Surabaya (beritajatim.com) - Puluhan orang yang tergabung dalam enam organisasi korban Napza (narkotika, zat adikitif dan obat-obatan terlarang), mendatangi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, Selasa (25/6/2013). Mereka menegaskan statusnya sebagai korban Napza yang tidak seharusnya mendapat hukuman.

Dalam aksi tersebut, massa menyatakan meski menjadi korban, namun mereka masih menjadi korban aparat penegak hukum apabila diproses secara hukum. Selain menjadi mesin ATM oleh aparat penegak hukum, para pecandu ini juga mengaku mendapat kekerasan dan pelecehan seksual saat diproses di kepolisian.


"Kalau laki-laki, pasti mendapat kekerasan fisik, tapi kalau perempuan mendapat pelecehan seksual," ujar Rudi Bedasmara, pembina East Java Action (EJA) yang menjadi wadah enam organisasi tersebut untuk melakukan aksi.

Lebih lanjut Rudi menyatakan, untuk pemerasan, para pecandu narkoba ini selalu dimintai uang minimal Rp 20 juta untuk mendapat vonis Rehabilitasi.

"Kami juga meminta segera diterapkan Surat Edaran Jaksa Agung (SEJA) no SE 002/A/JA/02/2013 yang secara jelas mengatur penempatan pecandu narkoba dalam rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial sesegera mungkin," tambah Abdul Aziz, koordinator EJA. [uci/but]

Sumber: http://www.beritajatim.com/detailnews.php/4/Hukum_&_Kriminal/2013-06-25/175957

0 comments :

Posting Komentar