SURYA.co.id | SURABAYA - Pria yang sudah 10 tahun lebih menjadi pengacara ini mengaku pernah gagal menaklukkan hakim untuk meminta vonvis rehabilitasi bagi kliennya.

Padahal sebenarnya kliennya itu layak menerima rehabilitasi.

Apa penyebabnya? Uang yang menjadi energi pendorong tidak tersedia.

Terdakwa berasal dari keluarga tidak mampu. Jangankan membayar upah membelokkan pasal karet, membiayai keluarganya saja pontang-panting.

“Saya nangani kasus ini setengah prodeo (gratis),” ujar sumber Surya ini.

Majelis hakim lalu memvonis terdakwa miskin itu 4 tahun penjara.

Hakim berkeyakinan, terdakwa bersalah memenuhi unsur pidana pasal 112 (memiliki, menyimpan, menguasasi, dan menyediakan).

Sedang pasal 127 (pengguna) diabaikan.

Pasal 127 memang tidak selalu berakhir vonis masuk panti rehabilitasi.

Pasal ini juga memuat hukuman mulai maksimal 1 tahun hingga maksimal 4 tahun.

Di sinilah letak permainan karetnya.

Putusan bisa dibengkok-bengkokkan untuk mendapat vonis penjara maksimal, penjara di bawah setahun, atau rehabilitasi.

“Ada lho teman (oknum) pengacara yang pasang tarif paket Rp 400 juta,” katanya.

Tarif paket itu maksudnya, tersangka atau keluarga tahu jadi.

Pengacara itu sendiri yang menembakkan uangnya pada penyidik, jaksa, dan hakim.

Paket ‘penyelamatan’ tersangka tidak semuanya berupa vonis rehabilitasi.

Latar belakang tersangka, barang bukti yang ditemukan, dan pasal-pasal yang diterapkan menjadi varibel penghitung.

“Ada paket meringankan hukuman, misalnya dua tahun, di bawah satu tahun, atau delapan bulan.

Jadi, paket-paket perkara di sekitar kami ini memang riil. Kalau mau membuktikan, sebenarnya gampang,” ujarnya.

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2015/01/23/ini-paket-penyelamatan-yang-ditawarkan-dalam-kasus-narkoba

0 comments :

Posting Komentar