gam 10JAKARTA--Selain jumlah pengguna narkoba semakin meningkat, kekerasan terhadap pengguna narkoba turut menjadi masalah. Indonesian Coalition For Drugs Policy Reform mencatat berdasarkan data yang diperoleh dari 11 penelitian di sebelas kota di Indonesia, diperoleh data sekitar 1709 pecandu ditahun 2007, 668 orang diantaranya pernah mengalami kekerasan fisik, 522 mengalami kekerasan mental dan 60 orang mengalami pelecehan seksual.

Direktur Program Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat, Universitas Katolik Atmajaya,yang juga turut ambil bagian dari ICDPR Ricky Gunawan mengatakan dalam konferensi pers ICDPR di Jakarta, Rabu (11/3), 8O-90% pengguna narkoba yang menjadi korban kekerasan petugas ditangkap tanpa menggunakan surat penangkapan dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) serta mengalami masa penangkapan lebih dari lima hari."Sebagai contoh,kami menemukan kasus penyiksaan dmana seorang pemakai narkoba di Medan mengalami penyiksaan dengan diseret yang berjarak sekitar daerah baturaja hingga bunderan HI," tukasnya.


Kekerasan itu,diakui Ricky,disebabkan UU no.5 tahun 2007 tentang Narkotika tidak memberlakukan perlindungan terhadap pengguna narkoba dan dari 104 pasal yang termaktub didalamnya hanya tiga pasal yakni pasal 78 tentang kepemilikan narkoba,pasal 82 tentang ekspor jual beli narkoba dan pasal 85 tentang pemakai,yang paling sering digunakan. Stigma pengguna Narkoba merupakan kriminal menurutnya berawal dari sini.

Selain itu,stigma di masyarakat turut membentuk hal tersebut. Masyarakat,kata Ricky,begitu alergi dengan pengguna Narkoba. Beragam sebutan seperti sampah masyarakat dan manusia tak berguna menjadi sterotip negatif sebagai dampak hukuman sosial."Akibatnya,masyarakat teralihkan penilaiannya terhadap perlindungan hak asasi manusia,"tukasnya.

Merry,salah seorang korban pelecehan yang dihadirkan dalam konferensi pers turut memberikan kesaksiannya.Dia mengaku mengalami tindak kekerasan oleh oknum polisi di tahun 2004. Kala itu, Merry bersama pacarnya sedang mengkonsumsi putaw di Jalan Laturharhary, Jakarta Pusat. Kemudian dia ditangkap petugas.

Oleh petugas, dia bersama pacarnya diangkut ke polres Metro Jakarta Selatan. Dalam perjalanan, Merry yang mengaku matanya ditutup ketika itu mengalami pukulan demi pukulan oleh petugas. Belum cukup sampai disitu, dia pun harus mengalami "tukar body". "Tukar Body" merupakan bentuk barter antara pengguna narkoba perempuan dengan petugas. Kesepakatannya, jika sang wanita ingin merubah BAP atau dibebaskan dan mendapat pasokan narkoba selama di tahanan maka harus "melayani" oknum petugas.

"Itu saya alami ketika saya dibawa ke ruang olah raga diluar sel penjara. Setelah diberi narkoba secara tidak sadarkan diri,saya pun melayani petugas yang berada disana,"ungkapnya. Dia pun akhirnya terlibat selama beberapa tahun sebelum akhirnya dia melepaskan diri.

Kini Merry positif mengidap HIV, dan sedang menjalani masa rehabilitasi program metadon untuk mengurangi ketergantungan narkoba yang menggunakan jarum suntik. Rehabilitasi tersebut telah dijalaninya selama setahun. Dia berharap kelak kebijakan narkoba akan lebih memperhatikan pengguna. Karena dia meyakini begitu banyak orang diluar sana yang mengalami mimpi buruk seperti dirinya."Saya ingin diperlakukan sama seperti yang lain," harap Merry./cr2/itz

(Sumber : http://www.republika.co.id/berita/36923/Kekerasan_Kerap_Menimpa_Pengguna_Narkoba)

0 comments :

Posting Komentar