Surabayanews.co.id – Para penggiat narkotika menolak eksekusi mati kepada terpidana narkotika. Menurut penggiat aktivis jaringan anti korupsi east java action (EJA), LSM yang fokus pada jaringan napza di wilayah jawa timur, mengatakan bahwa hal ini belum berpengaruh signifikan dalam penurunan angka kejahatan narkotika. 

Ketegasan presiden jokowi perang terhadap narkoba, ditunjukkan dengan mengeksekusi mati terpidana narkoba yang telah dilakukan sejak tahun 2004 lalu hingga 2014, dengan mengeksekusi mati terhadap 13 warga negara asing dan 1 warga negara Indonesia. 

Rudi Sinyo menuturkan pemerintah getol melakukan eksekusi mati terhadap terpidana narkotika. Namun dalam upaya penanganan ke para pecandu pemakai maupun kurir dinilai belum maksimal. 

“Bukan hukuman penjara yang efektif dalam menyadarkan masyarakat akan bahaya narkoba. Namun, kebijakan terapi rehabilitasi serta perawatan yang juga perlu dimaksimalkan oleh pihak pemerintah dalam menekan angka pecandu narkoba,” kata Rudi Sinyo, LSM anti narkoba.

Rudi Sinyo menambahkan selama ini pemerintah dengan mengeksekusi para terpidana narkotika tersebut, sebenarnya malah menjauhkan dari para gembong gembong yang sesungguhnya.

“Karena terpidana yang dieksekusi ini hanyalah para kaki tangan gembong narkotika,” terangnya.

Sehingga, harapannya eksekusi mati harus ditolak dan sebagai gantinya para terpidana ini harus dihukum seberat beratnya atau dihukum seumur hidup. sehingga nantinya alur perdagangan narkotika yang sesungguhnya dapat terdeteksi.

Sumber: http://surabayanews.co.id/2015/02/23/13687/tak-selesaikan-masalah-lsm-menolak-eksekusi-mati-terpidana-narkoba.html

0 comments :

Posting Komentar