Sejak dibentuknya Ikatan Persaudaraan Pengguna Napza Indonesia pada tahun 2006 hingga kemudian kini berubah nama menjadi Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI). PKNI sendiri baik secara organisasi maupun keanggotaannya telah banyak hal yang dilalui. Sebagai salah satu pandangan oleh beberapa pihak bahwa PKNI sebagai salah satu pelopor jaringan yang saat ini disebut dengan populasi kunci dirasakan masih bisa ditingkatkan di dalam kaitannya dengan peran serta dan fungsinya dalam melakukan advokasi terkait kebijakan Napza, ketersediaan layanan pendukungnya dan bagaimana mengurangi dampak buruk dari penggunaannya.


PKNI sebagai wadah komunikasi dan koordinasi korban Napza di tingkat nasional, sesuai dengan mandat Kongres Luar Biasa (KLB) yang dilaksanakan pada bulan November tahun 2009, maka secara konstitusi masa jabatan kepengurusan organisasi PKNI periode berjalan berakhir pada tahun 2011. Dengan demikian PKNI melakukan Kongres Nasional ke-2 (28/9) di Yogyakarta. Kegiatan kongres ini selain menentukan kepenggurusan baru juga memperbaiki Anggaran Dasar dan Anggran Rumah Tangga periode berikutnya, termasuk melakukan kegiatan penjajakan kebutuhan anggota dan lokakarya pendokumentasian akses layanan kesehatan dan HAM bagi pengguna Napza.

Kegiatan terakhir, menurut Suhendro Sugiarto “kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran nyata kebutuhan para anggota yang dapat di akomodir”. Ebbe sapaan akrabnya menjelaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan untuk rencana kerja periode berikutnya, ungkapnya di sela-sela sesi. Kegiatan yang di ikuti oleh 19 kelompok korban Napza dari 13 provinsi di Indonesia ini direncanakan akan berlangsung selama 4 hari dan diteruskan untuk mengikuti pertemuan Nasional AIDS ke-4. RS.

0 comments :

Posting Komentar