gam 10Penggalian kebutuhan dan permasalahan kelompok simpul jaringan korban napza komunitas mojokerto yang di lakukan pada hari selasa 16 september 2008 yang di gawangi oleh indra - koordinator kelompok simpul Mojokerto. Dalam mengawali pertemuan dengan divisi – divisi EJA, rekan-rekan anggota jaringan memperkenalkan diri dengan diikuti latar belakang ketertarikan untuk terlibat dalam wadah perjuangan korban napza jawa timur.

Dalam pertemuan yang di lakukan selama setengah hari, permasalahan-permasalahan yang di hadapi para anggota tidak jauh berbeda dengan yang di hadapi oleh korban napza pada umumnya di daerah lain, termasuk di Jawa Timur. Namun, hal yang perlu di garis bawahi sering di hadapi oleh komunitas di mojokerto adalah sering mendapati perlakuan diskriminasi oleh masyarakat. Kasus-kasus yang sering di terima adalah penggeluaran dari pihak sekolah maupun kampus ketika ketahuan menggunakan napza jenis apapun, begitu juga di ranah dunia kerja yang notabene wilayah mojokerto juga sebagai kota industri.


“Penerimaan-penerimaan ruang public di mojokerto yang sarat dengan stigma dan diskriminasi bagi korban napza, bisa jadi di sebabkan wilayah mojokerto yang di anggap sebagai basis-basis dari wilayah hijau” Ujar Indra, yang di setujui oleh rekan-rekannya.
Oleh karena itu, sembari menyemangati; “ia pun berpesan kepada semua rekan-rekan di mojokerto untuk tetap bersatu dan berjuang melawan ketidakadilan ini bagi korban napza”.

Dalam proses diskusi, yang di fasilitasi oleh Intan Darmawanti, berawal mencoba mengexplor permasalahan-permasalahan yang terjadi, lalu saling mengkorelasikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang harus di penuhi, dalam hal ini adalah hak-hak dasar yang di pandang sebagai landasan dalam memperjuangkan ketidakadilan.Setelah itu, dilanjutkan dengan proses menganalisa antara permasalahan dan kebutuhan untuk dapat menentukan atau merencanakan suatu aksi maupun tindakan. Pembongkaran-pembongkaran paradigma harus dapat dilakukan antar masing-masing anggota untuk mendapat pandangan dan prespektif yang sama di isi kepala dalam melihat suatu permasalahan. “Jika hal ini tidak di lakukan, maka dapat mempengaruhi perjalanan pergerakan” katanya

Disisi lain, menurut data nasional, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa pada satu tahun terakhir ini naik 5,6 persen dari tahun 2007. Pada 2007, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa mencapai 1,1 juta orang atau hampir 30 persen dari total pengguna narkoba yang ada di Indonesia.
Jika hal ini di kaitkan dengan permasalah yang terjadi di teman-teman komunitas mojokerto, maka bisa disimpulkan meningkatnya angka pembodohan – angka kemiskinan – angka pengganguran – angka kriminalitas dapat berawal dari peraturan dan ketentuan pihak-pihak sekolah/universitas serta lapangan pekerjaan yang hanya mempunyai satu aturan mutlak yang tidak bisa di negosiasikan ketika melihat permasalahan napza adalah permasalahan yang kompleks sehingga aturan tersebut tidak berspektif korban, akan tetapi melihat pengguna napza adalah criminal sehingga aturan yang terjadi pun mengharuskan korban napza harus keluar ataupun di keluarkan dari intitusi tersebut.

Dari keseluruhan diskusi, kelompok simpul di mojokerto mencoba melakukan perencanaan untuk dapat memperkuat kelompok dengan penguatan-penguatan basis dan serta melakukan aliansi – aliansi yang harus dilakukan dengan segera untuk dapat memperkuat jejaring kelompok simpul, yaitu dengan LSM Peduli HIV/AIDS, Kelompok BEM Mahasiswa dan Jaringan Buruh. Di samping itu, kelompok simpul mencoba melakukan kegiatan-kegiatan advokasi baik yang di lakukan dengan pendekatan personal maupun secara formal kepada pihak-pihak potensial yang berkompeten.


0 comments :

Posting Komentar