Surabaya – Lembaga Pemasyarakatan maupun Rumah Tahanan merupakan lahan basah bagi peredaran narkoba, demikian dikatakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Timur, Mashudi di Surabaya, Rabu pagi.

Menurut dia, Lapas adalah tempat bagi para pemakai narkoba yang sebelumnya diringkus polisi. Bahkan, tidak sedikit para penjahat yang tidak tersandung kasus narkoba juga seorang pemakai.

“Sangat sulit menghentikan seorang pemakai narkoba dan melepas kecanduannya. Apalagi di Lapas yang banyak penghuni dulunya pemakai. Makanya, peredaran narkoba di Lapas dijadikan lahan empuk bagi pengedar,” ujarnya.


Lantas, apakah tidak ada upaya dari pemerintah untuk memberikan bantuan rehabilitasi di dalam Lapas? Mashudi mengungkapkan, upaya tersebut dirasa sangat sulit terwujud karena mahalnya biaya rehabilitasi.

“Anggarannya yang tidak ada. Bahkan kalau dihitung-hitung per harinya, biaya rehabilitasi per orang lebih mahal daripada mengambil gelar S-2,” papar mantan Kakanwil Kemenkum dan HAM Sumatera Utara tersebut.

Berdasarkan data di Badan Narkotika Provinsi Jawa Timur, per orang yang direhabilitasi membutuhkan dana Rp60 ribu per harinya. Maka, per bulan bisa mencapai Rp1,8 juta. “Apalagi rehabilitasi tidak cukup sebulan-dua bulan. Ini sangat di luar kemampuan keuangan yang ada, jadi rasanya tidak mungkin,” cetus Mashudi.

Karena itulah, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah peredaran narkoba di Lapas adalah dengan meneliti dan membuat lebih ketat lagi barang-barang yang dibawa pengunjung.

Tidak hanya itu saja, menurut Mashudi, ketaatan dan kepatuhan petugas Lapas sangat dibutuhkan. “Kami pasti lebih tegas kepada petugas. Kalau sampai ada yang memberikan peluang atau bahkan sampai bekerja sama dengan pengunjung maupun narapidananya, maka pasti akan dipecat dan tidak ada toleransi lagi,” katanya, menegaskan.

Sementara, pantauan ANTARA di Rumah Tahanan Klas I Medaeng, Surabaya, dari 1.737 narapidana, terdapat 40 persen atau 600-an orang terlibat kasus narkoba. Bahkan tidak sedikit pula yang tersandung kasus hukum lain, namun terbukti sebagai pecandu narkoba.

Kepala Rutan Medaeng, Wahid, ketika ditemui mengatakan, pihaknya selalu mengantisipasi dan melakukan upaya pencegahan masuknya narkoba yang dibawa dari pengunjung.

“Kami pasti meneliti dan menggeledah setiap barang bawaan. Tapi kami akui masih ada saja yang lolos, ini karena tidak adanya dukungan alat teknologi seperti `metal detector` atau alat canggih lainnya, serta kurangnya tenaga pendidik yang cukup” jelas dia.

Di samping itu, lanjut dia, pihaknya tidak akan segan-segan bertindak tegas terhadap petugas yang memberikan peluang atau malah bekerja sama dengan narapidana. “Kalau memang terbukti, kami usulkan ke pimpinan (Kanwil Kemenkum dan HAM, red) untuk berikutnya ditindaklanjuti,” tutur Wahid.

(Sumber:http://berita.manadotoday.com/lapas-jadi-lahan-basah-peredaran-narkoba/)


0 comments :

Posting Komentar