suarasurabaya.net - 
"Hidup di bui bagaikan burung 
Bangun pagi makan nasi jagung 
Tidur di ubin, pikiran bingung 
Apa daya badanku terkurung..." 

Sepenggal lirik ”Hidup di Bui” milik band 70-an, D’lloyd ini mungkin tak lagi cocok untuk menggambarkan kehidupan para tahanan maupun terpidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) maupun Rumah Tahanan (Rutan). Terutama untuk para tahanan kasus narkoba. Betapa tidak, tahanan narkoba yang biasanya disendirikan di satu blok ini bisa langsung membeli jenis narkoba kesukaannya begitu bangun tidur. 

Wahyu, sebut saja begitu, mantan narapidana narkoba di dua Lapas dan Rutan di Jawa Timur ini, mengatakan peredaran narkoba di dalam penjara bukan hal yang aneh. Selalu ada barang, sebutan narkoba di penjara, yang bisa dipesan, bahkan dengan cara mengecer. 

”Di dalem penjara itu ibaratnya sudah mirip Alfamart. Hampir semua jenis barang ada. Biasanya yang stok (ada dipersediaan) itu cimeng (ganja), sabu, dan putaw. Kalau gak biasa yang itu, dan mau suntik juga ada,” jelas Wahyu.

Lelaki bertato putri duyung di pergelangan tangannya ini mengaku pernah menjadi orang kepercayaan seorang bos narkoba di penjara. Selain membantu administrasi sang Bos dalam mengendalikan bisnis narkobanya yang ada di luar penjara, dia juga menyediakan narkoba untuk diedarkan di dalam penjara.

”Barangnya bukan punya saya. Punyanya bos semua. Saya cuma jualin thok. Kalau mau beli ya lewat saya. Nanti saya yang kumpulkan uangnya, saya juga yang menagih kalau ada yang utang. Semua uangnya saya kasihkan bos.”

Menurut Wahyu, separuh lebih para tahanan narkoba di dua penjara yang pernah dia tinggali sudah kencanduan. Ini membuat peredaran narkoba di dalam penjara menjadi makin marak. ”Biasanya pagi-pagi, pas selnya dibuka, sudah ada yang nyamperin. Kalau mau ya tinggal minta, toh semuanya sudah tahu siapa aja tahanan yang bisa nyediain barang. Tinggal marani (mendekati) aku saja, terus bilang mau barang apa. Mau satu gram atau seprempi (istilah untuk ukuran seperempat) cimeng, sabu, ada semua,” kata Wahyu.

Pembelian narkoba di dalam penjara tidak melulu harus dengan uang. Kondisi tahanan yang terisolasi dengan dunia luar, dan tidak boleh membawa uang membuat transaksi narkoba bisa dilakukan dengan pulsa. Kata Wahyu, hampir semua tahanan memiliki HP sendiri. Beberapa diantaranya bahkan berjualan pulsa elektronik kepada sesama tahanan atau petugas.

Bagi yang tidak, bisa menelepon atau SMS keluarganya di luar dan minta mengirimkan pulsa senilai harga jual narkoba yang dibelinya, ke nomor HP milik Wahyu atau bosnya. Tetapi Wahyu mensyaratkan, pembayaran dengan pulsa hanya bisa dilakukan pada transaksi dengan jumlah uang yang tidak terlalu besar. Meskipun bisa saja membayar pulsa seharga jutaan rupiah, tetapi kata Wahyu, bosnya tidak mau memiliki saldo pulsa sampai jutaan. Apalagi, pulsa itu hanya digunakan Sang Bos untuk menghubungi keluarganya. Kalau untuk bisnis, jaringannya yang ada di luar lah yang lebih sering menelepon.

”Atau kalau bener-bener gak ada. Uang gak ada, pulsa gak punya, bisalah diutang. Misalnya harus nunggu seminggu, saat keluarganya datang menjenguk, dan dikasih uang baru dibayar. Nggak apa-apa. Toh kalau nggak bayar yang rugi dia sendiri. Selanjutnya dia pasti pengen make narkoba lagi kan? Saya nggak akan kasih sebelum dia bayar utangnya,” ungkapnya.

Kata Wahyu, harga jual semua jenis narkoba di dalam penjara jelas jauh lebih mahal. Menjualnya dengan harga pasaran, tentu tidak sebanding dengan resiko menyelundupkan narkoba dari luar, masuk ke dalam sel.

”Yang blue sky (salah satu jenis sabu) itu mahal. Barangnya juga nggak mesti kita stok, kadang ya harus mesen dulu dari luar. Rata-rata naiknya bisa dua atau tiga kali lipat dari harga pasar. Blue sky itu di dalam bisa tiga atau empat jutaan per gram. Biasanya sih belinya seprempi. Itu aja udah top. Minimal biar nggak sakit karena sakaw,” jelas Wahyu.

Saat bertemu di sebuah restoran di wilayah Surabaya Timur, Wahyu juga bercerita bagaimana cara menyelundupkan narkoba ke dalam sel penjara. ”Dari mana lagi kalau nggak kerjasama sama petugas. Kalau nggak ada kerjasama ya jelas nggak mungkin. Tiap barang yang dibawa dari luar oleh pembesuk pasti selalu diperiksa. Misalnya bos pesen suntikan atau pesan sabu dari luar. Nanti ada orangnya bos yang besuk, kemudian sipir sudah diberitahu terlebih dulu. Barangnya bisa ditaruh di dalam bungkusan makanan atau bungkusan apa saja. Bungkusan itu tetap diperiksa, tapi kan sudah diberitahu duluan. Jadi dibiarkan saja. Atau bisa juga langsung dibawa sipir masuk. Malam harinya, dia ke sel bos, langsung barang diserahkan.”

Agus Irianto, BC.IP,SH,Msi, Kepala Rumah Tahanan (Rutan ) Kelas 1 Surabaya membantah ada peredaran narkoba untuk konsumsi tahanan di rutan ini. Tetapi mantan Kepala Rutan Kelas 1 Bandar Lampung ini mengaku memiliki masalah tentang pengawasan barang-barang yang dibawa pembesuk. Dengan petugas di pintu depan yang hanya empat orang, kata Agus sudah pasti kesulitan mengawasi dan memeriksa semua barang milik pembesuk tahanan.

”Dalam sehari itu ada enam ratus sampai delapan ratus pembesuk. Kalau separuh saja membawa barang satu saja, itu petugas sudah pasti kewalahan. Belum lagi durasi saat memeriksa. Belum lagi kalau petugas kelelahan, mungkin sesaat hilang konsentrasi, tentu pemeriksaannya akan jadi longgar. Apalagi kita ini masih manual pemeriksaanya,” keluhnya.

Kata Agus, kondisi Rutan Kelas 1 Surabaya atau Medaeng ini memang jauh dari ideal. Selain sudah over kapasitas, maksimal jumlah penghuni lima ratus orang tetapi ditempati hampir 1.500 tahanan, jumlah petugasnya minim.

Agus menjelaskan, rasio petugas dan tahanan di sana adalah 1:100. ”Kita semua harus bekerja dalam keterbatasan, terutama soal pemeriksaan barang pembesuk dan pengawasan tahanan. Modus-modus penyelelundupan barang terlarang, seperti senjata tajam, narkoba dan HP makin lama makin canggih. Misalnya HP, yang diselundupkan rangka demi rangka. Setelah itu baru dirakit sendiri di sel. Atau menyembunyikan lintingan ganja di balik rambut model dreadlock (gimbal)”. (tim)

Teks Foto: Ilustrasi
(Sumber: http://www.suarasurabaya.net/fokus/3/2013/115879-Serba-Ada-di-Dalam-Penjara)

0 comments :

Posting Komentar