Surabaya - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) "East Java Action" (EJA) Surabaya menilai, motif artis yang menjadi pengguna narkoba umumnya hanya pegaulan ("social response").

"Ada empat motif artis pengguna narkoba yakni relaksasi (fun), pergaulan (social response), doping (amphetamine), dan pecandu," kata Koordinator EJA, Rudhy Wedhasmara, kepada ANTARA di Surabaya, Kamis.

Ia mengemukakan hal itu menanggapi banyaknya artis terjerat narkoba, di antaranya Yoyo (drummer band Padi), Revaldo (pemain sinetron), Ibra Azhari (pemain film), Imam S Arifin (penyanyi dangdut), Sammy (vokalis band Kerispatih), dan Sheila Marcia (pemain sinetron), Iyut.


Menurut Rudhy yang juga mantan pengguna narkoba itu, artis pengguna narkoba yang masih sebatas faktor pergaulan itu, memang dapat meningkat menjadi pecandu yang sesungguhnya. Namun, hal itu tergantung kepada artis yang bersangkutan, apakah dia bisa mengontrol diri atau tidak.

"Tapi, penangkapan artis pengguna narkoba itu mungkin juga merupakan dari 'pilot project' dari BNN (Badan Narkotika Nasional) dalam kewenangan diskresi terkait UU 35/2009 yang menjatuhkan sanksi rehabilitasi bagi pengguna narkoba," ucapnya.

Oleh karena itu, katanya, penangkapan sejumlah artis yang umumnya masih sebatas pengguna narkoba itu akan mengampanyekan sanksi rehabilitasi bagi pengguna narkoba, apalagi artis merupakan publik figur yang dapat dijadikan "alat" kampanye dalam artian positif.

"Kami sendiri lebih sepakat pemerintah membangun pusat rehabilitasi bagi pengguna narkoba dan bukan justru membangun lapas (lembaga pemasyarakatan) khusus narkoba, karena Lapas itu justru mendidik pengguna menjadi pengedar, bukan menyadarkan," ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Komisi A DPRD Jatim, Sabron Djamil Pasaribu, mengatakan dua Lapas Narkoba yang dimiliki Jatim di Pamekasan dan Madiun itu sudah cukup, meski Wali Kota Madiun sendiri masih menolak Lapas Narkoba di wilayahnya.

"Kita optimalkan Lapas Narkoba yang sudah ada (Pamekasan dan Madiun), karena kalau menambah Lapas Narkoba lagi justru akan menambah jumlah pengguna narkoba, padahal kita justru mengharapkan pengguna narkoba itu berkurang," tuturnya.

Untuk mengurangi pengguna narkoba, katanya, pembangunan pusat rehabilitasi merupakan jawaban yang tepat, karena Jatim hingga kini masih memiliki pusat rehabilitasi yang "nebeng" di RSUD dr Soetomo Surabaya, RSJ Menur Surabaya, dan RSJ Lawang Malang.

"Apalagi, Kanwil Kemkum dan HAM Jatim mencatat dari 11.000 lebih narapidana itu ada 6.000-an di antaranya terkait kasus narkoba, bahkan 584 dari 1.700 napi atau 34 persen napi di Rutan Medaeng merupakan narkoba," ucapnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, pusat rehabilitasi menjadi sangat mendesak untuk segera dapat mengurangi jumlah pengguna narkoba yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan pembangunan Lapas Narkoba tidak akan ada artinya karena jumlah pengguna tidak dikurangi.

Sementara itu, Asisten III Bidang Kesejahteraan Masyarakat Pemprov Jatim Dr Edi Purwinarto mengaku, pihaknya sudah mengajukan rencana pembangunan pusat rehabilitasi ke BNN di Jakarta, namun hal itu dapat saja direalisasikan tanpa menunggu BNN bila ada dukungan DPRD Jatim, termasuk dukungan anggaran.

"Yang jelas, kita sangat membutuhkan pusat rehabilitasi tersendiri sesuai Pasal 55 UU 35/2009 tentang Narkotika, namun kami perlu dukungan DPRD untuk anggaran lewat APBD," katanya, didampingi Kepala Bidang Terapi dan Rehabilitasi BNP Jatim, dr Endang Damayanti.

(Sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/57972/lsm-motif-artis-narkoba-hanya-social-response)

0 comments :

Posting Komentar