Dogiyai, MAJALAH SELANGKAH -- Komisi Pemberantasan Minuman Keras (KPM) Dogiyai melakukan sosialisasi ke masyarakat sekaligus mendesak pemerintah daerah membuat peraturan daerah (perda) tentang minuman keras (miras) sebagai "pagar api" untuk melindungi masyarakat adat dari ancaman penyakit sosial.

Hal itu disampaikan ketua Komisi Pemberantasan Miras, Anthon Iyowau melalui sambungan selulernya dari Dogiyai, Papua.

Kata dia, para penjual miras di Dogiyai berasal dari para pedagang, sopir truck, angkutan umum bahkan diduga aparat TNI/Polri juga ikut terlibat dalam penjualan miras tersebut, sehingga ada kesan pembiaran beredarnya berbagai jenis minuman keras.

"Selama ini orang Dogiyai lupa dengan budayanya sendiri sampai-sampai kita mengadopsi budaya orang luar yakni mengonsumsi miras hingga lupa budaya kerja, berkebun dan bertani sebagai warisan leluhur kita," ungkapnya kepada majalahselangkah.com belum lama ini.

Menurut Iyowau, didorongnya perda tentang miras melalui sidang sah dan konstitusional diharapkan akan menyelamatkan masyarakat adat Dogiyai dari ancaman penyakit sosial seperti HIV/AIDS yang berujung kehilangan nyawa manusia.

 "Apabila ke depannya ada oknum yang menjual dan mengkonsumsi Miras akan diawasi bersama oleh seluruh elemen termasuk pemerintah daerah. Yang akan terbukti menjual maupun mengkonsumsi miras akan dikenakan denda sesuai peraturan daerah," tegasnya.

Untuk diketahui, sosialisasi tentang miras dilaksanakan di Moanemani pada Selasa (15/6/2015), ibukota kabupaten Dogiyai serta dihadiri oleh berbagai elemen yang berasal dari kepolisian, tokoh agama, kepala distrik, kepala kampung dan masyarakat. (Alfridus Dumupa/Admin/MS)

Sumber: http://majalahselangkah.com/content/lupa-budaya-kpm-dogiyai-desak-pemerintah-buat-perda-miras

0 comments :

Posting Komentar