gam 10
SEDIAKAN ARV SEKARANG JUGA !

Kelangkaan obat Anti Retro Viral (ARV) di Indonesia saat ini telah
sampai tahap yang mengkhawatirkan. Di beberapa daerah, misalnya
Yogyakarta, Lampung, Makasar, bahkan Jakarta, odha yang sedang
mengkonsumsi ARV secara rutin, hanya mendapat jatah obat untuk
seminggu. Padahal ODHA tersebut harus selalu mengkonsumsi obat
tersebut seumur hidup secara teratur. Bila putus obat, maka akan
terjadi resistensi obat yang berakibat lebih mahalnya biaya perawatan
dan lebih meningkatkan angka kematian pasien HIV/AIDS.
Manfaat obat ARV amat besar yaitu selain dapat menurunkan angka
kesakitan dan kematian, pasien menjadi sehat, jarang dirawat di rumah
sakit dan bisa bekerja secara normal (produktif). Maka pengadaan ARV
bukan pemborosan, melainkan investasi dan efisiensi biaya
penanggulangan masalah HIV/AIDS.



Selain pengobatan, ARV pun merupakan salah satu upaya pencegahan
penularan penyakit bila dilakukan secara komprehensif bersama dengan
upaya-upaya pencegahan lain.

Melihat hal itu, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia,
Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes., menyerukan agar Pemerintah mengadakan
obat sekarang juga. Dasar pemikirannya menurut beliau adalah :

- Harus mengutamakan keselamatan pasien (ODHA)
- Ketersediaan obat tidak boleh putus, karena putus obat berarti nyawa
pasien jadi taruhannya.

Pengadaan ARV merupakan tanggung jawab bersama yang harus diutamakan.
Untuk itu harus dilakukan dengan manajemen pengadaan obat ARV yang
baik, transparan dan berkesinambungan. Pemerintah perlu memobilisasi
berbagai sumber dana yang ada, baik dari dana Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, dana donor dan dana-dana dari masyarakat, termasuk
asuransi kesehatan.

Jakarta, 28 oktober 2008
Pengurus Besar IDI

(sumber; Mailing list AIDS INA Tanggal 28 Oktober 2008)

0 comments :

Posting Komentar