gam 10HAMPIR 50 persen penghuni penjara seluruh Indonesia tersangkut kasus narkotik dan obat berbahaya (narkoba). Di sejumlah penjara di Jakarta dan Tangerang, angka itu bahkan mencapai 75 persen. Mereka terdiri atas bandar, pembuat, juga pemakai yang tertangkap hanya lantaran mengantongi satu atau dua linting ganja.

Sedikitnya sipir, minimnya peralatan pengawasan, dan iming-iming keuntungan yang bisa ditangguk dari bisnis narkoba di bui akhirnya membuat narkoba mudah menembus dinding penjara.

PRIA itu datang di siang hari menjelang jam makan. Barisan antrean pembesuk tampak panjang. Di depan petugas, lelaki itu menyodorkan lima bungkus nasi yang dibawanya. ”Tolong, Pak, ini untuk teman saya,” ujarnya menyebut sebuah nama seorang tahanan berikut bloknya. Lalu, dengan tergesa-gesa pria bersandal itu pergi.


Hal yang biasa seorang tahanan mendapat kiriman makanan di penjara mana pun. Tapi, seperti biasanya, sebelum memanggil tahanan yang mendapat titipan itu, para sipir memeriksa sejenak isi makanan tersebut. Tak ada yang mencurigakan: nasi putih, lauk ayam goreng, dan sambal. Tapi, saat diaduk beberapa kali, sesuatu yang aneh terlihat. ”Ternyata nasi itu dicampur sabu-sabu,” ujar Kepala Rumah Tahanan Salemba Bambang Sumardiono. Dan jumlah sabu-sabu yang gagal masuk penjara itu cukup besar. ”Nilainya lebih dari Rp 200 juta,” kata Bambang. ”Ini benar-benar nekat.”

Para sipir penjara berpenghuni sekitar 2.500 tahanan itu pun geger. Nama tahanan yang disebut-sebut pengirim nasi padang tersebut segera dipanggil. Diinterogasi berjam-jam, tahanan yang tersangkut kasus penggunaan narkoba itu bersumpah tak tahu-menahu siapa pengirimnya. Dia menyatakan dirinya difitnah. ”Sampai digaploki dia juga tetap bilang tidak tahu-menahu,” kata Setiyadi, sipir Rumah Tahanan Salemba.

Lalu semuanya gelap. Tidak hanya sang pengirim itu tak terkejar, alamat yang tertera di buku pembesuk juga palsu. Kasus ini berakhir dengan penyerahan barang haram itu ke polisi. ”Kami dilarang menyimpan barang itu. Jadi segera kami serahkan sabu-sabu itu ke polisi,” kata Bambang.

Ya, penyelundupan aneka jenis narkoba lewat makanan ke penjara adalah salah satu modus yang paling kerap terjadi dan, acap kali, sukses. Di sini, yang diperlukan memang kelihaian membungkus atau menyelipkan barang itu serapi mungkin hingga tak sedikit pun memancing curiga mata petugas. Aneka jenis narkoba bisa lolos dengan cara ini. Dari sabu-sabu, ekstasi, ganja, hingga putaw.

Kepada Tempo, seorang mantan penghuni penjara kelas I Cipinang membuka rahasia bagaimana barang itu bisa mulus menyelinap ke balik dinding penjara. ”Besuk pada jam-jam ramai dan usahakan supaya sipir tidak selalu memandang barang yang kita bawa,” ujarnya. Jam-jam ramai yang ia maksud: pukul 12.00 hingga 14.00. ”Itu jam makan siang atau jam habis makan siang,” katanya. ”Biasanya penjaga agak kurangan galaknya.”

Ia lantas bercerita bagaimana rekan satu selnya pernah mendapat kiriman putaw dari temannya dengan cara barang itu dimasukkan ke dalam ”tubuh” lauk. Narkoba bisa lolos melalui ”cumi gemuk”, yang biasanya dijual di rumah makan padang. ”Tidak hanya dipakai sendiri, etep itu juga lalu bisa dijual di dalam,” ucapnya. Oh, ya, etep adalah nama lain putaw. Para narapidana penghuni lembaga pemasyarakatan di Jakarta dan Tangerang selalu menyebut putaw dengan istilah etep atau go. Sama dengan mereka menamakan ekstasi ”obat” atau ”pil” dan menyebut sabu-sabu ubas, mecin, atawa ”o”.

Belakangan, modus lewat makanan ini bahkan juga bisa menembus dinding penjara dengan penjagaan paling ketat dan canggih di Indonesia: Penjara Khusus Narkotika Cipinang. ”Sama saja. Selama yang menjaga orang, tetap saja barang itu bisa masuk,” kata sumber Tempo yang mewanti-wanti agar namanya jangan disebutkan itu sembari tertawa. Ia punya alasan kenapa namanya tak mau disebut. ”Saya dulu pernah jadi tamping, nanti gampang ketahuan,” ujarnya. Tamping adalah sebutan para penghuni penjara yang mendapat kepercayaan melakukan sejumlah pekerjaan di penjara, seperti menjadi koordinator narapidana atau memanggil penghuni penjara lainnya, karena dinilai berkelakuan baik.

Lilik Sujandi, Kepala Keamanan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-A Narkotika, Jakarta—demikian nama lengkap penjara khusus narapidana narkotik ini—tak membantah jika dikatakan ada saja benda-benda narkoba yang mungkin lolos ke penjaranya. ”Petugas kan tidak mungkin mengaduk-aduk semua makanan yang dibawa para pembesuk,” kata pria yang akhir bulan ini akan ditugaskan menjadi Kepala Lembaga Pemasyarakatan Merauke di Papua itu.

Berbeda dengan penjara lainnya, untuk bertemu dengan tahanan di Cipinang, pembesuk setidaknya harus melewati lima pintu penjagaan berlapis besi. Barang-barang yang dibawa juga diperiksa lewat perangkat detektor. Di penjara yang berkapasitas 1.087 orang tapi kini dihuni sekitar 2.700 penjahat narkoba itu, pembesuk juga tak bebas bercengkerama dengan yang dibesuk seperti di penjara lainnya. Para tahanan berada di balik ruang kaca dan pembicaraan dilakukan lewat sebuah lubang. Pertemuan itu pun dipantau lewat kamera yang diawasi petugas dari ruang kontrol.

Setelah mengobrol, pembesuk lantas menuju sebuah pintu yang terletak di sudut ruang kaca. Pintu ini hanya berfungsi untuk tahanan yang menerima barang yang dibawa pembesuk. Hanya itu. Di sinilah, dalam kesempatan hitungan detik ini, perpindahan barang haram bisa terjadi.

Dengarlah cerita Lilik ini. Sekitar dua tahun lalu, seorang ibu menjenguk suaminya sembari menggendong anaknya yang berumur sekitar dua tahun. Setelah mengobrol di antara dinding kaca, kedua pasangan ini kemudian bertemu di pintu. Di sana sang suami lantas melepas kerinduannya dengan menggendong anaknya, menciumi, sembari meraih bungkusan makanan ringan Chiki yang dipegang anaknya. ”Chikinya tidak dikembalikan, setelah kami periksa di dalamnya, di paling bawah ada sabu-sabu,” ujar Lilik.

Nekatnya para penghuni penjara memperoleh benda-benda haram itu tak lepas dari dua hal: kebutuhan dan bisnis. Bagi para pecandu yang tertangkap, kebutuhan benda-benda itu jelas sangat penting. Tubuh mereka bisa pakaw atau sakaw jika terlambat menikmati benda tersebut. Satu-satunya yang mereka harapkan adalah kiriman dari luar atau membeli. Dan di penjara, benda-benda itu, tak peduli bagaimana kualitasnya, selalu tersedia, asalkan syarat lain terpenuhi: punya duit.

Etep itu, misalnya, di sejumlah penjara di Jakarta atau Tangerang bisa diperoleh dengan harga sekitar 100 ribu sekali pakai. Di luar dinding penjara, harga satu gaw (gram) benda laknat ini bisa mencapai Rp 800 ribu. Adapun ubas alias sabu-sabu, satu gaw sekitar Rp 1,5 juta. Lantaran harganya yang tinggi itu, biasanya para tahanan membelinya secara gotong-royong dan memakainya secara beramai-ramai pula. Bisa dengan cara diisap atau disuntik. Di penjara kelas I Cipinang, penjara kelas I Tangerang, atau Salemba, jarum untuk ngico—menyuntik—setahun lalu bisa disewa Rp 1.000 per orang. ”Sekarang, karena harga bahan bakar minyak naik, sewanya juga sudah naik jadi Rp 2.000,” ujar seorang narapidana di penjara Tangerang. Adapun untuk ekstasi atau ”pil”, satu biji sekitar Rp 50 ribu.

Di luar benda haram yang asli ini, ada pula yang ”aspal” dan diproduksi amatiran di dalam sel. Ekstasi, misalnya, dibuat dari obat sakit kepala Antimo, Panadol, yang digerus dan dicampur dengan obat nyamuk Baygon berwarna hijau. Untuk mencetaknya agar berwujud pil, cukup memakai ujung bolpoin. Satu biji ”ekstasi-ekstasian” yang sementara aslinya di pasar harganya mencapai Rp 150 ribu, di penjara dijual per biji Rp 40 ribu. ”Bisa membuat ngantuk, enak...,” ujar seorang tahanan di Rumah Tahanan Salemba yang ”dijenguk” Tempo awal bulan lalu. Sipir penjara Salemba, Setiyadi, menyebut orang yang membeli obat semacam itu bodoh. ”Sudah gila mereka itu,” ujarnya.

Bagi para narapidana, sepanjang ada orang luar yang menyuplai duit untuk mereka, tentu tak jadi soal memperoleh barang itu. Dalam urusan duit ini, seorang narapidana juga tak perlu menunggu dibesuk keluarganya dulu. Ada cara lain yang lebih praktis dan aman: duit itu ditransfer ke rekening penjaga penjara yang bisa diajak bekerja sama. Permohonan ”bantuan segera” ini bisa disampaikan lewat telepon seluler yang bisa disewa sekali pakai sekitar Rp 3.000. Lantaran menggunakan jasa petugas, tentu ada uang lelah untuk sang pemilik kartu anjungan tunai mandiri. ”Biasanya dipotong 20 persen,” ujar Fajar—bukan nama sebenarnya—narapidana asal Bogor yang kini mendekam di penjara Tangerang.

Konsultan ahli Badan Narkotika Nasional, Komisaris Jenderal Polisi Purnawirawan Alwi Luthan, menyebut faktor kerja sama dengan petugas ini yang membuat barang-barang psikotropik bisa beredar dan bahkan diproduksi di dalam penjara. ”Ini tak perlu ditutup-tutupi,” ujarnya kepada Tempo, Rabu pekan lalu, sembari menyebut terbongkarnya ”pabrik” narkoba di penjara Madaeng, Surabaya.

Pada Mei 2007, misalnya, polisi dan petugas penjara Madaeng, Surabaya, memang menggerebek sebuah ”laboratorium mini” pengolahan narkoba di penjara kelas I yang dihuni lebih dari 2.500 tahanan tersebut. Dari kamar mandi di blok F yang berfungsi sebagai ”pabrik” itu, aparat menyita 1,4 kilogram sabu-sabu, 6,9 kilogram ganja, dan 168 butir ekstasi, plus beberapa perlengkapan nyabu. Menurut Kepala Penjara Madaeng Alfi Zahrin, sipir yang terlibat kasus ini, Basori, sudah diusulkan dipecat. Basori kini tengah menjalani proses peradilan.

Sejumlah narapidana dan petugas penjara yang dihubungi Tempo tak menyangkal adanya keterlibatan oknum penjaga atau staf lembaga pemasyarakatan dalam membuat pasokan narkoba tak pernah ”putus” di penjara. ”Justru dengan oknum berengsek seperti ini, jumlah barang yang masuk bisa lebih besar,” kata seorang petugas. Ia memberi contoh modus lewat pergantian pipa air, keran air, atau juga barang elektronik, seperti kulkas atau televisi. Caranya, kata sang sumber, barang-barang di dalam penjara yang rusak—atau dirusak—itu dilaporkan dan diusulkan diganti. ”Saat barang-barang baru dibawa masuk petugas itulah di dalamnya sudah diisi sabu-sabu atau barang narkoba lainnya.” Aman, rapi jali, dan memang tak mengundang kecurigaan.

Pengawasan ketat terhadap siapa pun, memang hanya itulah satu-satunya cara yang bisa mencegah narkoba tak merajalela di penjara. Tapi justru inilah kendalanya. Jumlah sipir selalu tak seimbang dengan yang diawasi. Untuk mengawasi sekitar 2.300 tahanan di penjara Salemba, misalnya, hanya ada sekitar 100 petugas. Alat deteksi khusus narkoba juga tak ada. Satu-satunya penjara yang pernah memiliki alat deteksi narkoba berujud scanner adalah Penjara Khusus Narkotika Cipinang. Tapi tahun lalu alat canggih yang harganya tak kurang dari Rp 500 juta itu berhenti beroperasi lantaran menjebol trafo listrik penjara. ”Makan listrik sampai 6.000 watt,” ujar seorang petugas.

Apa boleh buat, yang dilakukan kini memang manual: meraba-raba tubuh, memeriksa isi tas, dan mengorek-ngorek makanan yang dibawa pembesuk. Lalu, hup, jika mata tak awas, benda haram itu pun lolos.

L.R. Baskoro

Banyak Cara Menuju Penjara

JENIS NARKOBA:


* Heroin, dikenal dengan nama putaw atau morfin
* Ganja, dikenal dengan nama cimeng atau gele
* Kokain, dikenal dengan nama coke atau rock
* Ekstasi, dikenal dengan nama Inex, pil, atau obat
* Sabu-sabu
* Obat penenang, seperti nipam, valium, Lexotan

Beragam cara: Lewat makanan dan barang sehari-hari : dicampur nasi;dimasukkan dalam kepala ikan; dimasukkan dalam bungkus kopi; di dalam sampo; dalam botol Aqua (setelah dikeringkan menjadi kristal sabu-sabu); dalam makanan anak, seperti Chiki; dalam botol Baygon; boneka; diselipkan dalam sajadah. Lewat alat elektronik: diselipkan dalam radio, tape, atau televisi. Lewat tubuh: disimpan di balik pembalut perempuan, di dalam sanggul, dalam kopiah, dalam hak sepatu, di lapisan sandal, dalam kantong-kantong baju yang dibuat khusus, diikat di pangkal paha.

LRB, sumber: wawancara

(Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/2008/07/07/IMZ/mbm.20080707.IMZ127603.id.html)

4 comments :

bani risset mengatakan...

Astaghfirullah.....ckckckckckckkk...

EJA mengatakan...

@ Bani : oleh karena itu, banyak pengguna napza yang suka di penjara dari pada masuk rehabilitasi. PERLU DI KAJI ULANG TTG HAL INI.

jimsicx mengatakan...

Yah seperti itulah kecanggihan manusia, manusia akan melakukan apapun supaya semua mungkin terjadi. Tapi klo di ibaratkan 2 sisi mata belati.. dua-duanya membahayakan bila tidak di asah dan di biarkan berkarat..memang penyelundupan napza kedlm penjara didua sisi merugikan dan menguntungkan utk sebagian orang..bahkan karena adanya kebutuhan akan napza, tidak sedikit yang memproduksi benda tersebut di dalam penjara.. tetapi apa yg sering terjadi di dlm penjara bila keberadaan napza putus atau tidak ada?? CHAOS.... kekacauan akan terjadi seperti yang memang sering terjadi disana, di dalam jeruji kebebasan.

sinyo mengatakan...

Iya setuju juga broer, Hasil dari sistem kebijakan yang sangat tidak berpihak kepada para Korban napza selama 10 tahun ini semenjak penerapan UU Narkotika. Alhasil, banyak orang2 yang di untungkan akan hal itu, sedangkan korban napza semakin tertindas dan terpuruk akibat sistem ini bahkan kematian di dalam penjara. Apakah hal ini yang sebenarnya di inginkan negara ini???. Korban napza adalah orang yg sakit (banyak penelitian mengenai ini) dan penjara bukan untuk menyelesaikan permasalahan mereka...namun, pengobatan dan perawatan yang mereka butuhkan.
(Terapkan pasal 47 sekarang juga untuk vonis rehabilitasi bagi pengguna napza - penjara bukan solusi bagi mereka)

Posting Komentar