SURABAYA – Perputaran peredaran narkoba ditengarai masih berkutat tempat hiburan malam. Lokasi tersebut masih menjadi idola para bandar dan pengedar.Tempat hiburan malam menjadi sarang empuk yang menjanjikan bagi para pelakunya ini terbukti, 5 tersangka diamankan Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polrestabes Surabaya orang yang kerap berhubungan dengan sentra dunia gemerlap (dugem) tersebut.

“Berat total secara keseluruhan dari barang bukti yang kami amankan adalah 80 gram sabu-sabu serta 150 butir ekstasi dengan nilai Rp 300 juta,” kata Kombes Pol Coki Manurung, Kapolrestabes Surabaya dalam rilisnya di ruang eksekutif Polrestabes Surabaya, Jumat (15/4) sore.


Namun, bidikan polisi saat ini mengembangkan kasus untuk mengungkap jaringan di balik peredaran narkoba tersebut. Sebab, dari proses penyelidikan mengarah pada seseorang yang dikenal dengan sebutan, ibu. Dia adalah bandar dan pengendali jaringan luar kota yang menjadi target buruan petugas bersama 2 tersangka lain berstatus daftar pencarian orang (DPO).

“Distribusinya ke tempat hiburan malam dan perorangan dengan sistem langsung putus. Kami masih kembangkan dengan bidikan Jakarta,” ingat Coki.

Sementara, jujukan peredaran narkoba yang dikelola dari tempat hiburan malam, polisi mendapati 2 dari 5 tersangka adalah karyawan diskotek 777, Jl Mayjen Sungkono, Surabaya. Masing-masing dari keduanya, Josua Diego Alessandro (25) bin (alm) Piet Sandro dan Nur Baskoro (31) bin (alm) Saekan. Josua, warga Jl Balongsari Tama No. 10 tercatat sebagai staf diskotek 777 dan Nur Baskoro tinggal di Perum Merah Delima IV/14, Driyorejo Gresik adalah sekuriti tempat hiburan malam 777.

Keduanya diamankan setelah kedapatan membawa barang bukti narkotika jenis ekstasi sebanyak 150 butir. Rinciannya, 1 bungkus plastik berisikan 90 butir warna merah dengan berat 28,5 gram dan sekantong plastik dengan isi 60 butir seberat 17 gram.

Tersangka tak berkutik saat petugas menggeledah dalam sebuah penggerebekan di RM Ayam Goreng, Jl Tidar. Dari interogasi yang dilakukan petugas, tersangka mengaku, jika barang haram yang disimpannya diperoleh dari membeli ke seseorang yang juga karyawan diskotek 777.“Dia adalah Nur Baskoro, satpam triple seven yang kami bekuk di lokasi tempatnya bekerja,” tandas Coki.

Karena dianggap memiliki dan menyimpan narkotika golongan I bukan tanaman melebihi 5 gram, Josua dikenakan pasal 114 (2) subs pasal 112 (2) jo 132 (1) UU RI 35/2009 tentang Narkotika. Hal yang sama juga dikenakan kepada Nur Baskoro yang telah melanggar pasal 114 (2) jo pasal 132 (1) UU RI 35/2009 tentang Narkotika.

“Tidak hanya keduanya, 3 tersangka yang terbukti membawa narkoba ini juga dikenakan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara,” kata Coki didampingi Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Eko Puji Nugroho dan Kanit Idik III Satreskoba Polrestabes Surabaya, AKP Kusminto.

Sedangkan modus yang digunakan 3 tersangka lainnya yang dibeber dengan barang bukti kepemilikan narkoba dengan cara mengelabuhi petugas sebagai penjual barang elektronik dan service HP sekaligus berjualan pulsa elektronik.Masing-masing adalah Arry Sutanto (31) bin Eddy Sutanto yang ditangkap di rumahnya Jl Petemon II/8 dengan barang bukti 3 bungkus plastik berisikan kristal warna putih jenis sabu-sabu dengan berat total 6,52 gram beserta alat hisapnya. Seorang lagi adalah Chrisje Poo alias Clara binti Poo Tek Lay. Perempuan berusia 34 tahun ini telah menyisipkan sabu-sabu dalam usahanya sebagai penjual voucher pulsa elektrik.

Dari tangan Clara, petugas menyita barang bukti 16 bungkus sabu-sabu yang disimpan dalam kamar tidur di rumahnya Jl Tembakan 59 dan di rumahnya Jl Satelit Utara 6 Blok HT/20, Surabaya. Berat total barang bukti kepemilikan narkoba yang disimpan tersangka mencapai 71,36 gram.

Sementara Kepala Seksi Penindakan dan Penyelidikan Bea dan Cukai Soekarno-Hatta, Gatot Sugeng Wibowo mengatakan, Indonesia merupakan target utama peredaran narkotik. Bahkan, "Indonesia jadi sasaran pasar nomor dua terbesar setelah Jepang," kata Gatot. Setelah tsunami memorak-porandakan Jepang, kata Gatot, semakin banyak penyelundup narkotik yang berpaling ke Indonesia karena pasar penggunanya bagus dan harganya mahal.

Juru bicara Badan Narkotika Nasional, Sumirat Dwiyanto, juga membenarkan soal penyelundupan narkotik. Jenis narkotik yang paling banyak beredar di Indonesia adalah ganja, disusul sabu-sabu dan ekstasi, lalu heroin dan kokain. "Mayoritas dari hasil penangkapan adalah sabu," kata Sumirat.sab

(Sumber:http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=531a7cd663a71126b81fb5a68f6d62dc&jenis=d41d8cd98f00b204e9800998ecf8427e)

0 comments :

Posting Komentar