Surabaya - Surya-Para mantan pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza) di Surabaya mulai menuntut pemenuhan hak kesehatan dan penegakan keadilan. Tuntutan itu terungkap dalam diskusi di kantor East Java Action (EJA), organisasi mantan pengguna napza, di Surabaya, Senin (18/7).
Dalam diskusi menghadirkan Nicholas Barlette dari International Harm Reduction Department (IHRD) terungkap bahwa masih belum ada hakim yang memvonis rehabilitasi terhadap para pengguna napza.

Koordinator EJA Rudhy Wedasmara menyatakan, vonis rehabilitasi sebenarnya sudah diatur dalam Pasal 47 Ayat 1 UU 22/1997 tentang Narkotika.
Namun, dalam praktik, para pengguna napza banyak divonis hukuman penjara. Padahal, terali besi akan semakin membuatnya lihai berbisnis narkoba. Bahkan, tak jarang mereka akhirnya menjadi pengedar.

Di bidang kesehatan, mereka juga didiskriminasi. Tak mudah mendapatkan askeskin. Akses pelayanan dan kebutuhan obat juga terbatas. Terapi subtitusi metadon, misalnya, hanya ada di Surabaya, padahal pengguna putaw sudah menyebar di seluruh Jatim.


Menurut Rudhy alias Sinyo, pemerintah perlu serius memperhatikan kasus narkoba ini. Sebab, pengguna napza terus meningkat setiap tahun. Saat ini saja ada sekitar 4.400 pengguna khusus suntik di Surabaya. Ini belum termasuk pemakai SS, ineks, dan ganja.

Dari pemetaan EJA, narkoba suntik (putaw) paling banyak di wilayah Bagong (Pucang), Stasiun Semut, dan Peneleh. Sedangkan sabu-sabu (SS) di Kaliasin, ineks di Petemon, dan Ganja di daerah Bratang.

Ancaman napza itulah yang mendorong Doni (alias Coy), 32 , dan Sinyo merintis pembentukan EJA pada Maret 2007. Lembaga yang digawangi 17 mantan pengguna ini sekarang sudah menyebar di Surabaya, Sidoarjo, Madiun, Pasuruan, Malang, dan Banyuwangi.

Di Surabaya, EJA yang berkantor di Jl Bratang Binangun V B/7 ini punya 50 anggota khusus. Mereka dibagi dalam lima kelompok yang masing-masing berbasis di Ketintang, Karah, Kupang, Rangkah dan Ciliwung.
“Memperjuangkan keadilan dan kesamaan hak, kami akan turun ke jalan, hearing dengan DPRD, Dinkes, Kejati, Polda atau PN dan PT,” ungkap Sinyo.

Hindari Napza
Napza tak hanya merusak kondisi fisik seseorang, melainkan juga menghancurkan mental dan kerohanian korban. Ini diakui Doni alias Coy saat sharing pengalaman kepada Surya.
Pria yang baru menikah ini terperosok ke dunia napza begitu lulus SMA 1994. “Semua jenis narkoba pernah saya coba, tapi yang paling lama putaw,” ungkapnya.

Delapan tahun bernarkoba ria membuat Coy menjadi pencuri ulung. Pernah ia menggadaikan magic jar yang masih ada nasinya. “Setiap hari selalu berpikir, besok curi apa lagi untuk beli narkoba,” katanya.

Kebohongan terbesar adalah mengaku masih kuliah di PTS di Surabaya. Padahal, sejak semester dua sudah di-DO. Uang kuliah diembat untuk beli narkoba.

Setiap semester ia membuat transkrip nilai palsu. Ia tak bisa mengelak ketika tidak bisa memberi alasan kenapa tidak kunjung lulus. “Sejak itu, tidak ada kepercayaan lagi dari keluarga,” katanya.
Setelah lolos dari narkoba, Coy masih sulit mendapatkan kepercayaan keluarga.

Bahkan, Lebaran lalu papanya juga belum mempercayainya. Kini, Coy yang juga Koordinator Surabaya Positive Community (Support) mengaku perlu untuk berbagi pengalaman bagaimana bisa melepaskan diri dari napza. uus

selengkapnya

0 comments :

Posting Komentar