gam 10Dari Bandung Antara memberitakan Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jawa Barat akan merintis pemberlakuan sanksi kerja sosial bagi korban narkoba di daerahnya.
Sanksi kerja sosial perlu dicoba diterapkan, di luar negeri ketahuan mabuk saja langsung kena sanksi itu kata Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jawa Barat, H Yusuf Macan Effendi (Dede Yusuf) di sela-sela Hari Anti Narkoba Internasional di Bandung, Kamis (26/6).
Sanksi kerja sosial itu akan dikaji dulu dan disesuaikan dengan kondisi yang ada, termasuk mengklasifikasikan kategori korban narkoba dengan pengedar. Siapapun yang terbukti mengkonsumsi narkoba harus menjalani sanksi kerja sosial itu sehingga memberikan pelajaran dan efek jera kepada penggunanya. Bentuknya bisa dengan menyapu jalan umum, membersihkan trotoar dan lainnya, katanya.


Dede menyebutkan kasus narkoba di Jawa Barat masih signifikan, namun BNP Jabar bersama masyarakat dan stakeholder lainnya akan berupaya melakukan langkah pencegahan secara maksimal dan menyeluruh.
Dede menargetkan Jawa Barat bisa bebas Narkoba pada 2015. Ada empat strategi yang akan difokuskan dalam penanganan narkoba di Jabar yakni antisipatif, preventif dan refresif, katanya.

Hari Anti Narkotika Internasional tingkat Jawa Barat dipusatkan di Lapangan Gasibu Kota Bandung dan dihadiri oleh sekitar 1.000 pelajar SMP dan SMA se-kota Bandung.
Hadir pada kesempatan itu Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan, Kapolda Jabar Irjen (Pol) Drs Susno Duadji, Ketua DPRD Jabar HAM Ruslan serta Muspida Jabar lainnya.
Gubernur Jabar, H Ahmad Heryawan mengingatkan bahwa peredaran narkotika di Indonesia tidak hanya alasan ekonomi namun sudah mengarah politis yakni melakukan pembodohan generasi bangsa Indonesia.

Buktinya peredaran narkoba tak hanya di kalangan remaja dan dewasa, tapi kini sudah muncul kasus narkoba di anak-anak SD. Saya yakin ada fihak yang menginginkan terjadinya lost generation di Indonesia, kata Heryawan.
Peringatan Hari Anti Narkotika di Jabar itu diwarnai dengan dengan konvoi motor besar dan pengendara dari beberapa komunitas sepeda motor dengan berkeliling di beberapa jalur jalan raya di kota itu.

Tiap tahun 15.000 meninggal
Di Indonesia setiap tahun sekitar 15.000 orang meninggal karena menggunakan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain. Dari kenyataan itu, menurut Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Paku Alam IX, terlihat bahwa jumlah tindak penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun cenderung meningkat.
Padahal, kita tidak pernah berhenti mengingatkan bahaya yang ditimbulkan oleh peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba, katanya dalam sambutannya yang dibacakan Pelaksana Harian BNP DIY Bambang Raharjo pada peringatan Hari Anti Narkoba Internasional 26 Juni di Yogyakarta, Kamis (26/6).

Menurut Paku Alam IX yang juga Wakil Gubernur DIY ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat pengguna narkoba di Indonesia sekitar 3,2 juta orang, atau sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk negeri ini.
Disebutkan, dari jumlah tersebut, sebanyak 8.000 orang menggunakan narkotika dengan alat bantu berupa jarum suntik, dan 60 persennya terjangkit HIV/AIDS, serta sekitar 15.000 orang meninggal setiap tahun karena menggunakan napza.
Menurut dia, anggota sindikat pengedar narkoba tidak pernah jera dan takut melakukan kegiatannya, meskipun polisi gencar melakukan operasi penangkapan. Salah satu penyebabnya adalah masih lemahnya penegakan hukum di Indonesia.

Dari berbagai kasus pengedar narkoba kelas kakap yang tertangkap, Paku Alam IX menilai hukuman yang dijatuhkan tidak seimbang dengan bobot kesalahannya, dan tidak mencerminkan rasa keadilan bagi para korban.
Menjadi keprihatinan bersama apabila penerapan hukum masih lunak terhadap para pengedar narkoba, sehingga anggota sindikat pengedar narkoba internasional memilih Indonesia sebagai wilayah operasi mereka. (djo)

(Sumber : http://www.pelita.or.id/baca.php?id=51766)

1 comments :

banirisset mengatakan...

Wah keren juga tuuhh.... Tp beneran ga ya? jangan2...

Posting Komentar