gam 10Penanganan terhadap penasun terkait persoalan HIV/AIDS di kota Surabaya telah ada sejak tahun 2002. Program penggurangan dampak buruk narkoba – HARM REDUCTION telah di lakukan oleh Yayasan Talenta dengan Support ASA-FHI. Kegiatan ini melalui strategi ILOM [indegenous leaders outreach model] dengan didukung pendekatan menggunakan 12 komponen yaitu: Penjangkauan dan pendampingan; Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE); Penilaian pengurangan resiko; Konseling dan testing sukarela (VCT); Program penyucihamaan; Program layanan jarum suntik steril (LJSS); Pemusnahan peralatan seluruh bekas pakai; Layanan terapi ketergantungan NAPZA; Pusat layanan subtitusi oral; Layanan perawatan, didukung dengan pengobatan (CST); Pelayanan kesehatan dasar; Pendidikan sebaya. Yayasan Talenta melaksanaan program Harm Reduction tersebut pada kurun waktu tahun 2002-2005. Di pertengahan tahun 2005, muncul sebuah lembaga yang melakukan hal serupa kepada penasun yaitu Yayasan Orbit Surabaya dengan support GF ATM, namun kegiatan yang di lakukan tidak melingkupi seluruh komponen. Sementara itu, di pertengahan tahun 2006 terdapat Yayasan Bina Hati Surabaya dan LSP2 yang mendapatkan support oleh ASA-FHI, akan tetapi sejak tahun 2008, LSP2 tidak meneruskan programnya hingga saat ini.

Menurut data rekapitulasi secara komulatif oleh KPA Provinsi di kota Surabaya per Agustus 2009 telah terjangkau 1.405 penasun. Sedangkan data estimasi penasun tertinggi di kota Surabaya adalah 4.230 dan estimasi rata-rata sejumlah 2.200. Sementara itu, di pertengahan tahun 2009 , telah terdapat Yayasan Media dengan support oleh GF ATM untuk pelaksanaan program Harm Reduction dengan target capaian penjangkauan per tahun sejumlah 350 penasun. Hal ini, jika di hitung secara terbatas menurut estimasi tertinggi di kota Surabaya dikurangkan dengan rencana penjangkauan oleh Yayasan Media, maka jumlah penasun yang belum teridentifikasi/terjangkau program di kota Surabaya adalah sejumlah 2.475. Sedangkan, jika mengacu dengan data estimasi rata-rata, maka jumlah penasun yang belum terjangkau adalah sekitar 400 penasun.

Berdasar tata administratif pemerintahan kota Surabaya, terdapat 31 kecamatan dengan 163 kelurahan. Mengacu dari data rekapitulasi penjangkauan kepada penasun oleh KPA Provinsi di kota Surabaya, telah terdapat 28 kecamatan dengan sejumlah 56 kelurahan/hotspot yang telah terjangkau oleh program. Sehingga terdapat 3 kecamatan dan 107 kelurahan yang belum tersentuh program. Sementara itu data kasus HIV/AIDS di kalangan penasun menurut KPA Kota surabaya hampir terdapat di seluruh kecamatan. Sedangkan data penangkapan menurut polisi wilayah kota besar (Polwiltabes) kota Surabaya terdapat rata-rata kasus penangkapan narkoba per tahun sejumlah 1.300 kasus dengan konstribusi penangkapan oleh markas polisi sektor (mapolsek) untuk area kecamatan sebesar kurang lebih 30%. Dari data ini, mengindikasikan bahwa populasi pengguna narkoba termasuk penasun di kota Surabaya tersebar hingga ke penjuru kota. Penyebaran populasi penasun ini di tunjang dengan seringnya terjadi pengerebekan oleh pihak kepolisian yang menjadikan penasun mempunyai mobilitas yang tinggi. Sehingga, konsentrasi peredaran narkoba yang sebelumnya hanya terletak di beberapa wilayah kecamatan, saat ini hampir di setiap wilayah di ketemukan pengguna dan pengedar kecil. Namun, hal ini memerlukan penjajakan pemetaan populasi penasun yang lebih mendalam kembali untuk menentukan besaran populasi di tingkat kecamatan dan kelurahan/hotspot.

Pada tahun 2003, di kota Surabaya telah terdapat berbagai layanan kesehatan dasar bagi penasun dalam memperoleh VCT, pemeriksaan IMS, CST dan ART di rumah sakit rujukan (provinsi). Selain itu, terdapat 2 layanan kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang memberikan layanan serupa, namun konsentrasinya tidak di fokuskan kepada penasun saja melainkan secara umum. Pada tahun 2006, muncul berbagai pelayanan kesehatan di antaranya PTRM di RSUD Dr Soetomo, Klinik VCT di 6 lokasi di antaranya berada di RS Suwandi, RSAL Ramelan, RS Karang Tembok dan Puskesmas Perak Timur serta Puskesmas Putat. Beberapa dari pelayanan kesehatan tersebut di suppport oleh GF ATM dan ASA-FHI. Saat ini, untuk layanan VCT telah terdapat di 16 lokasi, baik di klinik maupun rumah sakit. Dari jumlah total tersebut terdapat 9 layanan PMTCT, 5 layanan CST, 2 layanan ART, 6 layanan kesehatan dasar pengguna napza suntik termasuk LAJSS dan 2 layanan PTRM. Layanan kesehatan dasar bagi penasun yang terdapat di Puskesmas ini merupakan dukungan support oleh HCPI. Dalam sebulan Puskesmas dapat menerima 5-10 klien baru hingga maksimal sebesar 50-100 per tahun. Sementara itu, untuk memberikan hasil optimal dalam meningkatkan akses layanan kesehatan yang ada, lembaga international yang telah memberikan dukungan pada layanan kesehatan ini mengembangkan beberapa program kegiatan yaitu Manajemen Kasus (MK), Lay Support, dan Kader PKM.

Dengan peningkatan jumlah akses layanan kesehatan pada penasun diharapkan dapat memberikan konstribusi dalam perubahan perilaku. Berdasar hasil dari Survey Terpadu Biologis Perilaku (STBP) di kota Surabaya pada tahun 2007 menunjukan data sebagai berikut:

Perilaku terkait napza pada Penasun

gam 10
*Per 100orang penasun

Perilaku seksual pada Penasun

gam 10
*Per 100 orang penasun

Di sisi lain, penanganan dengan pendekatan rehabilitasi napza di kota surabaya telah terdapat pada tahun 1987 oleh badan penanggulangan korban narkotika [BAPENKAR] di RSUD Dr Soetomo. Sedangkan pendekatan secara religi -alternatif- belum dapat diidentifikasikan pertamakali adanya rehabilitasi tersebut di kota Surabaya. Trend terdapatnya rehabilitasi napza muncul pertama kali di tahun 1996. Pertamakali oleh Graha Panca Atma dengan pendekatan detoksifikasi, kemudian pendekatan religi dilakukan oleh pondok pesantren INABAH suralaya. Di tahun 1999 terdapat panti rehabilitasi yang menggunakan pendekatan terapheutic community (TC) Wahana Kinasih. Sedangkan di tahun 2004, terdapat Jalakanya yang dikelola oleh Angkatan Laut, kemudian disusul oleh Dinas Sosial Provinsi dengan UPT Teratai melakukan pendekatan yang serupa pada tahun 2006. Pada tahun 2008 Yayasan Permata Hati Kita (Yakita) melakukan pendekatan yang sama dengan mengadopsi program 12 langkah. Dari panti rehabilitasi yang ada, belum teridentifikasi capain keberhasilan pemulihan pada pengguna napza yang mengakses layanan tersebut. Sementara itu, kelompok dukungan sebaya dengan konsep Narcotic Anonymous (NA) telah terdapat pada tahun 2004. Saat ini, rehabilitasi napza yang tidak aktif adalah Jalakanya dan Wahana Kinasih. Sementara itu pula, di tahun ini telah terdapat AFTER CARE yang di inisiasi oleh Badan Narkotika Provinsi yang berkonsentrasi pada pemberdayaan secara ekonomi dan pasca rehabilitasi.

Kelompok dukungan Sebaya muncul di kota Surabaya bersamaan dengan terdapatnya beberapa akses layanan kesehatan lanjutan untuk penanganan HIV/AIDS pada tahun 2006. Saat ini terdapat 4 kelompok dukungan sebaya dengan berbagai latar belakang populasi kunci yang dikoordinir oleh satu kelompok penggagas. Dengan berkembangnya kelompok dukungan bagi penasun, muncul suatu kebutuhan bahwa permasalahan HIV/AIDS terutama permasalahan keseharian dari penasun itu sendiri, tidak hanya terletak pada isu kesehatan saja melainkan juga terdapat pada isu di wilayah hukum dan HAM. Pada tahun 2007 terbentuk jaringan korban napza untuk mensikapi permasalahan dan kebutuhan tersebut.

Update situasi ini di peroleh melalui data dan wawancara dengan sumber yaitu: KPA Provinsi Jawa Timur; BNP Jawa Timur; KPA Kota Surabaya; Dinkes Kota Surabaya; FHI; HCPI; LSM Peduli Napza; Jaringan Korban Napza; KDS; RSUD Dr Soetomo; Panti Rehabilitasi; Kepolisian Surabaya

(Sumber : Rudhy Sinyo)

0 comments :

Posting Komentar