gam 10Selalu saat mengingat Hari AIDS Sedunia, yang muncul sederet angka penderita yang melonjak. Setiap tahun juga orang berbicara tentang hal yang sama: penularan, rencana penanggulangan, dan berbagai aksi yang membuat orang tiba-tiba punya perhatian besar.

Ketika Hari AIDS yang jatuh setiap 1 Desember lewat, rontok juga perhatian pada masalah besar ini. Kepedulian dan aksi nyata yang dilakukan para pemberi perhatian kemarin masih sporadis jika tidak bisa dikatakan mampet.

Seperti peringatan yang dilakukan aktivis anti-AIDS di Sidoarjo, dengan membeber spanduk raksasa dan menggalang tanda tangan untuk mewaspadai bahaya AIDS, Selasa (1/12). Entah kewaspadaan apa yang diharapkan dengan sekadar tanda tangan, penempelan stiker, pembagian bunga, dan selebaran yang diterima sesaat setelah itu dimasukkan saku.


Perlakuan manis saat memperingati Hari AIDS kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak muncul sesudahnya. Stigma masyarakat tetap menyudutkan ODHA dan menganggap mereka berperilaku seks menyimpang dan harus dijauhi karena bisa menular. Tentu saja stempel yang menyakitkan ini makin membuat ODHA enggan terbuka dan berobat karena jika ketahuan, risiko sosial yang ditanggungnya makin besar.

Bahkan Kepada Dinas Kesehatan Surabaya, Esty Martiana Rachmie, mengaku kesulitan menggali para penderita yang diyakininya seperti fenomena gunung es. “Stigma itu yang bisa mejadi faktor orang masih enggan menjalani VCT (voluntary counseling and testing) meski tahu dirinya berisiko terkena HIV/AIDS,” kata Esty. Diperkirakan lebih dari 3.000 orang di Surabaya merupakan orang dengan HIV.

Berdasarkan data Dinkes Surabaya tercatat sejak 2004-Juni 2009 ada 3.278 kasus yang ditemukan. Enam bulan pertama tahun ini ada 142 penderita positif HIV (ODHIV). Sedangkan penderita AIDS mencapai angka 199 orang. Berarti tahun ini setiap hari jatuh satu penderita baru.

Kondisi ini dibenarkan Rudhy Wedhaswara, General Coordinator East Java Action (EJA) yang menyebut banyak ODHIV yang selalu diperlakukan tidak semestinya. “Masih banyak penderita yang trauma memeriksakan diri karena perlakuan buruk pelayanan kesehatan juga karena takut ditangkap polisi (bagi penderita dari kelompok pengguna narkoba),” ujar Rudhy. Karenanya diharapkan ada pola penanganan yang sinergi dari sisi kesehatan dan hukum termasuk pusat rehabilitasi pengguna narkoba.

Sikap negatif pelayanan kesehatan dirasakan ketika mereka sakit. Menurut Hari Cahyono, Kepala Divisi Advokasi Eja yang memiliki simpul di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Madiun, Malang dan Mojokerto, saat ditemui Senin (30/11), mereka serba salah. ”Karena ditolak dokter gigi, akhirnya ODHIV membeli peralatan dan mencabut gigi sendiri,” kata Hari. Banyak dokter atau perawat rumah sakit yang jijik.

“Masa begitu tahu ODHIV, ada seorang dokter di rumah sakit ternama memegang kertas laporan kesehatan dengan jari telunjuk dan jempol di ujung kertas. Memang kertas bisa menularkan?” kata Hari.
Penyakit ini ditemukan tahun 1884. Saat itu seorang pemburu menembak simpanse di dekat Kinshasa, Afrika. Sebagian darah hewan itu masuk ke dalam tubuh manusia, diduga melalui luka terbuka.

Darah ini membawa virus yang tidak berbahaya untuk simpanse namun mematikan bagi manusia, itulah HIV.

Virus ini menyebar lewat koloni manusia. Baru pada 1981 muncul kasus pertama di Amerika Serikat dan menyebar dengan sangat cepat sehingga saat ini ada 33 juta orang hidup dengan HIV.

Di Jember, sebagian besar ODHA diderita mereka yang masih dalam usai produktif. Waria, mahasiswa, petugas kesehatan, petugas dari klinik VCT yang tergabung dalam Banyuwangi Community Support di Banyuwangi harus menyerukan agar tidak membedakan perlakuan terhadap ODHA. ”Kita harus menghindari virusnya, bukan penderitanya,” ujar para aktivis itu.

Tak sekadar menyapa pemakai jalan untuk mengingatkan, 100 orang dari Aliansi Jombang Peduli AIDS yang turun ke jalan mendorong Pemkab Jombang segera melahirkan peraturan daerah (perda) tentang HIV dan AIDS. Menurut para aktivis, seharusnya ada perda yang mengatur masalah AIDS agar pemberantasan HIV/AIDS di daerah bisa sejalan dengan rencana aksi dan strategi nasional pemberantasan HIV/AIDS.

Apalagi menurut Plt Kabid Pencegahan Penyakit dan Pembinaan Lingkungan (P2L) Dinas Kesehatan Kota Mojokerto, Ida Nurdiyati, banyak ibu rumah tangga tertular dari suaminya. Para ibu ini rentan terhadap penularan jika tidak mengerti apa yang seharusnya dia lakukan untuk membentengi kesehatannya.

Tak sekadar mengingatkan, masyarakat yang mudah lupa ini butuh ‘cubitan’ supaya tahu apa yang harus dilakukan. Salah satunya dengan cara yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia Kota Madiun, yang menolak penggunaan kondom sebagai salah satu cara pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS. Penggunaan kondom dianggap tidak terbukti mengurangi penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun, justru jumlahnya bertambah. Program penggunaan kondom justru mendorong perilaku seks bebas dilegalkan. rey/t3/st8/st14//bet/st9

(Sumber : http://www.surya.co.id/2009/12/02/peringatan-hari-aids-sedunia-setiap-hari-satu-penderita-bertambah-di-surabaya.html)

0 comments :

Posting Komentar