Dalam penanggulangan bahaya narkoba, Pemkab Sidoarjo terbilang pelit dalam mengalokasikan dana dari APBD untuk peredaran narkoba. Pemkab hanya menganggarkan untuk dinas terkait seperti pendidikan serta pariwisata dan olahraga, yang notabene hanya untuk kegiatan sosialisasi ataupun simulasi saja. "Mestinya ada anggaran khusus untuk penanganan dan peredaran narkoba," kata dr H Wiyono, Wakil Ketua Bidang Politik dan Pemenangan Pemilu DPC PDI Perjuangan Sidoarjo, di Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Menurut Doc, demikian Wiyono akrab disapa, yang juga wakil ketua Badan Narkoba Kabupaten (BNK) Sidoarjo, BNK sendiri memang tidak memungkinkan untuk melakukan pengawasan lebih jauh atas peredaran narkoba di kota ini. Pasalnya, minimnya pendanaan utntuk itu, diakui atau tidak, menjadi salah satu faktor penting penunjang kegiatan BNK bersama instansi pemerintah untuk mempersempit gerak peredaran narkoba.

Sebanyak 186 kasus narkoba per Desember tahun 2007 berhasil diungkap jajaran Polda Jatim, Polwiltabes Surabaya, Polres Sidoarejo dan 18 polsek yang ada dengan tempat kejadian perkara (TKP) di kota ini. Padahal, lanjut pria berbadan subur ini, ada sejumlah kasus dimana tersangka atau terdakwa bisa dijerat sebagai pengedar.

Persidangan perkara penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo sebagian besar didominasi pengguna. Hal itu dikatakan. "Pantauan berkala kita di persidangan, kebanyakan dijerat sebagai pemakai," bebernya.

Meski tidak menjelaskan secara detil kasus-kasus dimaksud, ia mengisyaratkan ketidakjelian penyidik baik kepolisian maupun kejaksaan lantaran minimnya pengedar yang berhasil dijerat. "Coba tanyakan ke Polres Sidoarjo kenapa sampai bisa begitu," tandas Doc.

Sedang vonis bagi para pengedar juga terbilang minim. Padahal, seharusnya, putusan hukuman badan seberat-beratnya bagi pengedar bisa menimbulkan efek jera. Untuk yang bersangkutan, kelak, tidak akan berani lagi mengulang perbuatnnya. Sedang bagi yang belum pernah, dengan mendengar atau melihat putusan yang berat, bisa dipastikan akan keder.

Terpisah, Kepala Satuan Reserse Narkoba (Kasat Reskoba) Polres Sidoarjo AKP Suryanto mengatakan, sejauh ini pihaknya telah bertindak profesional dalam penangkapan maupun penyidikan. Di Sidoarjo sendiri, tahun 2007 ini memang 'sepi' dari tangkapan pengedar pasca terbongkarnya pabrik ekstasi di Sidoarjo kota oleh anggota Suryanto pada 2006 kemarin.

"Kasus narkoba memang tidak sama seperti kasus lainnya. Agak sedikit rumit, karena kebanyakan TKP kita yang menentukan seperti kita melakukan operasi atau pengejaran. Sedang ketika melakukan pengembangan dan mengeler pengguna ke pengedar sampai bandar, kebanyakan putus di tengah jalan karena mereka bungkam," kata Suryanto di lain kesempatan. (ru)

(Sumber: http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php/images/index.php?mod=berita&id=475)

0 comments :

Posting Komentar