Hal tersulit yang sering dihadapi oleh profesional yang berkecimpung di bidang terapi dan rehabilitasi narkoba adalah sulitnya merubah perilaku pecandu yang berorientasi pada perilaku mencari narkoba. Sering kali mantan pecandu mengalami kekambuhan di tengah proses pemulihan. Faktor pencetus kekambuhan yang utama adalah rendahnya komitmen untuk pulih, yang tergantung pada kondisi psikologis dan kepribadian pecandu.

Terlebih, kasus penyalahgunaan narkoba merupakan kasus individual, karena faktor pembentuk kepribadian seseorang berbeda sehingga karakter satu orang akan berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena itu, tidak ada satu metode pun yang cocok untuk dapat digunakan bagi semua pecandu narkoba. Pendekatan yang dibutuhkan dalam terapi dan rehabilitasi terhadap pecandu narkoba harus menggunakan pendekatan yang lebih personal dengan memanfaatkan kapasitas mental yang dimiliki klien.
Untuk dapat mengetahui dan mengoptimalkan kapasitas mental seseorang dibutuhkan ahli yang mengerti dan memahami masalah tersebut. Dalam hal ini keberadaan psikolog sangat dibutuhkan. Psikolog diharapkan mampu mengetahui kapasitas mental yang dimiliki pecandu untuk kemudian mengoptimalkan potensi tersebut menjadi suatu keahlian yang dapat membantu pecandu untuk pulih dari ketergantungannya.

Dalam upaya optimalisasi potensi pecandu untuk pulih, peran psikolog menjadi lebih luas. Selain sebagai terapis, seorang psikolog dapat berperan sebagai konselor; fasilitator; motivator; peneliti; penggagas dan bahkan evaluator program (penyembuhan, sosialisasi bahaya penggunaan narkoba, dan sebagainya).

Dengan demikian, ruang lingkup pekerjaan psikolog dalam penanggulangan penyalahgunaan narkoba menjadi sangat luas dan beragam. Dimulai dari tahapan penanggulangan (preventif), penanganan (treatment), rehabilitasi hingga pascaperawatan (after care). Peran psikolog dalam rentang perawatan ini juga tidak terbatas hanya melakukan perawatan terhadap pengguna narkoba dan keluarganya saja, tetapi juga melakukan penanganan sistem sosial dalam bentuk perencanaan dan evaluasi program.

Maka, sudah menjadi kebutuhan yang mendesak sekali jika para psikolog di Indonesia dapat membuat suatu panduan untuk menangani permasalahan narkoba khususnya dalam setting pelayanan sosial yang terlembaga namun tetap berbasis komunitas. Selain itu, dipandang perlu suatu sistem yang mengatur tata kerja dan tata laksana pelayanan psikologi dan konseling di tempat terapi narkoba.

(Sumber:http://www.bnpjabar.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=370:peran-psikolog-terhadap-pecandu-narkoba&catid=53:artikel&Itemid=192)

0 comments :

Posting Komentar