gam 10Surabaya - Komisi Pemberantasan HIV/AIDS (KPA) Jawa Timur mencatat 38 persen kasus HIV/AIDS ditularkan oleh pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (Napza).

"Pengguna Napza secara suntik merupakan kelompok yang paling rawan tertular dibandingkan penjaja seks dan pasangannya," kata Tim Asistensi KPA Jatim, dr. Windhu Purnomo, di Surabaya, Jumat.

Menurut dia, penularan lewat penjaja seks mencapai 30 persen, sedangkan pengguna Napza jarum suntik lebih besar, karena proses penularan virus HIV/AIDS itu paling cepat melalui darah.

"Penularan HIV/AIDS melalui Napza suntik paling besar terjadi di daerah Goondang Legi, Kabupaten Malang," katanya.

Sementara dari pengguna Napza tersebut, sebanyak 78 persen adalah pecandu sekaligus pengedar.

"Proses membuat jera para pengguna Napza justru seharusnya tidak dilakukan dengan cara memenjarakan mereka di tahanan, namun ada beberapa langkah dan tahapan," katanya.

Langkah pertama dan paling utama adalah memberikan pelayanan kesehatan mereka dengan memasukkan mereka ke pusat rehabilitasi.

"Jika para pecandu dimasukkan ke tahanan, maka mereka akan mengalami depresi, sehingga penjara tidak akan menghentikan pecandu dari kecanduannya," katanya.

Selain itu, ancaman memasukkkan para pecandu ke tahanan membuat mereka tidak berani muncul ke permukaan, sehingga menyulitkan dalam proses penemuannya.

"Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab penderita HIV/AIDS seolah-olah seperti sebuah fenomena gunung es," katanya,
Oleh karena itu, perlu ada Perda Pengurangan Dampak Buruk Napza di Jawa Timur yang tidak berarti membebaskan begitu saja para pengguna Napza dari pertanggungjawab hukum, tetapi mempertegas pengguna Napza untuk menjalani tindakan terapi dengan masuk rumah rehabilitasi.

(Sumber : http://www.antarajatim.com/lihat/berita/24005/38-persen-hivaids-ditularkan-pengguna-narkotika)

0 comments :

Posting Komentar