Surabaya (EJA) – Untuk tujuan meningkatkan optimalisasi kerja dan peran masing-masing melalui koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jawa Timur dengan dukungan HCPI (HIV Coorporation Program for Indonesia) menyelenggarakan kegiatan pertemuan bersama antara EJA, Bina Hati, Sadar Hati, Bambu Nusantara dan Dinas Kesehatan Jatim.

Pertemuan bersama yang diselenggarakan, Kamis (15/12) di Hotel Santika Surabaya membahas rencana kerja tahun 2012 dimasing-masing organisasi yang kemudian disinergikan antara satu dengan lainnya. Hal ini diungkapkan oleh M. Theo Zainuri selaku Koordinator Program Officer HCPI Jatim bahwa pertemuan ini untuk merespon tantangan yang akan dihadapi kedepan akan situasi upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Jawa Timur terutama pada komunitas Pengguna Napza Suntik (Penasun).

Menurut Theo permasalahan peningkatan akses layanan kesehatan perlu dibahas lebih mendalam agar perencanaan baik di masyarakat sipil, penyedia layanan dan KPA sebagai intitusi yang bertugas mengkoordinasikan dapat terselenggara secara optimal sesuai dengan situasi kebutuhan yang terdapat pada komunitas.

Ditambahkan Theo bahwa permasalahan yang dihadapi seputar akses layanan pada Penasun hampir seragam antara kota Surabaya, kota dan kabupaten Malang serta Madiun. Namun, dia mengkritisi tentang berbedanya pemberian layanan diantara kota tersebut khususnya pada Layanan Jarum Suntik Steril (LJSS). “Surabaya sesuai dengan data yang ada, tercatat cakupan layanan LJSS tergolong kecil di penyedia layanan Puskesmas, sementara data LSM dikomunitas menunjukan Penasun menyuntik aktif masih memiliki frekwensi cukup tinggi” ujarnya. Dia mengharapkan bahwa di provinsi Jawa Timur terdapat kesamaan pemberian layanan seperti diluar kota Surabaya yang dapat memberikan layanan LJSS melalui LSM Harm Reduction untuk merespon epidemi HIV.

Hal senada diungkapkan oleh Rudhy Sinyo dari EJA bahwa dikota Surabaya sesuai data Rencana Aksi Nasional hingga periode September 2011 tercatat 324 orang Penasun mengakses layanan LJSS. Menurutnya data ini tidak dapat dilihat intensitas kunjungan Penasun kepenyedia layanan. Pasalnya, data ini hanya melihat jumlah kunjungan Penasun tiap orang per-bulannya bukan melihat kunjungan frekwensi kedatangannya.

Pertemuan yang dilakukan di lobby hotel ini juga dihadiri oleh Risa Alexander dari HCPI National Technical Officer. Risa mengungkapkan bahwa untuk melihat intensitas itu, saat ini institusinya lebih memfokuskan pada kualitas layanan dengan salah satu indikatornya melalui penghitungan jumlah jarum suntik yang keluar di penyedia layanan. “Ini nanti bisa dihitung rasionya yang berasal dari pemberian layanan dan jumlah distribusi jarum”, ungkapnya. Menurut dia penghitungan rasionya bisa diukur untuk melihat efektifitas layanan yang diberikan.

Pertemuan selama 6 jam ini mensepakati diperlukannya advokasi bersama mengenai layanan jarum suntik yang dapat diberikan layanannya oleh LSM sesuai dengan acuan Kepmenkes 567 tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan program penggurangan dampak buruk Napza. Selain itu, pada pertemuan bersama ini juga disepakati mengenai peningkatan pendidikan hukum dan HAM (Paralegal) di komunitas Penasun, berikut advokasi kebijakan ditingkat daerah terutama pijakan kesinambungan pelaksanaan program Harm Reduction. (RS)

6 comments :

Inang Winarso mengatakan...

Ini kemunduran cara berpikir.......

Berkaitan dengan apa yang dibicarakan di atas, saya punya perumpamaan sbb :

"Ada seseorang yang berhati baik berjiwa mulia, pokoknya tidak ada yang tercela dari orang ini..
Tiba-tiba ketika dia melintas dipinggir sungai, katakanlah sungai Bengawan Solo, dia melihat ada bayi masih hidup di keranjang bayi yang terbawa arus sungai, lalu karena orang ini sangat baik, maka dia nyebur ke sungai lalu diangkat bayi itu lalu dirawat. Ketika esok paginya melintas di pinggir sungai dia melihat lagi ada keranjang bayi dan bayi mungil, lalu nyebur lagi dan dirawat lagi si bayi itu. Esok paginya dia melintas lagi, ternyata dia lihat bayi yang dihanyutkan lagi, lalu dia rawat si bayi itu. Karena terus menerus dia melihat bayi hanyut di sungai, maka si orang baik ini bikin rumah di pinggir sungai untuk menunggu setiap kali ada bayi yg hanyut, dan itu yg dilakukannya sepanjang waktu. dan sampai saat ini selalu ada bayi yg hanyut dan selalu yg dia lakukan adalah merawatnya. Lama-lama dia tidak mampu lagi menampung bayi-bayi itu.....dan akhirnya bayi-bayi itu dibiarkan hanyut terbawa sampai ke laut.
Seharusnya EJA tidak memilih jalan seperti yg dilakukan si baik hati itu..... Seharusnya yg dilakukan adalah, segera cari tahu kenapa setiap hari ada bayi yg dihanyutkan?? cobalah pergi ke hulu (pokok pangkal masalah) apa sebenarnya yg terjadi di hulu?
Pertanyaannya apakah Anda semua yg ada di potret itu sudah pernah pergi ke hulu?? hanya Anda yg bisa menjawabnya. Karena saya yakin kalau Anda ke hulu dan mencari tahu akar masalah yg sebenarnya, solusi yg akan anda lakukan bukan seperti yg anda rumuskan di atas. Saya yakin itu. Inang Winarso

EJA mengatakan...

Hulunya kemana aja mas?, soalnya sumber mata airnya bercabang2 nie.

Hanya info bhw akan diinisiasi pertemuan bersama untuk membahas hal ini dengan seluruh stakeholder lokal... sbg perwakilan komunitas, kami mencoba memastikan untuk mendukung dan menghargai apapun keputusan yang kemudian akan di sepakati di tingkat lokal, apa yang kemudian akan disepakati hingga saat ini kami belum bisa prediksi, namun kami berharap apapun keputusannya, semoga itu berpihak pada komunitas...

Kami salah satunya tertarik mendorong normalisasi jarum suntik yg dapat diterima oleh seluruh pihak, menginggat koridor kami bukan sebagai penyedia dan pendorong komunitas kepada akses layanan LJSS, namun lebih pada penikmat layanan dengan konsen kepada penciptaan lingkungan kondusifnya terutama pada wilayah yg terkait hukum dan HAM yg terjadi di komunitas.

syamsul mengatakan...

sebetulnya apa yang dilakukan teman2 pada foto diatas adalah sebagai upaya untuk mencari strategi yang tepat dalam menjawab persoalan-persoalan terkait program dampak buruk HIV/AIDS khususnya pada kelompok pengguna napza suntik, memang layanan jarum suntik steril dipuskesmas saat ini sudah ada tetapi ini masih merupakan bagian salah satu cara atau strategi dalam memutus mata rantai penularan namun apakah cukup satu strategi akan dijalankan jika ternyata secara cakupan penasun yang mengakses dipuskesmas cukup rendah sementara penyuntikan dikomunitas penasun cukup tinggi,muncul pertanyaan dalam pikiran saya apakah mungkin jika nantinya LSM HR bisa menjadi satelit jarum suntik steril guna menjawab persoalan yang saya sebutkan diatas.

EJA mengatakan...

Semakin menarik tentang layanan LJSS jika dikaitkan antara Pemberdayaan Vs Epidemi?, Tranformatif Vs Karitatif?, Kepentingan Vs Kebutuhan?, Kewajiban Negara Vs Kewajiban Masyarakat?, Kebijakan Vs Kebajikan?, dll...

Mari kita analisa bersama....

Inang Winarso mengatakan...

Kalau analisa saya, masalah di hulu itu bersumber pada 3 masalah yaitu :
1. Adanya konvensi tunggal narko 1961
2. AIDS sbg komoditas yg memberi keuntungan bagi negara2 pemberi donor (ini bisa ditanyakan kpd negara donor)
3.Tekanan Globalisasi yg memperkecil peran pemerintah dlm mengatasi masalah kemasyarakatan

Jawaba kasarnya untuk menghapus tiga masalah tsb di atas agar tidak ada lagi "bayi-bayi yg dihanyutkan" adalah :
1. Cabut konvensi
2. Integrasikan masalah AIDS ke masalah sehari-hari masyarakat dan jangan tergantung bantuan LN
3. Lawan globalisasi, kuatkan peran negara sendiri.

Strateginya? Syamsul pasti bisa menguraikannya.. ayo pak Syamsul... uraikan ya....
Tks

EJA mengatakan...

Menarik mas...
Btw, ayo pak Syamsul mau dibawa kemana kapalnya tuch...

Posting Komentar