gam 10Surabaya - Surya-Wahai kaum perempuan, waspadailah narkoba. Kalau tidak, Anda pasti akan bergabung dengan
ratusan wanita lainnya di sel-sel tahanan maupun penjara.
Bayangkan, selama Januari-Maret 2008 saja, di Surabaya dan sekitar sudah ada 38 perempuan yang terjerat kasus
narkoba. Angka ini diprediksi terus merangkak. Sebab, pada 2006, ada 171 kasus dan 2007 meningkat menjadi 185.

Karenanya, pihak kepolisian memprediksi, hingga akhir 2008, jumlah perempuan yang terlibat narkoba bakal meningkat
10-20 persen. Kalau ramalan ini benar, maka kondisi ini benar-benar memprihatinkan.


Memang, jika dibanding kaum pria, perempuan yang berlibat narkoba dan obat-obatan terlarang ini masih kalah jauh.
Pada 2006, laki-laki yang ditahan karena menyimpan, menyembunyikan, atau mengedarkan narkoba sebanyak 1.351
orang.

Tahun berikut, 2007, jumlah itu meningkat menjadi 1.579 orang dan pada Januari-Maret 2008 sudah ada 374 pria yang
ditahan dalam kasus narkoba.

Namun, bagaimanapun, fenomena banyaknya perempuan dalam dunia narkoba tetap mengejutkan. Apalagi,
keterlibatan mereka dalam kasus jenis ini jauh lebih besar dibanding kriminalitas lainnya seperti judi, penggelapan,
pencurian, atau penadahan.

Data di Polwiltabes menyebutkan, pada 2007 hanya ada sekitar 95 orang yang terlibat kejahatan non-narkoba.
Sedangkan pada 2008 (Januari-Februari 2008) hanya ada delapan kasus yang terekam.

Gaya Hidup

Mengapa banyak perempuan terlibat narkoba? Kabag Bina Mitra Polwiltabes Surabaya AKBP Sri Setyo Rahayu alias
Mami Yayuk menyatakan, banyak perempuan tak berpikir panjang, saat berhadapan dengan narkoba.

Itu sebabnya, mereka cenderung mudah mencobanya sehingga gampang dimanfaatkan bandar untuk mengirim
narkoba. Dari situ, mereka akan kecanduan dan terus menerus mengonsumsi narkoba.

Mereka larinya bukan lagi ke urusan perut. Tapi, sudah ke gaya hidup. Sok modern, tapi justru menjerumuskan
diri sendiri,tutur Yayuk, Senin (24/3).

Menurut Mami Yayuk, perempuan yang ditangkap anggota Reskoba Polwiltabes Surabaya dan jajaran, rata-rata purel
atau pengunjung tempat-tempat hiburan malam. Mereka adalah kalangan menengah ke atas dan PSK. Rata-rata
berumur 23-35 tahun, usia produktif.

Mereka yang mengonsumsi ekstasi dan sabu-sabu (SS), lanjutnya, larinya cenderung ke free sex yang pada gilirannya
memperluas penyebaran HIV/AIDS. Para purel dan PSK mengonsumsi SS katanya biar hot saat melayani
tamu,ungkapnya.

Benarkah Mami Yayuk? Pada 2008 ini, memang banyak wanita ditangkap usai pesta dan dugem melepas malam tahun
baru. Rata-rata mereka diringkus dalam kondisi fly sehabis mengonsumsi SS. Bahkan, ada yang menyimpan sisa pil
gedheg di sekitar organ vital.

Terlibatnya kalangan menengah atas dalam kasus ini bisa dilihat dari harga narkoba. Semula, banyak kaum Hawa yang
mengonsumsi ekstasi. Namun, sejak 2006 hingga kini, SS lebih populer. Padahal, harga SS per gram berkisar Rp 1 juta -
Rp 1,5 juta. Sedangkan pil ekstasi per butir hanya antara Rp 125.000 - Rp 175.000.

Namun, seiring merajalelanya narkoba, para bandar semakin kreatif dalam menggaet konsumen. Sekarang ada paket
hemat (pahe) SS yang dijual Rp 100.000 - 200.000 per 0,2 gram.

Tersangka Vina yang ditangkap anggota Reskoba Idik I Polwiltabes Surabaya menyatakan, pemakaian SS lebih simpel
dibanding dengan ekstasi. Ekstasi harus dipakai dengan gerak, sehingga cocok untuk diskotek. Apalagi, alunan
musiknya menyentak dada.

Namun, untuk mengisap SS, tidak dibutuhkan tempat ramai. Cukup di ruang sepi, kemudian badan terasa enteng dan
menambah gairah bekerja. ”Kalau dibuat 'main' kuat. Tapi, itu semua tergantung dari cara membawanya,”
ungkap Vina.

Mencegah beredarnya ekstasi, SS, putaw, ganja, dan heroin, pihak Polwiltabes Surabaya dan jajaran kerap menggelar
sosialisasi di beberapa mal, seminar, dan diskusi yang mengundang LSM, dosen, pejabat pemerintah, mahasiswa, dan
pengamat.

Narkoba dan HIV/AIDS seperti gunung es yang hanya tampak atasnya saja. Tapi dalam dan luasnya sampai
berapa tidak ada yang tahu. Bisa jadi, satu orang yang tertangkap, 10 lainnya masih mengonsumsi atau
mengedarkan,ujar Mami Yayuk.

Di Polwiltabes Surabaya, perempuan yang bermasalah dengan hukum ditahan di dua blok, yakni Blok G dan W. Satu
blok terdiri lima ruang ukuran 8 m x 20 m. Daya tampung masing-masing ruang antara 30-50 orang. Namun di blok
perempuan itu rata-rata diisi 13 - 15 orang. Sak ombo-ombone ruangan tahanan, yo sik enak nang njobo mas
(Luasnya ruangan tahanan masih enak di luar mas),tutur Wiwik, tersangka kasus narkoba.

Di Polres Surabaya Timur, ada tiga wanita yang ditahan karena kasus narkoba. Dua ditangkap karena memiliki SS,
sedangkan satu ditangkap karena kedapatan menyimpan ineks.

Ulah Bandar

Sosiolog Unair Bagong Suyanto mengatakan, meningkatnya kejahatan narkoba di kalangan perempuan tak lepas dari
persaingan ketat yang terjadi dalam bisnis narkoba sekarang ini.

Akibatnya, bandar makin intensif melakukan diversifikasi atau perluasan konsumen yang dibidik untuk bisnis obat
terlarang itu. Kalau dulu konsumen yang dibidik kalangan menengah ke atas, sekarang dikembangkan di luar itu, yakni
kalangan ibu rumah tangga dan masyarakat lainnya. Bahkan anak-anak dan pelajar.

Diversifikasi usaha inilah yang menjadikan tren pelaku kejahatan narkoba dari kalangan perempuan
meningkat,ujar Bagong, Senin (24/3).

Apalagi, dengan posisi dan kondisinya yang lemah, perempuan, kata Bagong, lebih mudah dikendalikan dibanding lakilaki.
Kalau perempuan yang jadi pecandu atau pengedar tertangkap aparat penegak hukum, bandar masih bisa tenang.
Tidak khawatir jaringan dan bisnisnya terbongkar. Apalagi sampai menyeretnya,jelasnya.

Sebagai solusinya, Bagong berharap ada kearifan dalam menyikapi maraknya kasus perempuan terlibat narkoba. Tidak
semata-mata menggunakan pendekatan hukum. Tapi juga harus jeli memilah, mana perempuan yang menjadi korban
dan mana pelaku. Ini penting, karena para perempuan itu rata-rata dalam posisi jadi korban situasi,imbuhnya.

Karena narkoba adalah jenis kejahatan yang khas. Selalu mengalami metamorfose. Baik pengedar maupun pencandu
kebanyakan awalnya adalah korban sebelum akhirnya menjadi pelaku dan terlibat lebih jauh dengan barang haram itu.
Mif/k3/uji

Kenal SS di Dolly

Setelah suami meninggal saat berlayar di Laut Karimata empat tahun silam, Ny Rika Astuti, 23, kesulitan ekonomi.
Apalagi, ia tengah hamil sembilan bulan.

Usai melahirkan, perempuan bertubuh seksi asal Sumenep ini merantau ke Surabaya. Ia terdampar di Dolly. Tahun
pertama, tiap hari ia melayani 10-13 orang. Hasil jerih payah ini ia kirim ke keluarganya di Sumenep untuk kebutuhan
anak dan keluarganya. Untuk susu, aku kirim Rp 1 juta, belum yang lain,tutur Rika di Polwiltabes Surabaya.

Hari berganti hari, pergaulan Rika mulai luas. Ia mulai kenal sabu sabu (SS). Pertama mencoba, ia kikuk, tapi lamakelamaan
menjadi konsumen tetap. Bahkan, ia turut mencarikan SS temannya yang kini buron. Jaringan yang terbangun
itu sudah luas. Ia kerap menawarkan SS pada tamu hidung belang yang mem-bookingnya dirinya dengan dalih biar
sama-sama hot.

Kebiasaan 'menservice' tamu kini tak bisa lagi dilakukan Rika. Ia meringkuk di tahanan Polwiltabes Surabaya.
Kebiasaannya hidup hingar bingar dengan dandanan menor tak tampak lagi. Wajahnya kelihatan kusut. Rambutnya
dibiarkan terurai panjang. Matanya sembab kebanyakan menangis. Sekali ini saja aku hidup dibui. Tidak enak,
pokoknya,ungkapnya.

Anda kan biasa menemani lelaki di kamar, apa selama menghuni tahanan tidak ingin melakukan hubungan
badan?tanya Surya. Pikiran seperti itu tidak ada. Yang ada cuma kapan aku bebas. Tiap malam aku
menangis ingat anak dan keluargaku,tuturnya.

Tersangka Vina yang duduk di sampingnya kelihatan bingung dan menitikkan air mata. Ketika ditanya, kamu kok
jerawatan? Ia langsung angkat bicara. Suwe gak ngene, jerawate yo metu (Lama nggak begini.... mas, ya keluar
jerawatnya,ucap cewek asal Dampit, Malang.

Menurut Rika, ayahnya yang bermukim di Sumenep saat menerima surat penangkapan dan penahanannya langsung
shock. Ayah yang mengidap penyakit darah tinggi langsung tak sadarkan diri. Perasaan salah terus bermunculan di
pikirannya. Bagaimana aku menjelaskan setelah keluar nanti. Itu yang menjadi beban terhadap keluarga,ungkap Rina.

Sementara tersangka Dhinita Ratna Wulan, 22, dan Wiwik, 25, yang ditangkap anggota Pembinaan dan Penyuluhan
(Binluh) Reskoba Polwiltabes Surabaya, meski terlihat ceria di ruang penyidikan, sebenarnya batinnya menangis. Kedua
purel di kawasan Jl Diponegoro itu ditangkap sepulang dugem.

Tersangka Wiwik selama 10 hari menginap di hotel prodeo belum dijenguk keluarganya dari Mojoroto, Kediri. Ia justru
dibesuk teman-temannya. Celana pendek jeans biru yang dikenakan seperti saat ditangkap pada Jumat (14/3).
Sementara Wiwik, yang lidahnya ditindik masih mendapat perhatian dari keluarganya di Surabaya.

Kedua tersangka (Wiwik dan Dhinita) saat disinggung asal mula barang bukti enggan menceritakan, terkesan menutupi
jaringannya. Tapi, begitu disinggung soal urusan kewanitaan dewasa, langsung bicaranya ceplas-ceplos. Bahkan, kedua
tersangka sampai tertawa lepas mengenai liku-liku laki-laki.

Biasanya kamu tidur di kasur empuk, minum martell, vodka atau chivas regall dan makan seenaknya dengan tamu,

sekarang bagaimana? Untuk urusan makan, minum tidak ada masalah. Di polwil juga diberi makan. Tapi yo gak
iso bebas cak seperti di luar,seloroh Wiwik.

Sesama tahanan perempuan jika sudah kumpul kata Wiwik banyak yang diobrolkan, tapi enggan merinci. ”Paling
mengenai laki-laki,pancing Surya. ”Wes mblenger (sudah bosan). Pokoknya ada deh,elaknya.

Kulit kamu kan putih dan wajahnmu cantik, apa tidak takut ditaksir sesama penghuni cewek lainnya? Amit-amit
mas. Memang kalau malam itu dingin, tapi tidak ada di blokku yang kayak gitu, ucap Wiwik.

Tersangka Ratna juga satu blok dengan Dhinita dan Wiwik, ditengarai memiliki jaringan langsung dengan pengedar dan
bandar. Perempuan asal Klakah Rejo, Benowo, yang ditangkap di Jl Arjuna itu dimanfaatkan oleh bandar untuk
mengantar SS ke konsumen. Tersangka Ratna disuruh mengantar agar tidak dicurigai polisi, karena wajahnya cukup
cantik, kulitnya kuning langsat, dan bicaranya luwes.

Informasinya, Ratna menunggu kiriman barang dari bede lain seberat 2 ons SS, tutur Plh Kasat Narkoba
Polwiltabes Surabaya AKP Totok Sumarianto, Senin (24/3).

Sementara itu, demi melindungi anaknya agar tidak masuk penjara, Ny Nurzizah, 66, asal Dupak Jaya IV rela
mengorbankan dirinya masuk tahanan Polres Surabaya Utara. Nenek lima cucu itu ditangkap setelah menyembunyikan
sepoket sabu sabu (SS) milik anaknya, Suud, 35, ke bra yang dikenakan.

Penangkapan tersangka itu cukup unik. Tersangka yang hanya bekerja sebagai bakul gorengan di Jl Putat Jaya tiba-tiba
menyembunyikan SS ke branya saat polisi menggerebek rumahnya. Aku melihat orang ini aneh. Berarti dia tahu
kalau SS itu berbahaya kok langsung disembunyikan,” kata Kasat Narkoba Polres Surabaya Utara AKP I Made
Wasa.

Polisi yang menemukan puluhan plastik klip di rumahnya hanya dijawab enteng oleh Nurzizah. Plastik itu biasa dipakai
membungkus sambal. Dilihat dari ukurannya tidak mungkin plastik ukuran 3 cm x 5 cm dipakau pembungkus sambal.
Diduga, rumah itu sering dipakai memecah SS yang akan diedarkan. mif

(Sumber : http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=39220)

0 comments :

Posting Komentar