suarasurabaya.net - Bandar narkoba di dalam penjara seringkali memanfaatkan para sipir untuk membantu menyelundupkan narkoba. Dalam bahasa para napi, sipir yang membantu menyelundupkan narkoba baik ke dalam maupun ke luar lapas disebut sebagai "kapal selam".

Narto, sebut saja begitu, mantan penghuni salah satu Rumah Tahanan (Rutan) tahun 2009 karena kasus mengkonsumsi putau, menuturkan sekali menyelundupkan narkoba, kapal selam ini biasanya mendapatkan imbalan sebesar Rp 200 ribu.

Barang yang diselundupkan, bisa macam-macam. Tidak hanya narkoba, bisa juga aneka peralatan misalnya juga celuler. Barang-barang ini biasanya masuk dari pengunjung lantas dititipkan ke kapal selam, yang kemudian diserahkan pada tahanan pendamping (taping).

Dari taping inilah barang itu bisa sampai pada napi pemesan. Jika barang itu berupa narkoba, biasanya mampir dulu ke rumah sakit, sebutan untuk klinik yang ada di dalam rutan. "Masuk rumah sakit dulu, supaya lebih aman karena sabu-sabu kan bisa juga disembunyikan bersamaan dengan obat-obatan," kata Narto, ketika ditemui suarasurabaya.net disalah satu yayasan peduli HIV/AIDS di Surabaya.

Namun, sipir yang menjadi kapal selam tidak sembarangan. Biasanya mereka menolak dan meminta hanya mengawal sehingga para taping-lah yang menerima barang itu langsung dari para pengunjung, sedangkan sipir hanya bertugas mengawal supaya barang ini aman dari proses seleksi ketat yang dilakukan pengelola rutan.

Sementara itu, jika barang yang masuk dalam jumlah besar, maka para penghuni Rutan menyebut hari itu sebagai "hari berpesta", sebuah hari untuk menggambarkan suasana pesta narkoba berjamaah yang digelar para napi maupun tahanan.

Prapto (bukan nama sebenarnya) mantan napi yang pernah mendekam di salah satu Rutan narkoba di Jatim pada tahun 2004 mengisahkan jika tiba waktunya berpesta, maka akan dilakukan kapan pun tidak perduli siang ataupun malam.

House Music-pun mengiringi dari dalam setiap kamar. Pesta narkoba itu biasanya digelar di blok F, sebuah blok paling belakang di rutan itu. Pesta sabu-sabu ini, biasanya juga digelar jika para bandar yang ada di kompleks itu sedang berbaik hati untuk menjual murah barangnya.

Di rutan itu, blok F setidaknya memiliki dua lantai. Lantai atas berukuran lebih besar, karenanya di lantai atas ini, para pengguna biasa menghisap sekaligus bermain judi.

Prapto sendiri menghuni rutan itu mulai Januari hingga Desember 2004. Saat itu, harga sabu-sabu di dalam rutan sebenarnya cukup mahal karena masih mencapai Rp 500 ribu pergram. Namun harga ini bisa menjadi murah jika para bandar sedang berbaik hati.

Untuk membeli sabu-sabu, apapun akan dilakukan oleh para napi ini. Mereka biasanya mendapatkan uang dari pulsa yang dikirimkan oleh keluarga mereka. Apalagi, beli sabu-sabu bisa dilakukan dengan cara bertukar pulsa.

Agus Irianto, BC.IP,SH,Msi, Kepala Rumah Tahanan (Rutan ) Kelas 1 Surabaya, memastikan peristiwa yang diceritakan Narto ini adalah masa lalu. Agus yang sudah 1,8 tahun bertugas di Rutan Medaeng ini mengatakan, saat ini tidak ada lagi sipir yang bermain-main. "Satu fokus utamanya di sini adalah mengubah perilaku para sipir," kata dia. (tim)

Teks Foto:
- Kondisi Rutan Medaeng untuk tahanan narkoba pada tahun 2008 lalu.
Foto: Dok. suarasurabaya.net

(Sumber:http://www.suarasurabaya.net/fokus/3/2013/115885-Kapal-Selam-di-Dalam-Rutan)

0 comments :

Posting Komentar