Sejumlah 6 orang komunitas korban Napza dari Jawa Timur mengikuti penyelengaraan pendidikan khusus profesi advokat yang diselengarakan oleh Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) bekerjasama dengan Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), Minggu, (10/6). Kegiatan ini menjadi konsentrasi East Java Action (EJA) diperuntukan dalam mengakomodir permasalahan-permasalahan yang terjadi pada pengguna Napza pada wilayah litigasi dan non litigasi yang selama ini kerap dihadapi oleh komunitas. Sehingga dengan mengikuti kegiatan ini diharapkan EJA memiliki bantuan hukum.


Dengan demikian, pendidikan yang diikuti oleh komunitas korban Napza ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kemampuan dan sumber daya manusia dalam melakukan advokasi terhadap pemajuan HAM di Indonesia dengan adanya calon advokat yang memiliki kemampuan dan ketrampilan dibidang teknis hukum serta memiliki perspektif HAM dalam melakukan advokasi terhadap penanganan kasus terkait pelanggaran HAM. Selain itu, kegiatan ini diharapkan calon bantuan hukum tidak hanya menangani pada persoalan beracara dipersidangan, melainkan juga dituntut memberikan efek terhadap perubahan kebijakan yang lebih berspektif hak asasi manusia.

Pelatihan yang di selenggarakan di wisma perjalanan haji di Cempaka Putih Jakarta ini merupakan angkatan ke 5 dalam penyelenggaraan pendidikan khusus profesi advokat oleh PBHI. Direncanakan pendidikan ini akan menempuh waktu selama 12 hari dengan materi-materi yang merupakan standart kurikulum yang telah ditentukan oleh PERADI. Beberapa materi yang akan disampaikan antara lain adalah hukum acara pidana, peradilan HAM, peradilan Niaga, perdata, Mahkamah Konstitusi, kode etik profesi advokat dan lain sebagainya. Diluar materi yang telah terkurikulum ini, terdapat sesi malam yang akan direncanakan untuk membahas khusus tentang persoalan Napza termasuk instrumen kebijakannya. (RS)


0 comments :

Posting Komentar