JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Narkotika Nasional (BNN) membongkar jaringan sabu yang dikendalikan dari Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Jaringan yang dipimpin "Jenderal Besar" Yoyo ini diduga mampu memasarkan 10 kilogram sabu senilai Rp 20 miliar setiap harinya. Dia sudah menjalankan aksinya selama delapan tahun. Demikian diungkapkan Direktur Narkotika Alami BNN Brigadir Jenderal Benny Joshua Mamoto, Senin (28/2/2011) siang.


Ia mengatakan, setelah beberapa pekan mengamati seluruh lingkungan penjara di Tanah Air terungkap bahwa ada jaringan besar dari LP Nusakambangan yang mengendalikan hampir seluruh perdagangan sabu di lingkungan penjara ataupun pasar sabu di Pulau Jawa.

"Nama tersangka utamanya adalah Yoyo. 'Jenderal besar' ini dipenjara 22 tahun karena menjadi bandar narkoba. Sementara ini, baru kami ketahui, dia dibantu dua sipir penjara di Nusakambangan," papar Benny.

Kedua sipir kini masih diperiksa di BNN, sedang Yoyo masih dalam perjalanan menuju BNN. Benny menduga, ketiganya dibantu puluhan narapidana dan sejumlah sipir penjara di beberapa tempat.

Dengan bantuan mereka, Yoyo dan kawan-kawan memasarkan sabu ke tujuh penjara di lingkungan penjara Nusakambangan ke hampir seluruh penjara di Tanah Air dan pasar gelap sabu di Pulau Jawa. "Hasil penyelidikan sementara menghasilkan dugaan, jaringan ini sanggup memasarkan 10 kilogram sabu setiap harinya. Yoyo mengaku sudah delapan tahun menjalankan bisnis menggiurkan ini," tutur Benny.

Pada bagian lain, Benny mengharapkan agar Presiden mempercepat proses hukuman mati kepada para terpidana narkoba besar untuk mengejar target Indonesia bebas narkoba. "Memang Undang-Undang tentang grasi sudah disahkan tahun 2010. Tetapi belum ditegaskan dalam undang-undang tersebut bahwa grasi tidak berlaku bagi terpidana narkoba yang dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Itu yang kami inginkan," ujarnya.

(Sumber:http://regional.kompas.com/read/2011/02/28/1430558/LP.Nusakambangan.Otak.Bisnis.Sabu.di.Jawa)

0 comments :

Posting Komentar