Press Release

Segera Naik Cetak Di HATI Pembuat Dan Pelaksana Kebijakan


Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 63, yang tiap tahun selalu disambut dengan suka cita oleh seluruh warga negara Indonesia . Namun, kami jaringan korban napza Jawa Timur memperingati hari tersebut dengan penuh duka cita akan keprihatinan terkait kemerdekaan kami yang selama ini belum terpenuhi oleh Negara.


Semenjak 10 tahun yang lalu, bangsa Indonesia menganut kebijakan War On Drug yang di hembuskan melalui kepentingan tertentu oleh Negara Adi Kuasa untuk dapat mengaplikasikan gerakan internasional dalam memberantas peredaraan gelap dan penyalahgunaan napza dengan tertuang sejak di keluarkannya UU RI No 22 tahun 97 Tentang Narkotika, akan tetapi penerapan kebijakan tersebut sudah banyak menuai kegagalan dalam memberantas peredaran napza gelap, kenyataan tersebut dialami oleh bangsa bangsa Indonesia dengan indikator meningkatnya jumlah kasus setiap tahunnya, yaitu dengan semakin maraknya peredaraan napza gelap di jalanan dan serta menempatkan penyalahguna napza sebagai pelaku kriminal sehingga melahirkan bentuk-bentuk stigmatisasi dan diskriminasi serta tindakan pelangaran-pelangar an HAM yang terjadi pada korban napza


Dari penerapan undang-undang tersebut, pada akhirnya terjadi ledakan peningkatan jumlah tahanan dan narapidana di penjara-penjara di indonesia . Dari data kasus peningkatan penghuni penjara berjalan seiring dengan peningkatan kasus penyalahgunaan napza. Tahun 2003, jumlah penghuni penjara 71.587 orang (kapasitas 64.000 orang). Pada 2004, penghuni naik menjadi sekitar 86.000 orang (kapasitas 66.000 orang). Pada 2005, penghuni penjara menjadi 97.000 orang (kapasitas 68.000 orang). Pada 2006, penghuni mencapai 116.000 orang (kapasitas 70.000 orang). Pada Januari 2007, penghuni sudah naik menjadi 118.453 orang. Dari jumlah itu, sekitar 30 persen atau sekitar 32.000 napi terlibat kasus napza. Dari jumlah tersebut, sekitar 72,5 persen atau 23.200 napi merupakan pencandu/pengguna napza yang dalam hal ini adalah sebagai korban napza.


Dari data di atas, sudah sangat jelas negara tidak mampu memberikan konstribusi yang besar dalam permasalahan napza dengan kebijakannya, kemampuan negara sudah dapat di ukur dalam pemberantasan peredaran napza gelap ini, yang dapat di lakukan negara hanya dapat melakukan penangkapan pada penyalahguna napza. Dan hal ini, semakin membuat kami para korban napza sering kali berakhir kematian di penjara, yang tidak secara langsung sama saja dengan pembunuhan massal yang di lakukan oleh negara, karena sudah jelas negara sudah sukses memenjarakan kelompok kami dengan kebijakannya yang di buat tidak bersperspektif korban. Seharusnya, negara harus dapat melihat dampak buruk pemenjaraan bagi korban napza, terkait dampak dari aspek kesehatan, sosial, ekonomi dan budaya. Karena sudah jelas korban napza adalah orang yang mempunyai permasalahan ketergantungan dan satu-satunya solusi yang dapat di lakukan adalah memberikan pengobatan dan perawatan dengan menerapkan vonis rehabilitasi dalam permasalahan hukum.

Oleh karena itu, kami Jaringan Korban Napza Jawa Timur – East Java Action (EJA) dan Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) wilayah Jawa Timur yang terwakili dari 6 kota yaitu Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Malang, Madiun dan Banyuwangi menyatakan sikap yang di tujukan kepada pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan dalam rangkain kegiatan yang kami lakukan dengan melakukan Aksi Damai di Monumen Perjuangan Bambu Runcing Surabaya pada hari jumat 15 Agustus 2008 jam 15.00 WIB ;

1. TEGAKKAN KEADILAN dengan menerapkan VONIS REHABILITASI sesuai dengan pasal 47 ayat 1, Bab VII, UU RI No 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika

2. TERBITKAN SEGERA aturan teknis pemerintahan oleh Menteri Sosial dan Menteri Kesehatan untuk PENERAPAN REHABILITASI SOSIAL DAN REHABILITASI MEDIS sesuai dengan pasal 51 ayat 1 dan 2, Bab VII, UU RI No 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika yang di tujukan untuk para aparat penegak hukum, khususnya HAKIM PERADILAN

3. HAPUSKAN segala bentuk PELANGARAN-PELANGAR AN HAM yang terjadi pada korban Napza

4. PENUHI KEBUTUHAN korban napza dalam menerima HAK ATAS KESEHATAN



Surabaya, 15 Agustus 2008
Jaringan Korban Napza Jawa Timur – East Java Action (EJA)
Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) Wilayah Jawa Timur

0 comments :

Posting Komentar