Indonesia, 8 Mei 2015

Kepada Band SLANK

Perihal: Tolak Tempat Rehabilitasi Narkoba di Penjara dan SPN

Dengan hormat SLANK,

Kami adalah penggemarmu sejak dahulu kala tapi kami setengah kecewa dengan kampanye yang anda lakukan.

Bim-bim, Kaka, Ivan, Ridho, Abde dan Bunda Ivet kami mendukung kampanye Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba, namun dalam release resmi di website anda dengan judul Tempat Pendaftaran dan Pelaporan Rehabilitasi Narkoba http://slank.com/potlot/tempat-pendaftaran-pelaporan-rehabilitasi-narkoba-gratis/ terdapat pandangan yang keliru mengenai tempat rehabilitasi Narkoba di Penjara dan SPN (Sekolah Polisi Negara).

Kami sangat memahami bahwa anda memperoleh daftar intitusi ini dari Badan Narkotika Nasional (BNN), termasuk andapun bekerjasama dengan intitusi tersebut dalam mendukung kampanye ini. Namun alangkah tepatnya anda menganalisa pula ketepatan kampanye ini terutama tempat rehabilitasi di Penjara dan SPN.

Kita semua mengetahui bahwa di Indonesia permasalahan penjara tiap tahun mendapati persoalan klasik yakni over kapasitas penghuni penjara. Di akhir tahun 2014 tercatat dari 463 UPT Rumah Tahanan dan Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia dihuni 163.404 orang Tahanan dan Narapidana, over kapasitas sebesar 144% dari tempat yang disediakan sebesar 113.266. (Sumber: http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly/year/2014/month/12). Hal ini belum faktor-faktor lainnya, misalnya ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang sangat terbatas.

SLANK dapat menarik kesimpulan, apakah tepat rehabilitasi Narkoba dengan situasi penjara yang over kapasitas dan minim fasilitas?, tentunya sangat-sangat tidak tepat.

Selain itu, tempat rehabilitasi di SPN tentunya ini menjadi kajian oleh semua pihak mengenai rehabilitasi di akademi kepolisian yang erat keterkaitannya berbasis militer. Kita ketahui bahwa rehabilitasi sebagaimana pedoman berbagai pihak yang berasal dari Indonesia bahkan di dunia Internasional tidak menempatkan pendekatan militer untuk pemulihan ketergantungan Narkoba. 

Anda bisa menanyakan ke dokter atau pihak yang merawat anda ketika pulih dari ketergantungan Narkoba dahulu, apakah tepat pemulihan ketergantungan Narkoba dengan pendekatan militer?, tentunya kami duga jawabannya pun tidak.

Sehingga, kami mengajak SLANK untuk dapat berpikir logis dan strategis dalam kampanye gerakan rehabilitasi Narkoba yang merupakan nawa cita presiden NKRI. Gerakan ini dukung oleh semua pihak, “PASTI”. Namun perlu pula kita mencermati apakah strategi yang dilakukan telah relevan dengan situasi dan penanganan kepada korban penyalahguna Narkoba secara tepat.

Dengan demikian keinginannya pemerintah jangan kemudian ditelan mentah-mentah oleh SLANK, kami mengajak SLANK untuk lebih cermat kembali dalam malakukan kampanye gerakan rehabilitasi ini. Kami menginginkan SLANK tetap kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi pada masyarakat di Indonesia dengan mengedepankan kemanusian yang lebih manusia lagi.

Jangan sampai gerakan rehabilitasi ini kemudian menimbulkan persoalan baru, kriminalisasi baru dan pelanggaran HAM yang terjadi pada korban penyalahguna Narkoba. Kami komunitas korban Napza (Narkotika, Psikotropika, Alkohol dan Zat Adiktif) tiap hari telah menghadapi situasi ini dan telah kenyang sekali sebagai kelompok yang tertindas oleh masyarakat dan Negara.

Mari SLANK kita bersama-sama tolak tempat rehabilitasi di Penjara dan SPN, mari kita bersama-sama perbaiki negeri ini dengan pikiran yang lebih jernih dan bijaksana, posisikan diri kita sejajar dengan pemerintah, bahwa rakyat juga punya kuasa atas soluasi dalam menangani persoalan yang terjadi di masyarakat. Mari SLANK!!!.

Hormat kami,
Koordinator Empowerment and Justice Action (EJA)
Ikke Sartika

0 comments :

Posting Komentar