SURABAYA (WIN): Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur merespon pengakuan puluhan mantan dan pecandu narkoba dari East Java Action (EJA) yang sering dipermainkan jaksa yang menangani perkara narkoba. Mereka dijadikan mesin ATM jika ingin hukumannya diperingan.

Hal ini dikatakan EJA saat berdemo di kantor Kejati Jatim Selasa (25/6/13). Supaya tidak jadi sapi perahan terus menerus oleh aparat penegak hukum, EJA meminta para pecandu tidak dihukum penjara, tapi direhabilitasi.

Menindaklanjuti permintaan EJA itu, Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati Jatim, Pathor Rahman, AKamis (27/6/13) menuturkan, apa yang disampaikan para mantan pecandu narkoba itu bisa dijadikan masukan bagi kejati.

Dia mengakui jaksa memang rawan melakukan penyimpangan jika tidak hati-hati. “Karena itu kita semua harus memonitor dari penyidikan hingga sidang di pengadilan,” ujar Pathor kepada wartawan di kantor Kejari Jatim di Jl A Yani Surabaya, Kamis (27/6/13).

Dikatakan, kejati juga mempertimbangkan Surat Edaran Kejaksaan Agung (SEJA) RI yang disuarakan pendemo agar diterapkan. SEJA mengatur soal penanganan perkara penyalahgunaan narkoba yang mengutamakan proses rehabilitasi.

Terkait ini, Pathor mengatakan ada syarat yang harus terpenuhi seorang pengguna narkoba bisa direhabilitasi. Diantaranya, kasus penyalahgunaan narkoba hasil tangkap tangan, barang bukti tidak lebih dari 1 gram, dan bukan residivis. "Jadi tidak serta-merta bisa direhabilitasi," jelas Pathor.

Pathor berjanji pihaknya akan mengawasi penanganan perkara narkoba harus terus diawasi. Sebab, banyak kasus narkoba menonjol terjadi di Surabaya dan ditangani oleh jaksa Kejati Jatim, yang secara administrasi disidangkan oleh Kejari Tanjung Perak Surabaya dan Kejari Surabaya.

Dalam beberapa tahun ini, Kejari Tanjung Perak Surabaya sering kebagian menangani kasus narkoba menonjol dan jadi polemik. Diantaranya kasus penyalahgunaan narkoba yang melibatkan Jimmy "mekabox" Soetarsa, residivis narkoba empat kali, sejak tahun 2006 hingga 2012.

 Sepanjang diproses dalam empat kali kasus sama, dia selalu mendapatkan perlakuan istimewa, yakni direhabilitasi sejak disidang. Vonisnya juga selalu rehabilitasi di rumah sakit, tapi tak juga jera. (win11/12)

Sumber: http://whatindonews.com/id/post/5063

0 comments :

Posting Komentar