UU 35/2009 : Pecandu/Korban Wajib Jalani Rehabilitasi

Delapan tahun yang lalu (tahun 2002, red) Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya pernah membuka unit instalasi pelayanan untuk korban Napza yakni Puri Mitra Permata Harapan. Sayangnya, akibat berbagai kendala, khususnya minimnya pasien yang berobat membuat instalasi tidak berjalan lalu ditutup. Tahun ini, RSJ Menur bangkit bersemangat memfungsikan kembali  instalasi yang sempat 'mangkrak' tersebut menjadi One Stop Center (OSC) Unit Napza RSJ Menur, apa yang mendorongnya?


Ketika Bhirawa mengunjungi OSC Unit Napza yang berada di bagian belakang RSJ Menur, suasana masih relatif lengang. Beberapa tenaga paramedis terlihat merapikan berkas di balik loket yang bertuliskan kasir.
"Instalasi ini,  baru soft launching awal bulan ini (Pebruari, red), jadi masih ada beberapa penataan ruangan," jelas Direktur RSJ Menur Surabaya dr Hendro Rijanto, SpKJ, MM saat mendampingi Bhirawa berkeliling memeriksa fasilitas yang ada.

Menurut pengamatan Bhirawa, dari sisi fasilitas yang tersedia, tidak kalah dibandingkan dengan instalasi serupa milik  RS dr Soetomo - Surabaya.  Dan benar memang, sesuai penjelasan dokter Hendro, dari beberapa kali sidak yang dilakukan Depkes RI menilai fasilitas yang disiapkan sudah memadai dan sangat layak.

Dijelaskan pria yang juga mengajar di beberapa kampus ini, beberapa layanan yang disediakan di OSC Unit Napza adalah Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM), Terapy dan Rehabilitasi (T & R) dan Voluntary Counseling and Testing (VCT).
Untuk PTRM adalah semacam program rawat jalan bagi para pemakai napza yang ingin sembuh. Prinsip penyembuhannya dengan mengganti napza yang biasa dikonsumsi para pemakai dengan cairan metadon.
"Kalau biasanya pemakai mengkonsumsi melalui suntik, maka di sini diganti dengan meminum cairan metadon dalam dosis tertentu," jelas Hendro lagi.

Metadon adalah opiat (morfin) sintesis yang dapat digunakan pada pasien ketergantungan opiat seperti putauw/heroin dan morfin. Metadon menggantikan fungsi heroin dalam otak, sehingga pasien merasa nyaman tanpa sakaw dan sugesti, dan bekerja selama 24 jam dalam tubuh sehingga dapat diminum sehari sekali.

Di Surabaya, Program Terapi Rumatan Metadon lebih dulu didirikan di RSU Dr. Soetomo sejak Februari 2006 dan telah menangani ratusan pasien. Melimpahnya jumlah pasien di RS dr Soetomo menjadi salah satu alasan mengapa perlu membuka PTRM di RSJ Menur.

Selain secara perlahan bisa menghentikan para pemakai dari ketergantungan terhadap napza, dengan perawatan di PTRM ini juga diharapkan bisa melokalisir sekaligus memantau para pemakai napza.
Menurut Hendro, merujuk data medis yang dimilikinya menunjukkan bahwa sebagian besar (60-75%) pemakai napza dengan jarum suntik mengidap HIV/AIDS maupun hepatitis.
"Kalau mereka dibiarkan berkeliaran maka akan semakin menambah jumlah orang yang tertular. Di sini juga telah siapkan ruang untuk Therapy Community (TC) yang lebih memadai," jelas Hendro sambil menunjukkan sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat sebuah meja bundar dengan kursi-kursi mengitarinya.

Fasilitas TC tersebut, jelas Hendro, akan menjadi tempat  berbagi cerita antar sesama pasien (pemakai napza) dengan difasilitasi seorang konselor. "Terapi dengan saling curhat ini diharapkan bisa mempercepat proses penyembuhan mereka," jelasnya lagi. Fasilitas lain yang sudah siap misalnya ruang farmasi,  periksa, konseling juga sarana ibadah dan juga pantry (dapur).

Sejak soft launching, OSC Unit Napza RSJ Menur sudah memiliki 1 pasien yang mengikuti PTRM (rawat jalan) dan 2 pasien yang menjalani Terapi dan Rehabilitasi (rawat inap). Bagi pasien yang sudah kronis memang disarankan menjalani Terapi dan Rehabilitasi (T & R). Paket yang disediakan adalah untuk jangka waktu 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan.
"Soal pasien kita tidak perlu cemas, karena kita sudah kerja sama dengan Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jatim. Nanti BNP akan mencari pasiennya, di samping pasien yang berasal dari masyarakat langsung," jelas Hendro ketika ditanya Bhirawa kemungkinan kecilnya pasien yang masuk.

Namun demikian Hendro mengakui bahwa bahwa stigma masyarakat masih berpengaruh pada animo pemakai untuk dirawat. "Lokasi OSC Unit Napza yang berada di dalam RSJ  akan mempengaruhi minat masyarakat untuk datang. Tapi kita tidak boleh menyerah dengan stigma tersebut, harus kita lawan," tegas Hendro.

Salah seorang aktivis sosial yang menjadi konselor bagi pasien yang menjalani terapi dan rehabilitasi, Didik, menjelaskan, selama menjalani perawatan, pasien telah dibuatkan jadwal kegiatan mulai bangun tidur hingga tidur kembali.
Selain melakukan aktivitas rutin seperti ibadah, makan dan olahraga, pasien juga mengikuti kegiatan seminar. "Dalam seminar nanti pasien mendapatkan materi konseling dan mendapatkan materi yang bersifat kognitif," jelas Didik lagi.

Upaya terapi dan rehabilitasi yang dilakukan, jelas Didik, juga untuk memperbaiki behavior (perilaku) pasien. "Rata-rata junkies (pemakai napza, red) memiliki perilaku dan kebiasaan hidup yang kurang baik, dan ini yang harus diubah perlahan-lahan ," jelas Didik lagi.
Di tempat terpisah, Kepala Bidang Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jatim dr Endang Damayanti mengungkapkan pihaknya mendukung penuh dibukanya OSC Unit Napza  di RSJ Menur Surabaya.
Keberadaan OSC Unit Napza tersebut, menurut Damayanti, juga merupakan amanah dari UU Narkotika baru (UU No.35/2009) yang mewajibkan para korban/pecandu napza menjalani terapi dan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
"Selain di RSJ Menur, kita juga akan mengembang unit-unit pelayanan bagi pemakai napza di Rumah Tahanan (Rutan) dan Lembaga Pemasyarakatan (LP)," jelasnya lagi.

Menurut alumnus kedokteran Unair ini, langkah untuk mendirikan unit pelayanan untuk terapi dan rehabilitasi di rutan maupun LP penting karena fakta menunjukkan, banyak pemakai yang berada di tempat itu. "Semua pelayanan terhadap pemakai napza tersebut akan dikembangkan dengan model one stop center," tambah perempuan berkacamata ini.

Menurut PNS yang pernah berkarir di Dinkes Jatim ini, sejalan dengan pemberlakuan UU Narkotika yang baru, maka perlu pola pendekatan yang bersifat kekeluargaan.
"Kalau sebelumnya lebih banyak bersifat represif, maka sekarang harus mengedepankan aspek persuasif dalam mendekati para pemakai/korban napza," jelasnya lagi. Model pendekatan yang persuasif itu diyakininya akan lebih banyak mampu menarik para pemakai/korban untuk mau mengikuti rehabilitasi. [wahyu kuncoro sn]

(Sumber: http://www.harianbhirawa.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5768:lawan-stigma-masyarakat-buka-one-stop-center-unit-napza&Itemid=117)

0 comments :

Posting Komentar