BILA anda pengguna narkoba di Surabaya, tidak usah takut untuk berurusan dengan hukum. Pasalnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya sedang obral putusan rehabilitasi.

Kuncinya, bisa bisa menghadirkan dr Aripin, ke persidangan untuk memberikan keterangan ketergantungan narkoba dan harus menjalani rehabilitasi. Dapat dipastikan dengan keterangan itu, majelis hakim memiliki dasar untuk memberikan hukuman rehabilitasi yang sampai saat ini prosedurnya belum jelas.

Setelah beberapa orang terdakwa yang disidangkan mendapat rehabilitasi dari hakim, kemarin giliran Fanny Yongvi Sanjaya mahasiswi perhotelan Universitas Ciputra yang mendapat rehabiltasi dari majelis hakim yang diketuai Belman Tambunan.


Sebelumnya, jaksa Siti Nurhadiasih menuntutnya dengan penjara selama empat tahun. Hukuman rehabilitasi terhadap warga Jl Benowo Surabaya ini, sudah diperkirakan sebelumnya. Karena meski tidak didampingi penasehat hukum Fanny menghadirkan saksi dr Aripin (dokter Rutan Medaeng) untuk mendapatkan keterangan ketergantungan narkoba. Dr Aripin sendiri, setiap hari sering nampak di pengadilan untuk menjadi saksi ketergantungan obat, dalam perkara orang-orang tertentu.

Bahkan, pada Jum’at (9/9), nampak seorang wanita yang biasa menemui Fany diruang tahanan PN Surabaya, berusaha mencari hakim Belman Tambunan diruangannya. Namun, saat itu Surabaya Pagi melihat si perempuan tidak jadi masuk ruangan karena hakim Belman tidak berada dalam ruangannya.

Dalam amar putusannya, Belman Tambunan menyatakan terdakwa terbukti menyalahgunakan narkotika untuk dipakai sendiri. Melanggar pasal 127 ayat (1) huruf a UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika. ”Menjatuhkan hukuman selama satu tahun, dengan ketentuan terdakwa menjalani rehabilitasi di RS dr Soetomo,” ucap Belman.
Mendengar putusan tersebut Fany langsung menyalami majelis hakim meski sidang belum ditutup. ”Duduk dulu kamu, kamu harus menjalani rehabilitasi hingga sembuh dan jangan mengulanginya lagi. Kamu masih ingin kuliah kan, kuliah yang baik dan jadi anak yang baik,” kata Belman, memberikan nasehat.

Atas putusan ini, jaksa Siti Nurhadiasih masih pikir-pikir. ”Kita lapor dulu dengan pimpinan,” ucap Siti, tergopoh-gopoh menghindari wartawan.
Sebelumnya Fany, dituntut penjara selama empat tahun karena karena menyimpan dan memiliki sabu-sabu. selain hukuman badan, terdakwa juga dituntut membayar denda sebesarRp 800 juta subsider enam bulan kurungan.

Terdakwa ditangkap polisi di Jalan Diponegoro, tepatnya Rumah Sakit Vincentius A Paulo, Maret lalu. Saat polisi menggeledah dari dompet Fanny ditemukan 1 poket sabu-sabu dan 1 butir ekstasi warna biru.

Menanggapi banyaknya terdakwa yang direhabilitasi, advokat dan dosen Narotama, Sunarno Edi Wibowo mengatakan proses rehabilitasi tidak gampang. Sebelum ditangkap terdakwa harus benar-benar mengantongi medical record dari dokter yang merawatnya sebagai pengguna. ”Bukan, tiba-tiba setelah disidangkan menghadirkan dokter yang memberikan keterangan rehabilitasi,” ucap Bowo.

Bahkan dirinya pernah ditolak hakim saat meminta rehabilitasi terhadap perkara Roy Martin. Meski saat itu Roy Martin punya kartu berobat dari dokter tapi karena tidak ada medical recordnya ditolak. ”Kalau hakim gampang memberikan rehabilitasi, petimbangan hukumnya patut diragukan,” tandasnya. nbd

(sumber:http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962024206f488534e5615ed524b1311d581)

0 comments :

Posting Komentar