suarasurabaya.net - Pria 35 tahun ini terlihat tinggi nan tegap. Namun, wajahnya menua, guratan kulit di dekat tulang pipinya yang cekung, menyiratkan pengalaman hidup yang keras. Sebuah tato kecil bergambar putri duyung di pergelangan tangannya terlihat, saat Wahyu (bukan nama sebenarnya) mengambil segelas cappuccino latte di meja depan. 

”Kenang-kenangan di penjara”, kata Wahyu menjelaskan tato itu. ”Maunya sih gambar perempuan telanjang, tapi teman yang bikin salah gambar kakinya. Mungkin masih sisa mabuknya,” ujarnya saat ditemui, Rabu pekan lalu. 

Wahyu baru setahun keluar dari Lapas Madiun. Dia divonis 18 bulan setelah tertangkap menjual ekstasi di sebuah tempat hiburan. Sebelum di Lapas Madiun, Wahyu pernah dipenjara hampir 2 tahun di Rutan Medaeng, dari 2007-2009. Kasusnya sama, jualan narkoba. 

Pengalaman di dua penjara itu membawanya bertemu dengan JR, salah satu bandar narkoba yang sekarang di sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. ”Saya satu sel sama JR. Mungkin karena sama-sama dari luar Jawa, dia percaya. Saya jadi semacam tangan kanannya. Kerjanya nyatet transaksi barang (narkoba-red) di dalam dan di luar penjara. Kalau dia telepon anak buahnya di luar penjara, saya yang nyatet berapa yang dikirim, ke alamat mana” , jelasnya.


Di dalam penjara orang seperti JR ini disebut bos. Dialah tokoh penting peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam penjara. Sebelum dipenjara, mereka sudah berbisnis narkoba. Saat ditangkap, tembok kokoh penjara tak menyurutkan bisnisnya. Justru bisnis barang haram ini makin leluasa dia kendalikan. ”Di dalam (penjara-red) malah lebih aman. Siapa yang mau ngubek-ngubek mereka? Paling juga razia mendadak oleh polisi atau BNN. Tapi biasanya bocor duluan ”, kata Wahyu.

 Menurut Wahyu, pada 2007-2009 itu, paling tidak ada tiga bos narkoba di tiap blok penjara yang pernah dia huni. Bos-bos ini laksana raja kecil di area penjara. Punya beberapa pembantu dari kalangan narapida, dan bebas memakai handphone yang jadi piranti paling penting dalam pengendalian narkoba dari dalam penjara.

”HP dia pake buat menghubungi jaringannya di luar. Jadi dia tetap bisa mengendalikan peredaran dari dalam sini. Kirim sana, kirim sini. Uangnya ya masuk tabungannya. Bos saya punya 2 HP. Satu buat bisnisnya ini, satunya buat istrinya. Kalau bos itu bebas, mau telepon kapan aja ya gak masalah. Udah pada tahu”, kata Wahyu.

HP menjadi piranti paling penting dalam pengendalian narkoba dari dalam penjara. Fungsinya tidak terbatas sebagai alat komunikasi dengan dunia luar saja. Dengan HP pula, seorang bos bisa mengendalikan keluar masuknya uang dalam setiap transaksi narakoba lewat sistem mobile banking. Dengan teknologi HP yang makin canggih, fitur-fitur yang juga modern, seorang bos bisa mengawasi semua aset-aset miliknya di luar penjara.

Bos yang ada di dalam penjara, adalah mata rantai penting dalam peredaran narkoba. Posisi mereka bisa jadi ada di titik paling puncak dalam sebuah sindikat narkoba. Dialah yang paling berperan dalam penentuan distribusi, jumlah barang, harga dan lain-lain dalam peredaran narkoba.

Dalam keteranganya pada sejumlah media di Jakarta akhir tahun lalu, Deputi Pemberantasan BNN Irjen Benny Joshua Mamoto mengatakan seorang bos biasanya memiliki sindikat sendiri. Dalam satu sindikat ada bos, tangan kanan, yang merekrut kurir, mengatur rute peredaran, dan yang mengatur keuangan. Saat bos di dalam penjara, sindikat ini tetap bekerja supaya bisnisnya tidak mati. Maklum, ada sindikat lain yang mungkin akan menggantikan sindikat lain yang sudah tidak aktif. Karena itu, Si bos perlu terus mengatur sindikatnya supaya bisnis narkobanya tidak tenggelam, meski berada di dalam tembok penjara.

Mengendalikan peredaran narkoba di dalam penjara tentu bukan soal mudah. Semua tahanan, tentu diawasi ketat tiap hari. Belum lagi razia barang-barang terlarang yang dilakukan sipir. Tetapi bagi Bos, itu bukan soal. Kata Wahyu, di dalam penjara semuanya bisa diatur asal ada uang. Dan satu lagi yang terpenting, kerjasama dengan petugas penjara.

Alhasil, Sang Bos pun semakin nyaman mengendalikan bisnis narkobanya dari dalam sel. Saking amannya, mereka tidak perlu khawatir dengan razia. ”Grebekan (razia-red) itu biasanya kita udah tahu. Pokoknya dimana-mana, di Medaeng, di Madiun, sampai di Cipinang itu biasanya udah bocor dulu. Yang memberitahu siapa lagi kalau bukan sipir. Jadi misalnya, dia bilang sama bos, nanti malam ada grebekan. Harus hati-hati. Kadang kita dikasih tahu hanya 1 atau 2 jam sebelum razia. Barang-barang yang dilarang, dibuang saja, jangan sampai ketahuan,” ujarnya.

Tetapi Wahyu juga mengaku kadang ada razia dari polisi atau BNN yang masuk dalam penjara secara mendadak. ”Kalau itu berarti sedang sial aja. Seperti razia di Rutan Medaeng tahun 2007 lalu, satu bos ketangkep kan. Dia nggak sempet mbuang barang-barang di selnya. Ya itu nasib. Tapi biasanya kita sudah tahu dari sipir.”

”Hubungan akrab” antara Bos dan petugas juga terlihat saat acara-acara khusus yang diadakan penjara. Misalnya peringatan hari-hari besar keagamaan atau bahkan kunjungan pejabat. Wahyu mengaku pernah mengantarkan uang sumbangan dari salah satu bos ke salah satu ruangan. Uang itu dibungkus amplop terbuka warna hijau. Dia mengintip, ada lima juta di sana. ”Sumbangan itu gak usah diminta. Sudah tahulah kalau penjara lagi punya kerjaan. Kadang ada petugas yang bilang mau ada acara 17-an atau kunjungan siapa ke penjara. Semua bos kompak ngasih. Terserah itu mau dibuat apa. Yang penting sudah nyumbang, ” kata Wahyu.

Agus Irianto, BC.IP,SH,Msi, Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Surabaya membantah keterlibatan petugasnya dalam pengendalian narkoba dari dalam penjara. ”Saya tidak tahu di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau rutan lain, tetapi selama 1,8 tahun saya bertugas disini, tidak ada satupun anggota saya yang terlibat dalam kasus seperti ini. Saya tegaskan, tidak ada pengendalian narkoba yang dilakukan tahanan di Rutan Kelas 1 Surabaya, ” tegas pria asli Cirebon ini.

Meski demikian, Agus mengakui salah satu tugas utama yang dibebankan padanya adalah memimpin rutan Medaeng. ” Fokus saya salah satunya memang merubah culture set dan mind set dari para sipir di sini. Kita tahu lah dimasa lalu, kabar-kabar soal petugas yang ikut main mata dengan tahanan, bekerjasama, atau ikut terlibat, itu sudah bukan rahasia lagi. Saya ingin berantas itu. Sekarang harus profesional, pengawasan lebih ketat dan ancaman sanksinya tidak main-main. Apalagi pegawai di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM juga sudah mendapatkan remunerasi. Jadi tidak ada alasan untuk kerja seenaknya”, ujar mantan Kepala Kepala Keamanan Rutan Salemba ini.

Menurut Agus, sekarang ini ada tiga orang tahanan yang ”berstatus” sebagai bos narkoba. ”Status” itu kata dia diberikan karena mereka masuk penjara, atas dugaan menjadi pengedar narkoba dalam jumlah besar. ”Kalau sekarang mereka tidak berkutik. Tidak ada celah yang bisa mereka lakukan, misalnya untuk mengendalikan narkoba dari dalam. HP saja mereka tidak punya, ” katanya. (tim)

Teks Foto: Ilustrasi

(Sumber:http://www.suarasurabaya.net/fokus/3/2013/115876-Setoran-Kala-Rutan-Hajatan)

0 comments :

Posting Komentar