gam 10PTRM RSU Dr. Soetomo, Surabaya:
Minimalkan risiko ketergantungan opioid dan menormalkan gaya hidup dan perilakunya

Saat ini, angka pecandu heroin sudah sangat memprihatinkan. Di Jakarta, 68% pasien yang berobat ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) adalah pengguna jarum suntik. Parahnya, sebagian besar mereka tidak menggunakan jarum suntik yang baru saat menyuntik heroin. Separuh dari mereka saling bertukar alat suntik. Separuh juga mengaku sudah pernah hubungan seksual dan hanya 14,9 persen yang menggunakan kondom.

Heroin tergolong opioid semisintetik. Heroin lebih mudah larut dalam lemak, sehingga lebih mudah menembus blood brain barrier dibanding morfin. Heroin memiliki kekuatan 3 kali dibanding morfin dengan mula kerja lebih cepat. Absorbsi pada penggunaan secara oral berlangsung lambat. Metabolisme heroin terutama terjadi di hepar dan diekskresi melalui air seni dan empedu. Lebih dari 90% ekskresi terjadi dalam 24 jam pertama walaupun metabolitnya dapat dideteksi hingga 24 jam atau lebih dalam air seni.

Metadon merupakan suatu analgetika dan euforian karena bekerja pada reseptor opioid μ. Metadon merupakan agonis golongan morfin yang berasal dari bahan sintetik. Metadon ditemukan di Jerman pada perang dunia II sebagai obat penghilang rasa sakit. Metadon memberikan efek perubahan mood yang tidak begitu kuat dibanding heroin, tapi masa kerjanya lebih lama. Metadon juga dapat mengontrol emosi, memberikan efek sedatif/mengantuk, mengurangi batuk dan segala bentuk nyeri fisik. Efek yang lain namun jarang adalah mual dan muntah serta pernafasan yang cepat. Zat ini dapat dikonsumsi per oral atau parenteral. Absorbsinya baik melalui mukosa. Waktu paruh metadon adalah 15-31 jam atau rata-rata 24 jam. Konsentrasi maksimal dicapai setelah waktu 2 jam setelah ditelan. Waktu ekskresi metadon akan berlanjut atau metabolitnya terdapat dalam air seni hingga 96 jam sesudah dosis tunggal. Konsentrasi metadon dalam jaringan otak dan organ dalam lain lebih tinggi dibandingkan kadarnya dalam darah. Ikatan ini menyebabkan terjadinya akumulasi metadon dalam badan yang cukup lama bila seseorang berhenti menggunakan metadon. Metadon di metabolisir di hati dan eliminasinya melalui air seni dan tinja.

PTRM RSU Dr Soetomo

Poliklinik Terapi Rumatan Metadon (PTRM) yang dimiliki RSU Dr Soetomo adalah salah satu di antara 3 poliklinik metadon yang ada di Indonesia. Program rumatan metadon (PRM) yang lain adalah di RSU Sanglah Denpasar dan RS Ketergantungan Obat Jakarta. Poliklinik ini diresmikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur pada 22 Februari 2006.

Tujuan utama PRM ini adalah meminimalkan risiko yang dialami penderita ketergantungan opioid dan menormalkan gaya hidup dan perilakunya. Selain itu, PRM juga mencegah penyakit yang menular melalui darah seperti HIV dan hepatitis dengan cara mengurangi pemakaian dan pertukaran jarum suntik. PRM juga dapat membantu orang yang ketergantungan obat mencapai keadaan bebas obat dengan cara detoksifikasi. Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan status kesehatan pasien menuju normal dan produktif.

Menurut Soetjipto, jumlah pejasun yang ada di Surabaya saat ini sekitar 1200 orang, Saat ini pasien yang datang tiap harinya sekitar 60 orang. Kriteria pasien yang oleh masuk dalam PRM ini adalah pasien yang memenuhi kriteria DSM IV untuk ketergantungan opioid, usia minimal 18 tahun, pejasun yang kronis-lebih dari 1 tahun menggunakan opioid dan pernah terapi lain tapi gagal, dan pejasun yang kambuh. Sedangkan pasien dengan penyakit fisik berat, psikosis, retardasi mental dan intoksikasi tidak diikutsertakan dalam program ini.

Soetjipto menambahkan bahwa pasien yang datang ke PRM umumnya karena inisiatif sendiri atau dirujuk oleh dokter. Bila pasien akan mengikuti PRM, orang tersebut akan dievaluasi klinis, tes urine dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. Selanjutnya pasien akan menandatangani surat persetujuan dan kontrak terapi. Pada pelaksanaannya pasien harus datang ke poli metadon untuk minum cairan metadon satu kali setiap hari.

Metadon disini diberikan dalam bentuk cair dan diencerkan hingga 100 kali. Pasien harus menelan metadon tersebut di depan petugas. Setelah itu, petugas akan meminta pasien menyebutkan nama atau mengatakan sesuatu untuk memastikan bahwa metadon telah ditelan.

Pada pemberian awal, yaitu fase stabilisasi dianjurkan dosis antara 15-30 mg setiap hari selama 3 hari. Dosis awal metadon tidak boleh melebihi 40 mg , bila perlu diberikan dosis yang terpisah yaitu pasien diminta kembali pada hari itu untuk menerima sisa dosis.Pernah terjadi kematian akibat pemberian dosis serendah 50 mg pada orang yang belum mengalami toleransi terhadap opioid. Pasien yang mengikuti PRM disarankan tidak menggunakan benzodiazepin, kokain, atau amfetamin karena bisa memberikan komplikasi dan prognosis yang lebih buruk. Kombinasi alkohol, sedatifa, dan opioid jangka pendek secara nyata meningkatkan risiko kematian akibat kelebihan dosis. Obat-obat golongan barbiturat, karbamazepin, estrogen, fenitoin, rifampin, spironolakton dan verapamil akan mengurangi kadar etadon dalam darah. Sebaliknya amitriptilin, simetidin, flukonazol, dan fluvoksamin akan meningkatkan kadar metadon dalam darah. Dosis metadon ditambah bila ada gejala dan tanda putus obat (withdrawal), jumlah dan frekuensi penggunaan opioid tidak berkurang dan adanya kerinduan terhadap opioid yang menetap. Penyesuaian dosis dilakukan tidak lebih dari 3 hari. Penambahan dosis lazimnya adalah antara 5-10 mg.

Menurut pengalaman Soetjipto selama di PRM, kemungkinan terjadi efek samping yang berat biasanya terjadi ketika dokter sedang menyesuaikan dosis. Efek samping yang biasanya terjadi adalah konstipasi, kepala terasa ringan, pusing, mengantuk, pikiran tidak jernih, berkeringat, mual dan muntah. Bahaya utama karena kelebihan dosis adalah pernafasan. Jika terjadi hal ini, dapat diberikan naloxon 0,2 – 0,4 mg dan dapat diulang 3-10 menit bila tidak terjadi reaksi. Antagonis opioid harus dihindari. Efek samping yang sering dirasakan adalah konstipasi. untuk mencegah hal itu pasien harus minum banyak air dan sayur serta buah. Karena tergolong opiat, metadon akan mengurangi produksi air liur yang merupakan perlindungan alami gigi. Agar tidak terjadi gigi berlubang, dianjurkan kontrol rutin dengan dokter gigi minimal setahun sekali. Selain itu juga mengurangi makan manis, menggunakan permen rendah gula, sering berkumur, dan selalu sikat gigi sesudah makan, pagi dan sebelum tidur. Terhadap fungsi seks, sebagaimana opiat lain, metadon dapat menghambat rangsangan seksual. Pada laki-laki dapat mempengaruhi ereksi. Pada wanita, akan menurunkan menstruasi karena opiat akan menurunkan hormon yang mengatur menstruasi. Namun wanita yang menggunakan masih bisa hamil. Untungnya, metadon tidak membahayakan bayi.

Dosis rumatan adalah 40-100 mg per hari. Bila dosis lebih besar dari 150 mg, harus diberikan terbagi dua. Dosis pertama pagi hari dan dosis kedua pada petang hari. Sesudah 18-24 bulan, dokter dan psikiater harus membicarakan sekiranya pasien mau dan kapan berhenti mengikuti PRM. Bila pasien memutuskan berhenti dari PRM, dosis metadon harus diturunkan 10% tiap minggu, dan ketika dosisnya mencapai 20-30 mg, dosis dapat dikurangi 1 mg per minggu. Saat berhenti menggunakan metadon, tubuh akan memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan putus zat seperti kedinginan, namun suhu lebih tinggi dari normal. Perasaan tidak tenang dan cemas juga mungkin dirasakan. Gejala lain yang dirasakan adalah tangan dan kaki kaku, gangguan tidur, diare, merasa sakit, mata dan hidung berair, nyeri tulang dan sendi serta sering menguap dan bersin. Jika pasien tidak bisa hadir di klinik, dosis bawa pulang hanya diberikan bila pasien datang didampingi oleh orang tua/walinya. Jumlah tersebut sesuai dengan jumlah hari ketika ia tidak bisa datang ke klinik. Dosis bawa pulang tidak dianjurkan dalam 1 bulan pertama. Bila pasien tidak datang ke PRM 1 hari atau lebih dalam 1 bulan, harus dilakukan reevaluasi terhadap pasien. Bila pasien tidak datang ke PRM 5 hari berturut-turut pasien dikeluarkan dari program ini. Untuk dapat mengikuti program ini lagi, pasien harus melalui prosedur di awal. Pasien terpaksa dikeluarkan dari PRM bila mengancam keselamatan, terlibat dalam perilaku yang merusak di tempat PRM, dan terlibat tindak kekerasan terhadap orang lain.

(Sumber : Iffa/Surabaya, http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=785)

Metadon

Apa Metadon Itu?

Metadon adalah opiat (narkotik) sintetis yang kuat seperti heroin (putaw) atau morfin, tetapi tidak menimbulkan efek sedatif yang kuat. Metadon biasanya disediakan pada Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM), yaitu program yang mengganti heroin yang dipakai oleh pecandu dengan obat lain yang lebih aman.

Metadon bukan penyembuh untuk ketergantungan opiat: selama memakai metadon, penggunanya tetap tergantung pada opiat secara fisik. Tetapi metadon menawarkan kesempatan pada penggunanya untuk mengubah hidupnya menjadi lebih stabil dan mengurangi risiko terkait dengan penggunaan narkoba suntikan, dan juga mengurangi kejahatan yang sering terkait dengan kecanduan. Dan karena diminum, penggunaan metadon mengurangi penggunaan jarum suntik bergantian.

PTRM sering mempunyai dua tujuan pilihan. Tujuan pertama adalah untuk membantu pengguna berhenti memakai heroin (detoksifikasi), diganti dengan takaran metadon yang dikurangi tahap-demi-tahap selama jangka waktu tertentu. Tujuan kedua adalah untuk menyediakan terapi rumatan, yang memberikan metadon pada pengguna secara terus-menerus dengan dosis yang disesuaikan agar pengguna tidak mengalami gejala putus zat (sakaw).

Bagaimana Metadon Dipakai?

Metadon biasanya diberikan pada klien program dalam bentuk cairan (larutan sirop) yang diminum di bawah pengawasan di PTRM setiap hari. Setiap klien membutuhkan takaran yang berbeda, karena adanya perbedaan metabolisme, berat badan dan toleransi terhadap opiat. Beberapa waktu dibutuhkan untuk menentukan takaran metadon yang tepat untuk setiap klien. Pada awalnya, klien harus diamati setiap hari dan reaksi terhadap dosisnya dinilai. Jika klien menunjukkan tanda atau gejala putus zat, takaran harus ditingkatkan. Umumnya program mulai dengan takaran 20mg metadon dan kemudian ditingkatkan 5-10mg per hari. Biasanya klien bertahan dalam terapi dan mampu menghentikan penggunaan heroin dengan takaran metadon sedang hingga tinggi (60-100mg).

Apa Efek Samping Metadon?

Walaupun metadon biasanya ditoleransi dengan baik, kadang kala klien mengalami efek samping:

* mual
* muntah: 10-15% mengalami efek samping ini, yang biasanya hilang setelah beberapa hari
* sembelit: seperti opiat lain, gizi dan olahraga dapat membantu
* keringat: dapat muncul sebagai efek samping, atau karena takaran metadon tidak sesuai
* amenore: masa haid terlambat, atau kadang kala lebih teratur
* libido: metadon dapat menurunkan gairah seksual
* kelelahan: dapat dikurangi dengan mengurangi takaran
* gigi busuk: disebabkan oleh sirop

Informasi mengenai efek samping yang mungkin akan terjadi harus diberikan pada klien.

Apakah Metadon Berinteraksi dengan Obat Lain?

Metadon dapat berinteraksi dengan obat lain atau suplemen yang dipakai bersamaan (lihat Lembaran Informasi (LI) 407). Untuk informasi khusus mengenai interaksi antara metadon dan obat yang sering dipakai oleh Odha, lihat tabel di bawah.

Dapat disimpulkan bahwa metadon tidak mempengaruhi takaran obat antiretroviral (ARV) atau obat TB selain ddI (lihat Lembaran Informasi (LI) 413) versi dapar (buffered) dan AZT (LI 411). Bila ada klien metadon yang memakai ddI, mungkin takaran ddI harus dinaikkan atau sebaiknya ddI versi dapar diganti dengan ddI EC (bila tersedia). Bila dipakai AZT (atau pil kombinasi yang mengandung AZT, mis. Duviral), mungkin efek samping AZT timbul kembali. Karena efek samping ini dapat serupa dengan sakaw, harus hati-hati membedakannya. Hal serupa terjadi setelah mulai terapi untuk hepatitis C.

Tetapi beberapa obat dapat mempengaruhi efek metadon. Jadi petugas PTRM seharusnya selalu memantau penggunaan obat lain oleh kliennya. Bila setelah mulai memakai obat lain, klien mengalami sakaw atau sedasi, sebaiknya takaran metadon disesuaikan. Sebaliknya, setelah obat tersebut dihentikan, takaran metadon harus disesuaikan lagi.

Garis Dasar

Metadon adalah opiat sintetis yang dapat dipakai oleh pengguna narkoba suntikan untuk mengganti heroin bila dia tidak dapat berhenti memakainya akibat kecanduan.

Karena ada interaksi antara metadon dengan beberapa obat yang dipakai oleh Odha, petugas PTRM harus mengetahui bila klien mulai memakai obat baru, atau berhenti memakainya, agar takaran metadon dapat disesuaikan bila dibutuhkan.

gam 10

(Sumber : http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=670)

2 comments :

Anonim mengatakan...

saya pernah dengar bahwa ptrm ini dibarengi dengan hipnoterapi??lalu apa fungsi hipnoterapi??

EJA mengatakan...

Pengertian sederhana tentang hipnoterapi adalah pem berian sugesti positif kepada seorang atau kedalam diri sendiri untuk mempengaruhi alam bawah sadar. Pada dasarnya hal ini merupakan pendayagunaan alam bawah sadar untuk mengembalikan keseimbangan fungsi tubuh. Semua sistem dalam tubuh dikendalikan oleh alam bawah sadar dan berlangsung secara otomatis tanpa disadari. Contohnya pernafasan, detak jantung, peristaltik usus, kelenjar ludah dan asam lambung. Sedangkan untuk penyembuhan penyakit, hipnoterapi dipergunakan sebagai sugesti yang dibuat sedemikian rupa sesuai kondisi kesehatan pasien sehingga penyakitnya bisa disembuhkan.

Posting Komentar