gam 10TEMPO Interaktif, SURABAYA - Komisi Hukum dan Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur, menggunakan hak inisiatif untuk segera membuat rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang penggurangan dampak buruk penggunaan narkoba.

Ketua Komisi Sabron Djamil Pasaribu mengatakan hal itu ketika menanggapi desakan puluhan pengguna Narkotika Psikotropika dan Zat adiktif lain (Napza) yang mendatangi kanto DPRD, Senin (8/2). Mereka meminta pembahasan Perda tentang dampak buruk narkoba. “Kami yakin Perda ini sangat diperlukan untuk membantu mencegah terus meluasnya dampak narkoba,” kata Sabron.

Sabron berjanji Komisinya segera mendiskusikan masalah ini dengan tim ahli serta elemen-elemen pendukung, termasuk dengan pihak kepolisian dan berbagai LSM yang bergerak dibidang Napza.

Para pengguna Napza yang tergabung dalam Persatuan Korban Napsa Indonesia dan East Java Action, menjelaskan selama belum adanya Perda terkait Napza, maka para pengguna napza yang sebagian besar hanyalah korban, sering dijadikan objek kriminalisasi. “Seringkali polisi hanya mengkriminalkan pengguna, padahal bandar dan produsennya luput dari jeratan hukum,” kata Ketua East Java Action (EJA), Rudhy Wedhasmara.

Menurut dia, meski dalam sejumlah peraturan telah diatur perlindungan bagi pengguna Napza, namun peraturan-peraturan tersebut dinilai masih sangat lemah untuk dijadikan dasar perlindungan bagi korban. “Polisi selalu menangkap para pecandu. Padahal pecandu itu adalah korban peredaran narkoba yang saat ini masih terus terjadi,” ujar Rudhy yang juga mantan pecandu.

Akibatnya, semakin banyak pelaku kasus narkoba masuk penjara. “Dari 80 persen pelaku kasus narkoba yang ada dalam penjara, sebanyak 78 persennya di antaranya adalah pengguna, bukan pengedar,” ucap Rudhy pula.

Selain itu, belum adanya Perda tentang Napza, menurut Rudhy, juga membuat penularan HIV khususnya melalui jarum suntik terus meningkat.

Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Jawa Timur Priyono mengatakan, Indonesia saat ini menjadi negara terbesar nomor 3 di dunia dalam soal jumlah kasus dan percepatan penularan HIV. “Di Asia, Indonesia malah nomor satu. Ini fakta yang sangat menyedihkan,” tuturnya. ROHMAN TAUFIQ.

(Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/02/08/brk,20100208-224305,id.html)


0 comments :

Posting Komentar