Hervin Saputra/Angga Haksoro
30 Desember 2010 - 10:38 WIB

Penelitian LBH Jakarta menemukan bukti bahwa penyiksaan terhadap tahanan dilakukan secara sistematis. Polisi paling banyak melakukan penyiksaan dalam proses hukum.

VHRmedia, Jakarta– Penyiksaan terhadap tahanan kasus pidana terjadi secara sistematis. Praktik ini dilakukan aparat hukum sejak pemeriksaan oleh polisi hingga di dalam tahanan.

Demikian hasil penelitian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mengenai dugaan penyiksaan tersangka dan tahanan dalam proses hukum kasus pidana.

”Penyiksaan terjadi di semua proses pidana. Mulai penangkapan hingga vonis. Tersangka paling tidak mendapat satu penyiksaan pada satu proses,” kata Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan LBH Jakarta, Restaria Hutabarat, Rabu (29/12).


LBH Jakarta melakukan penelitian proses pidana di Jakarta, Lhokseumawe, Banda Aceh, Makassar, dan Surabaya selama periode Januari 2009 hingga Januari 2010. Responden penelitian adalah para tersangka, terdakwa, terpidana, polisi, hakim, jaksa, satuan polisi pamong praja, wilayatul hisbat (polisi syariah), petugas lembaga pemasyarakat, dan pengacara.

Indeks penyiksaan tertinggi di semua tahap hukum, menurut korban, terdapat di Banda Aceh. Jakarta menempati posisi terburuk kedua dalam proses penangkapan (5,2) dan penghukuman (3,8). Surabaya terburuk pertama dalam urusan penangkapan (6,3) dan pemeriksaan (5,4). Makassar berada di urutan pertama dalam penghukuman (5,1).

Rata-rata penyiksaan paling tinggi di Jakarta dilakukan oleh polisi pada penyusunan BAP (65,3%), penahanan (53,2%), dan penghukuman (6,9%). Lhokseumawe menempati urutan terburuk pada proses penghukuman (44%). Surabaya terburuk untuk penangkapan (97,9%), pemeriksaan (97,9%), dan penahanan (87,5%). Sedangkan Makassar, penyiksaan terendah pada proses penangkapan (77,6%).

Polisi merupakan pihak yang paling sering melakukan penyiksaan. Penyiksaan terhadap tahanan paling banyak dilakukan pada proses penangkapan dan penahanan. Penyiksaan berupa pemukulan, pelecehan seksual, dan tindakan merendahkan martabat. ”Penahanan hanya untuk kepentingan pemeriksaan, bukan mencicil hukuman,” ujar Restaria.

Menurut Restaria, ini juga menunjukkan polisi tidak profesional, sebab penyiksaan dilakukan tidak terkait pembuktian. Polisi menyiksa dengan alasan memudahkan pemeriksaan, kesal, atau dendam. ”Kekerasan menjadi perilaku aparat kepolisian.”

Hingga September 2010 terdapat 51.089 tahanan yang menunggu proses penyidikan. Selama lima tahun terakhir, jumlah penahanan sebelum sidang melonjak drastis. ”Orang lebih mengecam orang yang kencing di jalanan, ketimbang melihat penyiksaan di tayangan kriminal,” ujar Restaria. (E1)

(Sumber:http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=832)

0 comments :

Posting Komentar