SURABAYA – Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf kembali menjadi sorotan anggota DPRD Jatim. Setelah polemik anggaran KONI Jatim, kini pejabat yang akrab disapa Gus Ipul itu disoroti terkait penggunaan anggaran Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jatim yang diketuai dirinya. Selama tahun 2010 lalu, serapan anggaran dari BNP Jatim ternyata sangat boros. Total anggaran sejumlah Rp 14,9 miliar dihabiskan, tapi penggunaannya dinilai tidak jelas.

Sementara sepanjang Minggu (9/1), kriminalitas di Jawa Timur yang menonjol adalah kasus narkoba. Seperti terjadi di wilayah hukum Polsek Pabean Cantikan, yang menangkap seorang janda yang ketagihan mengkonsumsi sabu-sabu. Tak hanya itu, dari catatan Mabes Polri sepanjang tahun 2010, Jawa Timur tertinggi dalam kasus narkoba. Lalu, untuk apa dana sebesar itu?


Data yang dihimpun menyebutkan, rinciannya pada APBD 2010 murni BNP mendapat jatah terdapat dana sebesar Rp 11,8 miliar. Lalu pada Perubahan APBD 2010 ditambah lagi Rp 3,1 miliar. Jumlah dana tersebut hingga kini tidak jelas digunakan untuk apa saja. Mengingat, dana sebesar itu melonjak hampir 1000% dari anggaran BNP tahun 2009 atau 2008. Di mana saat diketuai Soenarjo (mantan Wagub), BNP pernah mendapat alokasi dana Rp 800 juta. Itupun banyak dipakai untuk sosialisasi pencegahan bahaya narkoba melalui pembentukan Satgas Anti Narkoba.

Ironisnya lagi, Instansi yang diketua Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) ini tidak menunjukkan kinerja yang nyata. Pelayanan BNP untuk pencegahan peredaran Narkoba di Jatim tidak kelihatan. Salah satu buktinya adalah, masih tingginya pengedar dan pengguna narkoba di kota Surabaya.

Atas hal tersebut DPRD Jatim akan menelusuri penggunaan anggaran di BNP dengan cermat. Untuk mencegah upaya menghambur-hamburkan uang Negara. “Kita akan pelototi angggaran yang sudah digunakan BNP,” kata Achmad Jabir, Anggota komisi A DPRD Jatim, kemarin.

Jabir juga berjanji akan mengumpulkan info dan bahan-bahan untuk mengetahui kinerja BNP selama dipimpin Saifullah Yusuf. Untuk mengetahui letak keborosan anggaran. “Setelah data terkumpul semua, baru akan kita sikapi,” tandas Jabir.

Di sisi lain, Jabir mengatakan, kesektretariatan BNP Jatim sangat mengecewakan. Lamban dan tidak proaktif. Khususnya dalam menyikapi UU No 35 tahun 2009. Dimana dalam UU tersebut tupoksi penanganan narkoba yang selama ini dilakukan oleh BNP harus dilaksanakan oleh BNN propinsi yang sifatnya vertikal. Oleh karenanya beberapa yang telah diprogramkan oleh BNP jatim yg dibiayai APBD, tidak bisa dilakukan lagi. “Ini sudah mengecewakan, masak setelah kita cek, sampai sekarang BNP Jatim sama sekali belum melakukan pembenahan atas interuksi UU No 35/2009,” tandas Jabir.

Jatim Tertinggi
Sementara itu, berdasarkan hasil pengungkapan kasus narkoba selama tahun 2010, tercatat wilayah Polda Jatim merupakan lokasi peredaran narkoba yang paling besar (tertinggi) di Indonesia. Setelah itu baru disusul wilayah Polda Metro Jakarta Raya yang menempati urutan kedua.

“Secara kuantitatif pengungkapan yang terbanyak adalah wilayah Polda Jawa Timur dan secara kualitatif adalah Polda Metro Jaya,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakaat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Polisi I Ketut Untung Yoga (28 Desember 2010).

Sayangnya, saat itu Ketut tak merinci data-datanya. Hanya saja, dari catatan redaksi, hingga April 2010, terdapat 4.800 tahanan narkoba menghuni Lembaga Pemasyarakatan di seluruh Jawa Timur.


Pengguna Ditangkap

Berawal dari mengunjungi temannya di rumah tahanan (rutan) Medaeng membuat Suningsih (45), warga Jl Gresik PPI Gg Langgar ini malah kecanduan barang haram jenis shabu-shabu (SS). Tak hanya sekadar menikmati, janda tiga anak juga menjadi pengedar narkoba. ”Dari saku baju sebelah kanannya petugas menemukan satu poket shabu-shabu (SS) seberat 0,4 gram,” ujar Kanit Reskrim Polsek Pabean Cantikan, AKP Achmad Mujiono.

Suningsih saat diperiksa petugas mengaku menggeluti narkoba setelah kenal dengan seseorang yang biasa dipanggil Yuni. Yuni inilah yang selalu memberinya shabu-shabu. Yuni sendiri sering mendapat haram dari Rutan Medaeng bernama Prapti. .”Untuk sepoketnya saya membeli Rp 300 ribu,”katanya sambil menutup muka saat diambil gambar.

Penangkapan terhadap tersangka berawal dari informasi yang diterima petugas kalau ada pesta narkoba di daerah Gresik PPI, yang memang dulu dikenal sebagai basisnya narkoba.
Atas informasi itu, Kanit Reskrim AKP Achmad Mudjiono bersama beberapa anggotanya melakukan penyanggongan. Hasilnya, ternyata tersangka waktu itu masih baru saja mendapatkan kiriman barang.

Saat polisi masuk ke rumah tersangka ternyata tak salah, tersangka saat didatangi pun juga terlihat lemas, terlebih saat polisi melakukan penggeledahan di kamarnya dan menemukan barang bukti (BB) dalam saku bajunya. ”Tersangka memang telah lama menjadi sindikat narkoba, selain itu dia juga pemakai lama,” terang Kapolsek Pabean Cantikan Kompol Kholilur Rohman.

Kholilur menceritakan bahwa sebelum bercerai dengan suaminya tiga tahun lalu, saat tinggal di Sampit, Kalimantan Tengah, tersangka sering menghisap SS. Namun setelah berpisah dengan suaminya dan balik ke Surabaya ternyata hobinya nyabu tidak malah berhenti.

Tersangka belakangan bahkan malah menjalin sindikat narkoba dari napi di Medaeng.”Kami masih terus mengembangkan dengan menelusuri jaringannya yang informasinya dari rutan tersebut,”pungkas petugas. n rko/nt

(Sumber:http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962bf55f7d61ded3a1389bde820ee51f184)

0 comments :

Posting Komentar