narkoba itu seorang pengedar atau korban. "Orang yang mengonsumsi narkoba itu berarti mengalami masalah. Jadi, sebaiknya masalah tersebut yang harus dicari solusinya, Bukan menambah masalah baru lagi," tambahnya.

Mereka juga meminta para mantan pengguna narkoba tidak diperlakukan secara diskriminatif. Menurut Hari, alangkah baiknya bila masyarakat justru merangkul para pengguna yang ingin bertobat. "Intinya penyadaran. Anggap saja mereka khilaf. Jika diberi kesempatan, saya yakin mereka mau berubah," tambahnya.

sumber : jawa pos

0 comments :

Posting Komentar