gam 10Menerapi Untuk Tebus Kesalahan Masa Lalu

Biasa mabuk minuman keras sejak SMP, Syaifullah meningkatkan kesesatannya dengan memakai berbagai jenis narkoba. Setelah sembuh, Syafullah memilih hidup sebagai penyembuh, terutama untuk rehabilitasi narkoba dan HIV/AIDS.

SETIAP
Sabtu siang, Kantor Yayasan Abdi Asih di Dukuh Kupang Timur selalu ramai pengunjung. Suasana itu berlangsung sekitar sebulan terakhir. Tak kurang dari 40-50 orang sabar menunggu di kantor kecil tersebut. Mereka antre menghadap Syaifullah, yang membuka praktik totok darah di kantor tersebut.

Jam praktiknya delapan jam mulai pukul 12.00. Konon, pengelola sekaligus terapis Klinik Rehabilitasi Narkoba dan HIV/AIDS, Batu, itu bisa menangani semua jenis penyakit. Karena itulah, Liliek Sulistyowati, koordinator Yayasan Abdi Asih, mengajak Syaifullah buka praktik di kantornya. ''Maksud saya agar masyarakat tak mampu di lingkungan saya bisa memperoleh akses pengobatan meski hanya alternatif,'' katanya.

Wanita yang akrab dipanggil Mbak Vera itu memang kenal baik dengan Syaifullah. Sebab, klinik di Batu itu selalu menjadi jujukan bagi yayasannya jika kesulitan merawat ODHA (orang dengan HIV/AIDS). ''Di klinik itu gratis dan bersifat sosial,'' kata Vera.

Syaifullah rela pergi pulang Surabaya-Batu setiap Sabtu. ''Apalagi untuk tujuan sosial,'' kata pria lajang itu. Pria kelahiran Bondowoso itu memang bertekatd mengabdikan diri sebagai terapis. Dia mengistilahkannya sebagai penyembuh.

''Saya memilih jadi penyembuh karena telah menyia-nyiakan masa muda saya,'' katanya. Masa lalu Syaifullah memang cukup kelam. Tanpa sungkan dia menyebut masa lalunya sebagai pemuda salah arah. ''Kalau sekadar berkelahi, itu biasa. Saya jauh lebih buruk, menjadi pecandu narkoba,'' bebernya.

Pria 30 tahun itu mengaku sudah akrab dengan miras (minuman keras) sejak kelas 1 SMP. ''Biasa, terbawa lingkungan,'' katanya lantas tersenyum. Menginjak kelas 3 SMP sampai SMA meningkat memakai ganja. Tiada hari tanpa ganja. ''Saya kalau merokok itu bukan rokok biasa. Selalu ganja,'' katanya. Keluarganya cukup berada sehingga Syaifullah selalu punya uang. ''Apalagi, saat itu ganja masih murah dan gampang didapat.''

Kebiasaan buruk itu terus dilakoni sampai masuk ITN Malang pada 1997. Bahkan, hal itu makin menjadi karena dia punya bisnis ekspor-impor pakaian. ''Punya cukup uang, membujang, biasa mabuk sejak kecil, maka tentu saja saya kemudian mencoba yang lain,'' urainya.

Syaifullah pun akrab dengan putauw. Saking seringnya, dosis pemakaiannya cukup tinggi. Tiap hari dia sanggup menghabiskan satu gram produk narkoba limbah heroin tersebut. ''Entah itu di-cucauw (suntik, Red) atau di-drug (dibakar di atas kertas rokok dan asapnya diisap) semua saya lakukan,'' paparnya.

Saat itu Syaifullah mengaku benar-benar terlena oleh buaian narkoba yang menyesatkan. ''Pendek kata, hidup saya sederhana sekali. Pagi bangun tidur langsung pakai narkoba. Mau beraktivitas pakai narkoba, senggang dikit pakai narkoba, menjelang tidur juga pakai narkoba,'' katanya.

Lama-kelamaan Syaifullah merasa hidupnya kosong. ''Tak berarti. Pengen berhenti, tapi tak bisa-bisa,'' kenangnya. Benda laknat itu seperti terus menempel. ''Makanya, saya paham sekali bila ada pecandu yang sudah punya niat berhenti, tapi tak bisa berhenti,'' imbuhnya.

Pada 1999 Syaifullah mengalami kecelakaan sepeda motor. Tidak hanya sekali, tapi tiga kali dan fatal. Dia juga gegar otak berat. ''Semua gara-gara narkoba. Saat itu saya teler dan kecelakaan,'' kenang pria kelahiran 19 April 1979 itu.

Bahkan, dia sempat mengalami amnesia dan kemampuan bahasa Inggrisnya menjadi pasif. ''Padahal, sebelumnya bahasa Inggris saya aktif,'' ujarnya. Kondisinya mengenaskan.

Untunglah, salah seorang rekan bisnisnya, Bambang Oetoyo, bisa melakukan terapi totok darah. Pegiat Perguruan Silat Walet Putih itu kemudian melakukan terapi kepada Syaifullah. Perlahan-lahan dan berangsur-angsur Syaifullah pulih.

Pengobatan itu ternyata tidak hanya menyembuhkan amnesia Syaifullah. ''Totok darah yang dilakukan Pak Bambang juga menyembuhkan ketergantungan narkoba,'' ujarnya. ''Saya memang ingin berhenti, tapi tak bisa karena terus-terusan sakauw. Setelah menjalani terapi, saya tak pernah mengalami gejala sakauw. Itu memudahkan saya untuk berhenti mengonsumsi narkoba,'' lanjut Syaifullah.

Setelah sembuh, dia merasa seperti berutang budi dan nyawa. Karena itu, Syaifullah berjanji membaktikan hidupnya sebagai terapis. Dia kemudian mempelajari ilmu totok darah. Tiga tahun lalu Syaifullah berhasil menyembuhkan penyakit ginjal seorang dokter.

Dokter itu lalu berbaik hati meminjamkan lahannya di Mojorejo, Batu, kepada Syaifullah. Di situlah Syaifullah mendirikan klinik rehabilitasi narkoba dan HIV/AIDS. Sekarang ini rata-rata setiap hari klinik tersebut menangani 12 ODHA dan 17 pecandu narkoba.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Syaifullah membuka bisnis jasa suplier. ''Yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi, fokus utama saya adalah penyembuhan,'' katanya. ''Saya ingin menebus kesalahan masa lalu dengan menjadi orang berguna bagi yang lain,'' tambahnya. (cfu)

(Sumber : http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=58036)

0 comments :

Posting Komentar