gam 10Jaringan Korban Napza Jawa Timur - East Java Action (EJA) berkolaborasi dengan Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) Wil Jatim, Jaringan Orang Terinfeksi HIV (JOTHI) Wil Jatim, Komunitas Metadon Surabaya, Kelompok Dukungan Sebaya SUPPORT, Surya Community dan US Community

Surabaya, 10 Desember 2008

Penyiksaan dan perlakuan semena-mena aparat negara telah banyak dilakukan terhadap tersangka pelanggar hukum maupun mereka yang sudah divonis hukuman oleh pengadilan. Memang belum banyak yang berani mengungkap dan memproses pelanggaran HAM ini secara hukum. Ketertindasan dan rasa tidak aman akibat stigma sebagai pelaku tindak kejahatan masih melekat pada diri korban untuk bangkit mengatasi ketidakadilan yang dialami. Padahal, merupakan hak warga negara untuk mendapat perlindungan dari kesewenangan dan penyiksaan aparat walupun ketika terbukti melakukan suatu tindak kejahatan.


Penggunaan sebagian napza merupakan suatu tindakan yang ditetapkan sebagai kejahatan di Republik Indonesia. Kriminalisasi ini, atau dikenal dengan istilah ‘perang terhadap narkoba’, sejak digaungkan oleh Presiden AS, Richard Nixon, pada 1971 dan terus mengkooptasi kebijakan pengendalian napza di seluruh dunia hingga saat ini, telah banyak memakan korban. Negara Amerika sendiri memiliki populasi narapidana terbesar di dunia pada tahun 2007 dimana lebih dari setengahnya adalah pelanggar kasus napza – sebuah tindakan non kekerasan yang dikriminalkan. Indonesia dalam lima tahun terakhir (2003-2007) setidaknya telah memenjarakan 110,000 WNI atas kasus napza dimana lebih dari 70 persennya adalah pengguna napza. Prosentase pelanggaran kasus napza dibanding pelanggaran kasus lain terus naik dari 10.6% pada tahun 2002 menjadi 28.4% pada 2006.

Meningkatnya besaran kasus tersebut turut pula meningkatkan peluang penyiksaan dan perlakuan semena-mena aparat terhadap para pengguna napza – korban dari perang yang malah membawa peredaran narkoba ke pasar gelap. Tak hanya penyiksaan fisik yang dialami, menyadari tindakan pemakaian napza sebagai kambuhan walaupun sudah dihukum penjara, sejumlah aparatpun memanfaatkan korban napza sebagai mata pencaharian tambahan. Tindakan menjebak dan memeras mantan pelanggar kasus napza marak terjadi dengan memanfaatkannya untuk menjerat pengguna napza lainnya yang dikenal.

Jelas bahwa perang terhadap narkoba selain telah menimbulkan banyak korban sebagaimana lazimnya perang, juga turut merusak mental aparat negara yang seharusnya menjunjung tinggi perlindungan HAM warganya. Kriminalisasi membuat marak penyiksaan dan perlakuan semena-mena terhadap mereka yang ditetapkan sebagai pelaku tindak kejahatan. Kriminalisasi merupakan produk kebijakan yang menyerahkan kuasa pengendalian napza kepada sindikat kejahatan terorganisir, dimana sejumlah aparat turut bermain di dalamnya demi memperkaya diri sendiri, dan mengorbankan hak masyarakat atas perlindungan. Kriminalisasi adalah kebijakan yang tidak mengatur dan tidak berpihak pada kesejahteraan masyarakat, karena justru hanya memperkaya bandar dan oknum aparat serta mendekatkan ketersediaan napza dengan segala resiko penggunaannya di tengah masyarakat melalui distribusinya secara gelap.

Atas keadaan-keadaan tersebut di atas yang masih berlangsung hingga saat ini, maka kami Jaringan Korban Napza Jawa Timur - East Java Action (EJA) berkolaborasi dengan Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) Wil Jatim, Jaringan Orang Terinfeksi HIV (JOTHI) Wil Jatim, Komunitas Metadon Surabaya, Kelompok Dukungan Sebaya SUPPORT, Surya Community dan US Community menyatakan sikap :

1. Menuntut pemerintah dan wakil rakyat agar MENGKAJI ULANG PENERAPAN UU NARKOTIKA DAN PSIKOTOPIKA RI khususnya mengenai dampak-dampak buruk yang diakibatkannya selama ini di tengah masyarakat;
2. Akan berada BERSAMA DAN MENDUKUNG wakil rakyat agar berani MEMBEBASKAN DIRI DARI TEKANAN INTERNASIONAL yang ditunggangi kepentingan politik ekonomi negara-negara adikuasa dalam menetapkan KEBIJAKAN NAPZA NASIONAL;
3. Menuntut PENGHAPUSAN KRIMINALISASI dan PENETAPAN PENGGUNA NAPZA SEBAGAI KORBAN dalam UU Pengendalian Napza RI yang sedang direvisi;
4. MENGUTUK PENYIKSAAN dan PERLAKUAN SEMENA-MENA APARAT terhadap seluruh warga negara yang berhadapan dengan hukum dan akan terus menindaklanjuti kasus-kasus yang terjadi.

Berkaitan dengan peringatan Hari HAM 2008, maka kami akan menggelar aksi di depan Kantor Wilayah Departement Hukum dan HAM Jawa Timur pada Tanggal 10 Desember 2008 Pukul 13.00 – 14.00 WIB untuk menyampaikan tuntutan dan aspirasi kami. Aksi serupa akan di lakukan serentak oleh jaringan korban napza di wilayah Indonesia dalam menyatakan sikap!!.


Demikian siaran pers ini,

Rudhy Sinyo
Koordinator Peringatan Hari HAM 2008
Cp: 081332211990

“Perang terhadap narkoba merupakan sistem pendukung keuangan bagi para teroris dan bandar, menjadikan tanaman murah seperti ganja dan opium dari produk-produk pasar gelap berharga jutaan!”

2 comments :

Download Template mengatakan...

Semoga tahun depan Indonesia semakin baik.....

EJA mengatakan...

@ Download Template : Optimis pasti, maka dari itu perlunya keterlibatan semua elemen untuk melakukan perubahan yang lebih baik.

Posting Komentar