TEMPO Interaktif, MADIUN - Beragam cara digunakan jaringan pengedar narkoba untuk berbisnis barang haram itu dengan tahanan maupun narapidana yang meringkuk di dalam Lembaga Pemasyarakatan.

Salah satu di antaranya –dan ini tergolong nekat—yakni melemparkan paket pesanan melalui tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), seperti yang terjadi di Lapas Kelas I Madiun.


Kepala Satuan Pengamanan Lapas Kelas I Madiun Maulidi Hilal menjelaskan, selama tahun 2010, sedikitnya empat kali petugas Lapas memergoki paket narkoba berisi pil jenis dobel L (Leaxcotan), atau yang sering disebut pil koplo.

Paket tersebut dilempar oleh orang tak dikenal dari luar Lapas melalui tembok belakang Lapas. Setiap paket rata-rata berisi 5.000 butir pil koplo. ”Tinggal mengalikan saja berapa jumlah pil koplo dari empat paket tersebut. Bisa mencapai 20 ribu butir,” kata Maulidi, Kamis (24/3).

Menurut Malulidi, paket narkoba itu dilempar pada saat suasana sepi, antara pukul 01.00 sampai 05.00 dini hari. Seluruh pil koplo tersebut telah dimusnahkan.

Maulidi menjelaskan, petugas Lapas sempat melakukan pengejaran terhadap pelaku pelempar paket narkoba. Namun gagal ditangkap.

Maulidi menduga, selain yang sempat dipergoki, diduga masih banyak paket narkoba yang dimasukkan ke dalam Lapas dengan cara melempar yang lolos dari pantauan petugas.

Maulidi mengingatkan agar petugas tidak bersekongkol dengan tahanan maupun narapidana pnghuni Lapas untuk menyelundupkan barang terlarang termasuk narkoba. “Jika ada yang diketahui terlibat akan ditindak dan bisa dipecat,” ujarnya.

Saat berkunjung ke Lapas Kelas I Madiun Rabu kemarin (23/3), Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur Mashudi mengungkapkan, aksi penyelundupan narkoba ke dalam Lapas banyak melibatkan petugas Lapas.

“Kebanyakan memang melibatkan orang dalam. Makanya selain pengawasan manual, kami memerlukan perangkat teknologi untuk memaksimalkan pengawasan,” katanya.

Lapas Kelas I Madiun banyak dihuni tahanan dan narapidana narkoba. Dari 1.109 penghuni Lapas tersebut, sekitar 51 persennya adalah tahanan dan napi kasus narkoba.

Meski meringkuk dalam penjara, jaringan pengedar narkoba masih bisa berkomunikasi dengan tahanan maupun napi. Itu sebabnya, Rabu kemarin dimusnahkan sedikitnya 22 telepon seluler yang diketahui dipegang tahanan dan napi untuk meminimalisir aktivitas jaringan narkoba dengan penghuni Lapas.

Berdasarkan data yang dihimpun Tempo, napi penghuni Lapas Madiun mendapatkan pengetahuan meracik narkoba dari napi lainnya.

Aparat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Jawa Timur, Mei 2010 lalu, menangkap TB, warga Madiun, dan MD asal Tandes, Surabaya. Kedua orang yang pernah menghuni Lapas Madiun itu ditangkap ketika sedang meracik sabu-sabu di sebuah rumah di Jalan Martorejo 55, Gedogan, Mojokerto.

Dalam penangkapan itu polisi menyita berbagai barang bukti, seperti sabu-sabu jadi sebanyak 20 gram, seperangkat alat untuk memproduksi sabu-sabu, dan bahan baku mentah sabu-sabu.

Setiap hari bisa dihasilkan 50 gram sabu-sabu setengah jadi. Setiap gram dijual seharga Rp 1 juta, dan diedarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur.

Setelah keluar dari penjara, mereka terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba, yang juga melibatkan RD.

Kepada polisi, MD mengatakan pengetahuan tentang meracik sabu-sabu diperolehnya dari teman sesama napi di Lapas Madiun. ”Sebelumnya saya nggak ngerti apa-apa tentang sabu-sabu,” tutur MD yang masuk penjara karena kasus penganiayaan.

Kepolisian Resor Sidoarjo saat ini juga sedang mengembangkan penyelidikan jaringan pengedar narkoba yang diotaki napi narkoba yang menghuni Lapas Sidoarjo, Ali alias Patek.

Aktivitas Patek terungkap setelah polisi menangkap Kholik, 28 tahun. Warga Sidotopo Jaya Gang 1 No 1-B Kecamatan Semampir, Kota Surabaya itu, mengaku sebagai salah seorang kurir Patek. ISHOMUDDIN | DINI MAWUNTYAS | EKO WIDIANTO.

(Sumber:http://www.tempointeraktif.com/hg/surabaya/2011/03/24/brk,20110324-322591,id.html)

0 comments :

Posting Komentar