Pasuruan-Para pengguna Napza di wilayah Pasuruan dan sekitarnya yang sedang jalani terapi ketergantungan kini tak perlu jauh-jauh harus ke Surabaya untuk jalani terapi. Karena kini Puskesmas Bangil Pasuruan membuka layanan baru, Poli Terapan Rumatan Metadon (PTRM).

PTRM yang secara resmi baru dibuka hari ini (10/10/2011) memberikan layanan kepada pecandu untuk mengakses kebutuhan metadon sebagai bagian terapi untuk menghilangkan kecanduan terhadap Napza.

Pembukaan PTRM di Puskesmas Bangil ini tentu saja disambut gembira oleh komunitas pecandu yang ada di Pasuruan. Karena selama ini, sebelum PTRM Bangil dibuka, para pecandu yang berdomisili di Pasuruan harus ke Surabaya untuk mengakses metadon. Padahal terapi metadon ini harus dilakukan setiap hari. Sehari saja tidak mengonsumsi metadon, maka bisa dipastikan mereka akan merasa sakauw.

"Dengan adanya PTRM di Bangil, teman-teman merasa dimudahkan. Karena jka harus di Surabaya, berat di ongkos, belum lagi terbentur dengan jam kerja," ujar Oyik Renaldi Ketua Komunitas Korban Napza Pasuruan (Barnaspas).

Dalam beberapa kasus, akses metadon yang jauh, menyebabkan para pecandu yang sedang menjalani terapi metadon harus putus di tengah jalan. Mereka terpaksa berhenti jalani terapi, karena tak sanggup jika harus mondar-mandir Surabaya-Pasuruan setiap hari. Mereka merasa berat di ongkos dan terbentur dengan jam kerja.

Padahal, jika pecandu sampai berhenti terapi metadon, maka dikhawatirkan mereka akan kembali menggunakan jarum suntik. Yang pada akhirnya akan meningkatkan angka prevalensi HIV/AIDS.

Sementara itu, Firman Pengelola Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Jawa Timur menyatakan, jika saat ini memang tak semua rumah sakit atau puskesmas di Jawa Timur memiliki layanan PTRM. Karena untuk membuat layanan PTRM ini harus melalui asessment dari Kementerian Kesehatan.

"Dan lagi tak semua daerah mempunyai populasi pengguna napza yang jumlahnya signifikan," ujar Firman.

0 comments :

Posting Komentar