gam 10Sejumlah negara di Amerika Latin mengijinkan kepemilikan ganja sampai batas lima gram untuk penggunaan sendiri. Bisakah pola ini diterpakan di Indonesia?

Diharapkan undang-undang Amerika Latin ini bisa mengurangi peredaran narkoba ilegal, sehingga lebih bisa dipantau dan diawasai pemerintah.
Apakah kebijakan macam ini juga bisa diterapkan di Indonesia? Ikuti keterangan Anhar Nasution, anggota panitia kerja RUU Narkotika, yang kini telah disahkan DPR sebagai UU:

Subhan Hamonangan dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat RSKO Jakarta juga tidak setuju legalisasi kepemilikan narkotika dalam jumlah kecil. Menurutnya kultur tiap negara sangat berpengaruh terhadap efektivitas regulasi yang diberlakukan:

Tapi kalau di Indonesia, tambah Subhan Hamonangan, program tersebuh masih kurang optimal:

Tingkat kesadaran
Sementara menurut Anhar Nasution tingkat kesadaran di Eropa juga jauh lebih tinggi ketimbang generasi muda Indonesia, sehingga kebijakan lunak obat bius di sejumlah negara Amerika Latin dan Eropa sulit diterapkan di Indonesia.

Melalui kebijakan obat bius lebih lunak negara-negara di Amerika Latin berharap bisa mengatur permintaan dan penawaran narkoba. Tapi, ujar Anhar Nasution, di Indonesia itu sangat sulit.

"Pasar kita tingkat remajanya ini sudah addict. Lihat saja komunitas anak-anak SMP yang kurang terawasi dengan orangtuanya. Ini kan pasar bebas yang sangat empuk. Walaupun mungkin sedikit pengguna, tapi dikalikan banyak, itu menjadi pasar potensial bagi para bandar. Kalau ini dibiarkan atau diberikan pelonggaran, dengan sangat leluasa mereka menciptakan pasar ini tadi. Kalau itu saja bisa dipelihara sama dia, berlanjut sampai umur 17 tahun mereka sudah kecanduan yang begitu berat, bagi kita sulit. Masyarakat kita kan sangat banyak. Jadi agak sulit kita berbicara soal mengontrol demand, karena pasar kita sangat besar."

"Kemudian yang kedua, mereka itu tingkat kewaspadaan dirinya ataupun orang-orang yang menggunakan narkoba itu relatif yang lebih berumur. Tetapi kalau di kita data Departemen Kesehatan menyatakan 8000 anak tingkat SD terkena narkoba. Artinya apa? Para pengedar, para produsen itu melihat Indonesia ini adalah pasar yang potensial. Karena jumlah penduduknya cukup besar, karena tingkat kerawanannya juga begitu tinggi, tingkat kesadaran masyarakatnya akan hal-hal yang sangat berbahaya itu juga rendah, sehingga ini dijadikan pasar. Kalau pintu itu kita buka di Indonesia, ini mungkin akan berlipat kali percepatan dari ada yang sekarang ini."

"Seperti contohnya di Needle Exchange Program, pertukaran jarum suntik, mungkin hanya untuk sebagian kecil masyarakat hal tersebut bisa berlaku secara efektif. Tapi ternyata masih banyak juga pihak lain yang mungkin juga kurang paham dengan tujuan program tersebut sehingga belum apa-apa dia sudah kontra duluan dengan program yang dijalankan. Contohnya dari berbagai macam lembaga-lembaga swadaya masyarakat berbasiskan keagamaan. Mereka hanya melihat, oh dengan pertukaran jarum suntik kita melegalkan mereka untuk pakai. Oh dengan membagikan kondom secara cuma-cuma sama saja dengan mendukung terjadinya seks bebas. Pola pikir yang masih belum seragam ini yang terkadang masih menjadi kendala."

"Negara kita, Indonesia adalah negara pluralis. Akan sulit di kita menerapkan satu regulasi baku secara rata terhadap seluruh lapisan masyarakat atas dasar mencontoh keefektivan regulasi tersebut di negara lain. Jadi pola pikir dari masyarakat kita pun sangat berbeda. Seperti contohnya berapa pendekatan yang telah dilakukan program NEP Needle Exchange Program atau Substitution Program. Hal tersebut mungkin efektif di negara-negara lain, di Eropa atau di Polandia. Methadon, suboxon dan Needle Exchange Program cukup efektif. Program yang disediakan dengan kesadaran yang ada, kesadaran yang timbul berjalan secara sinergis."

"Itu sama sekali tidak memungkinkan karena UU kita yang baru ini sebagai revisionary UU lama itu jelas-jelas menyatakan bahkan barangsiapa yang memiliki, itu golongan satu, walaupun hanya untuk diri sendiri, dikenakan sanksi hukum, walaupun dia termasuk korban. Namun kita kategorikan ada pengguna pemula, itu bisa direhab. Kemudian karena ini kita menganggap extraordinary crime, maka kita bersepakat semua fraksi dan pemerintah untuk di atas lima gram, itu dikenakan sanksi hukum minimal lima tahun. Selanjutnya bergradasi. 15 gram ke atas bisa jadi seumur hidup bahkan bisa hukuman mati."

(Sumber: http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/kebijakan-lunak-narkoba-sulit-diterapkan-di-indonesia)

0 comments :

Posting Komentar