Surabaya - Puluhan aktivis/pegiat antinarkoba dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) "East Java Action" (EJA) Surabaya, Minggu, melakukan aksi Hari Antinarkoba di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, untuk menolak perang narkoba.

"Perang terhadap narkoba itu gagal, karena sosialisasi yang dilakukan hanya menakut-nakuti korban dan mendorong pihak lain untuk memenjarakan korban, padahal korban lebih membutuhkan pusat-pusat rehabilitasi," kata koordinator EJA, Rudhy Wedhasmara.

Di sela-sela aksi yang diwarnai teatrikal aktivis EJA yang membawa pintu penjara atau terali penjara itu, ia menegaskan bahwa perang narkoba yang digaungkan Komite Global Perang Narkoba di bawah pimpinan mantan Sekjen PBB Kofi Annan itu hanya menghabiskan uang, karena terbukti gagal.


"BNN (badan narkotika nasional) juga menyediakan dana hingga Rp700 miliar, BNP (provinsi) menyiapkan Rp25 miliar, dan BNK (kabupaten/kota) menyediakan ratusan juta, bahkan BNK Surabaya mencapai Rp900 juta atau hampir Rp1 miliar," katanya.

Namun, hasilnya nihil, karena pengguna narkoba semakin banyak dan hal itu terjadi karena perang narkoba hanya menakut-nakuti masyarakat dan mendesak pemenjaraan korban, sehingga korban tidak akan sembuh, kecuali hanya keluar-masuk penjara atau hanya takut sesaat.

"Penjara itu bukan solusi, karena pemenjaraan itu justru tidak membuat jera, bahkan yang terjadi di penjara adalag kekerasan, pemerasan, dan pelanggaran HAM lainnya. Buktinya, satu kasus saja perlu biaya Rp20 juta, sehingga korban tidak akan sembuh," katanya.

Selain itu, katanya, korban yang ingin sembuh juga dipersulit untuk akses kesehatan, karena besarnya biaya, padahal UU Narkotika menyebutkan biaya negara untuk rehabilitasi.

"Karena itu, badan-badan narkotika itu sebaiknya membangun pusat rehabilitasi. Di Jatim hanya ada tiga pusat rehabilitasi di RS Jiwa Menur Surabaya, RS Jiwa Lawang Malang, dan satu lagi di Surabaya, padahal pengguna narkoba itu ada di Bojonegoro sampai Banyuwangi," katanya.

Ia menambahkan pembangunan pusat-pusat rehabilitasi akan lebih efektif untuk kesembuhan pecandu narkoba, sehingga dana yang ada akan lebih efektif daripada untuk kampanye yang menakut-nakuti pengguna narkoba yang tidak membuat jera hanya dengan penjara.

Dalam aksi itu, para aktivis/pegiat antinarkoba dari EJA Surabaya juga mengedarkan selebaran kepada masyarakat yang berisi lima tuntutan mereka, di antaranya mendesak Presiden RI untuk memberlakukan wajib rehabilitasi untuk dijalankan penyidik Polri dan BNN.

Selain itu, mereka juga mendesak Komisi III dan IX DPR RI untuk merevisi pasal-pasal UU Narkotika yang hanya memutuskan penahanan dan pemenjaraan bagi pengguna narkoba, sehingga hal itu justru meningkatkan jumlah pengguna narkoba, karena pengguna narkoba itu tidak akan sembuh di penjara.

Mereka juga mendesak Komisi III dan IX DPR RI untuk mengefektifkan anggaran untuk rehabilitasi yang akan mendorong kesembuhan pengguna narkoba.

(Sumber:http://www.antarajatim.com/lihat/berita/65298/aktivis-antinarkoba-surabaya-tolak-perang-narkoba)

0 comments :

Posting Komentar