gam 10Pelayanan metadon, sistem pengobatan pecandu narkoba dengan menggunakan obat yang dimasukkan dalam mulut (peroral), bulan depan mulai ada di tiga puskesmas Surabaya. Tiga puskesmas itu berada di Kali Rungkut, Jagir, dan Manukan Kulon.

''Akhir bulan ini masih dilakukan pelatihan bagi paramedis yang melayani sistem pengobatan metadon itu,'' jelas Rudhy Wedhasmara, koordinator East Java Action (EJA) Surabaya, LSM yang bergerak dalam proses rehabilitasi pecandu narkoba, kemarin (12/4).

Selama ini, pelayanan pengobatan secara metadon hanya ada di RSU dr Soetomo. Tapi, mengingat banyaknya pasien yang berobat secara metadon, pelayanan di lapangan diperluas hingga ke puskesmas.

''Selain tiga puskesmas itu, pelayanan yang sama juga dilaksanakan di Puskesmas Waru, Sidoarjo, dan RSUD Sidoarjo,'' jelas Rudhy.Menurut dia, pengobatan dengan menggunakan metadon dinilai cukup membantu para pasien yang ingin berhenti menggunakan obat-obat terlarang.

Jangka waktu yang ditempuh dengan sistem pengobatan itu memang sangat bergantung kedisiplinan pasien dalam berobat. Bisa dalam hitungan bulan, tapi ada juga yang hingga lebih dari setahun.Sekali pemakaian narkoba melalui jarum suntik (putauw) dibutuhkan biaya sekitar Rp 50 ribu-Rp 100 ribu dengan masa kerja obat sekitar 3-4 jam.

Dalam sehari, dibutuhkan uang sekitar Rp 200 ribu untuk memenuhi kebutuhan obat narkoba suntik tersebut.''Sedangkan dengan metadon, hanya butuh Rp 5 ribu selama 24 jam,'' kata Rudhy. ''Selain itu, sistem metadon bisa menurunkan angka penularan penyakit HIV/AIDS melalui jarum suntik,'' tandasnya.

(Sumber : http://www.aidsindonesia.or.id/news.php?id_news=384&id_kategori=3&news1Page=27)

0 comments :

Posting Komentar