gam 10Indonesia saat ini benar-benar berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan karena setiap tahun tingkat transaksi narkoba di negeri ini sudah mencapai Rp36 triliun lebih.
"Angka ini hampir menyamai anggaran pendidikan nasional yang tertampung dalam APBN 2007," ujar Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Ibrahim Sakty Batubara, di Medan, Senin (11/12), ketika berbicara di hadapan peserta seminar penangulangan narkoba yang dilaksanakan Mahasiswa Jurusan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin IAIN Sumatera Utara.
Menurut dia, angka tersebut merupakan data resmi yang dirilis Badan Narkotika Nasional (BNN). Bahkan, untuk tahun 2006 ada kecenderungan peningkatan secara siknifikan, karena sampai Mei 2006 nilai transaksi narkoba di Indonesia sudah mencapai US$2,16 miliar atau sekitar Rp20 triliun.


Demikian juga dari segi jumlah korban penyalagunaan narkoba, sampai saat ini tercatat sudah mencapai empat juta jiwa dengan angka kematian akibat narkoba setiap tahunnya mencapai 15.000 orang.
Mencermati angka-angka tersebut, Ibrahim mengatakan bahwa pengulangan narkoba tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah.
"Narkoba harus kita jadikan sebagai musuh bersama, dimana masyarakat juga harus ikut berperan aktif. Bila melihat korbannya yang terus berjatuhan setiap menit, bila perlu pemerintah dapat mencanangkan kasus narkoba ini sebagai keadaan luar biasa (KLB)," ujarnya.

Perubahan UU

Terkait keberadaan Undang-undang (UU) Narkotika No 7 Tahun 1997 dan UU Psikotorpika No 5 Tahun 1997, Ibrahim mengatakan bahwa para korban narkoba seharusnya tidak perlu diperlakukan sebagai pelaku tindak kejahatan dan diproses di pengadilan.
"Mereka itu adalah korban yang seharusnya dikasihani, bukan justru dihukum dan dijebloskan ke penjara. Para korban narkoba harus diselamatkan dengan cara dirawat di panti rehabilitasi yang menyiapkan tenaga dokter dan psikiater serta para uztad dan rohaniawan," katanya.
Dia juga mengaku prihatin ketika berkunjung ke Lembaga Permasyarakatan (LP) Khusus Wanita di Medan, dimana 80 persen dari 350 orang penghuninya adalah korban narkoba. Para korban narkoba itu sebagian besar adalah para wanita yang usianya rata-rata masih di bawah 30 tahun.
Sekaitan dengan itu, Ibrahim menyarankan agar kedua UU yang telah ada tersebut segera direvisi.
Namun demikian, untuk para pengedar dan mereka yang memperdagangkan barang haram itu, ia menilai sangat layak dihukum seberat-beratnya. "Bila perlu, para pengedar itu dihukum mati," tegasnya. (*/lpk)

(Sumber : http://www.kapanlagi.com/h/0000147830.html)

0 comments :

Posting Komentar