Sejak sekitar satu tahun lebih atas dukungan KPA Nasional, program HR di Indonesia diperkaya dengan Program Pemulihan Adiksi Berbasis Masyarakat. Program yang didesain bersama oleh KPAN, Kementerian Kesehatan, beberapa komponen CSO serta beberapa pemerhati di dunia adiksi mencoba menjawab pemikiran beberapa kalangan bahwa dari komponen dalam program HR, selain Terapi Rumatan Farmakologi ketersediaan program yang mendukung penasun untuk dalam berproses menuju pemulihan adiksi napza dan kualitas hidup yang lbh baik terasa kurang terfasilitasi.

Prosesnya pun cukup menarik dan berliku. Beberapa tantangan yang muncul diantaranya bermuara pada pandangan 'old school' bahwa pendekatan yang memfasilitasi penasun untuk berproses menuju abstinensi bagaikan 'air dgn minyak' dengan pendekatan harm reduction. Belum lagi pandangan yang juga muncul bahwa dukungan untuk komponen program seperti ini akan percuma karna penasun dgn kecenderungan kekambuhan yang tinggi akan membuat semuanya seperti mubazir.


Menariknya dari sharing beberapa LSM yang mengelola program, karna setting program yang 'low threshold' berhasil merubah pandangan penasun bahwa program perawatan dan pemulihan napza tidak smuanya yang menggunakan pendekatan yang kaku dan 'keras', sehingga kalaupun penasun yang mengikuti program 'terpeleset' atau 'kambuh' bagi yang sudah selesai, rasa aman untuk tetap berada dalam komunitas pemulihannya sangat terasa. Mereka tidak 'sungkan' untuk kembali menemui konselornya agar dapat menata pemulihannya. Bahkan bebrapa lembaga yang dulunya 'cukup kaku' dan membatasi kliennya untuk mengakses layanan ptrm mulai berkembang wawasannya. Kerangka berpikir lembaga pnydia layanan T&R pun tidak lagi sebagai 'mendorong pecandu/ penasun' hanya ke arah abstinen tapi sudah berevolusi pada 'bagaimana memfasilitasi seorang pecandu tetap terlibat dalam rawatan yang sesuai dengan kebutuhannya'.

Tidak hanya itu, dari informasi beberapa LSM dgn terintegrasinya layanan T&R dan HR, kesadaran penasun untuk mengakses layanan kespro dan cst pun meningkat.

Pada kesempatan terpisah, pertengahan tahun lalu saat melakukan studi banding tentang program diversi atas inisiatif KPAN bersama-sama dengan BNN, peserta mendapat kesempatan mengunjungi salah satu Pusat Perawatan berbasis Therapeutic Community di Sydney yang bernama We Help Ourselves atau disingkat WHOS. Awalnya center ini dianggap menjalankan program TC seperti umumnya program serupa yang menjalankan pendekatan modifikasi perilaku.

Namun temuan yang didapat cukup mengejutkan, tidak hanya WHOS telah memodifikasi program TC nya sehingga tidak tradisional dengan menerapkan 'open door policy' termasuk melibatkan kliennya dengan komunitas bantu diri seperti narcotic anonymous (NA) sejak hari pertama kliennya memulai program (ini cukup jarang terjadi), tapi juga terdapat program TC bagi peserta program rumatan baik Metadon dan Bupre - untuk yang ingin stabil maupun yang ingin beralih dari terapi farmakologi ke abstinen.

Yang cukup mencengangkan, WHOS berani menerapkan kebijakan pendidkan HR dan HIV intensif bagi kliennya di bulan pertama masa perawatan termasuk menyediakan paket materi pencegahan HIV (diantaranya termasuk kondom, jarum suntik steril, alkohol swab, paket air, dan daftar pertmuan NA) di setiap WC dan kamar mandi di seluruh 'facility'.

Bukan untuk digunakan dimasa perawatan tapi agar apabila ada klien yang mengundurkan diri lebih awal dan ingin 'pakaw' setelah meninggalkan lokasi WHOS tidak perlu pontang panting mencari alat suntik steril.

Disisi lain, apabila klien abstinen didorong untuk terlibat dalam komunitas NA, klien yang berorientasi untuk stabil dalam terapi farmakologi didorong untuk terlibat dalam komunitas SMART Recovery agar dapat fokus hanya pada terapi famakologi dan tidak terpancing untuk menggunakan napza ilegal.

Menariknya lagi, program tersebut terdokumentasi dalam sebuah studi kasus yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO).

Dalam dokumen dengan judul 'Integration of harm reduction into abstinence-based therapeutic communities' yang dapat diunduh di:

http://www.wpro.who.int/NR/rdonlyres/0424577C-C624-49EE-A7B4-906145D26364/0/WHOSCaseStudy.pdf

cukup tergambarkan bahwa Perawatan serta pemulihan Napza termasuk yang dengan pendekatan TC bisa berjalan dengan HR sebagai salah satu upaya menekan laju epidemi dikalangan penasun. Sayangnya dokumen ini disusun beberapa tahun lalu dan belum dapat memberikan gambaran/ bukti bagaimana terapi farmakologi bisa dilakukan bahkan di setting program TC walaupun dgn mata kepala sendiri dan bebrapa peserta sudah menyaksikan program seperti ini bisa berjalan.

Yang lumayan menarik, setelah mengunjungi fasilitas program WHOS, BNN termotivasi untuk memperkuat kualitas dan pndekatan program di UPT Lido. Bahkan KPAN bersama BNN pada bulan Desember lalu memfasilitasi beberapa staf Lido dan perwakilan Ikatan Konselor Adiksi Indonesia (IKAI) mendalami pelaksanaan program perawatan di WHOS agar dapat memberikan masukan konkrit bagi penguatan program T&R yang mengakomodasi komponen pengurangan resiko di Indonesia.

Pembahasan lanjutan dari rangkaian tersebut antara KPAN, BNN, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial agar di Indonesia bisa terbangun layanan yang komprehensif yang didasari pada 'continum of care' baru saja berlangsung beberapa hari lalu. Angin segar nampaknya mulai berhembus. Beberapa rangkaian upaya lanjutan tengah disiapkan bersama oleh KPAN, BNN, Kemenkes dan Kemensos.

Siapa bilang TC dan HR seperti Minyak dan Air?

(Sumber: Risa Alexander dalam sebuah diskusi di mailinglist. Penulis adalah praktisi Rehabilitasi dan Harm Reduction)

0 comments :

Posting Komentar