gam 10SURABAYA - Penanganan korban obat terlarang oleh aparat penegak hukum Jawa Timur dianggap tidak manusiawi. Berdasarkan data yang ada sejak tahun 1997, sekira 175.535 pecandu sudah masuk penjara gara-gara kasus obat terlarang. Namun dari jumlah ternyata 73 persen yang ditangkap adalah yang berstatus sebagai pengguna.

“Anehnya dari angka ini, 25 persennya adalah pengedar, sedangkan produsennya hanya dua persen yang berhasil ditangkap," kata Syamsul Arifin Koordinator Persatuan Korban Napza Indonesia dan East Java Action, Senin (8/2/2010).

Kata Syamsul, berdasarkan penelitian sebuah lembaga swadaya masyarakat 80 persen pecandu narkoba yang pernah tertangkap menyatakan mendapatkan perlakuan buruk dari polisi.

Perlakuan buruk yang diterima seperti dipaksa untuk mengakui barang bukti dengan dipukul atau penyiksaan lainnya, serta harta benda seperti uang atau handphone milik pecandu dirampas oleh oknum polisi dengan dalih dijadikan barang bukti.

"Padahal pemakai itu sesungguhnya adalah korban yang penanganannya berbeda dengan pengedar. Harusnya penegak hukum menangkap bandar dan produsennya. Kenyataannya terbalik, pecandu ditangkap sedangkan bandar dilindungi,” kata Syamsul.

Akibat masih berkeliarannya para pengedar dan produsen napza ini, jumlah pengguna napza tiap tahunnya selalu meningkat dengan rata-rata kenaikan mencapai 19 ribu orang pertahun. Tak hanya itu, angka penularan HIV juga terus meningkat.
“Sejak tahun 2004, angka kematian pengguna napza di Indonesia sekitar 15 ribu per tahun,” kata Syamsul.

Sebagai bentuk keprihatinan mereka aktivis East Java Action yang terdiri dari 25 elemen masyarakat Jawa Timur yang peduli dengan isu-isu narkoba dan HIV/AIDS menggelar aksi dengan menggelar spanduk di depan gedung DPRD Jatim Jalan Indrapura Surabaya. Aksi ini digelar untuk mengawal proses pembuatan Raperda tentang Pengurangan Dampak Buruk Penyalahgunaan Napza di DPRD Jatim.

“Kami ingin pembahasan raperda ini dilakukan secara konprehensif dengan mengikutsertakan berbagai perspektif, khususnya pendekatan hukum, kesehatan masyarakat, dan dimensi sosial kemasyarakatan lainnya agar outputnya juga efektif menjadi solusi penanganan dampak,” paparnya.
(fit)

(Sumber: http://news.okezone.com/read/2010/02/08/340/301501/pengedar-dilindungi-pengguna-dipenjara)

0 comments :

Posting Komentar